Karena Ibu Lorentina, ibu guru BK Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kota Bandung, memulai tulisannya dengan judul, Adilkah Hanya Guru yang Disalahkan? – sebuah pertanyaan retorika, saya ingin memulai dengan pikiran singkat: tentu tidak adil! Tidak dimaksudkan sebagai jawaban, karena retorika acapkali sudah mengarahkan penjawabnya pada simpulan tertentu.
Tidak hanya guru, setiap pihak tentu keberatan jika hanya dia yang disalahkan. Ini berlaku umum, namun sebelum salah-menyalahkan, coba dipikir dengan baik: sebenarnya siapa yang menyalahkan semata-mata pada guru? Persoalan di negara kita — hampir semua orang sudah menyadari — memang kompleks, berkelindan. (Kendati sangat mungkin penduduk negara lain juga akan menyebut seperti itu terhadap persoalan di negara mereka, jadi bukan istimewa juga sebenarnya.) Justru karena dalam kehidupan ini terdapat banyak faktor yang saling mempengaruhi, kita harus memilah, mengurai bagian atau sub-bagian yang diselesaikan terlebih dulu. Dalam ungkapan yang lebih umum: meletakkan sesuatu secara proporsional.
Keberatan terhadap penangkapan guru-guru karena kecurangan mereka dalam pelaksanaan ujian nasional jika diperluas hingga kondisi pendidikan di Indonesia yang karut-marut, serba tidak-lengkap, tidak ayal hanya akan melumpuhkan niat kita membenahi di atas dan di bawah. Yang berwenang menentukan kesalahan mereka nanti di pengadilan (jika kasus tersebut diproses hingga jauh), namun pada proses sekarang ini seharusnya kita semua bersikap bertanggung jawab, terbuka, dan inilah pendidikan itu sendiri.
Kita perlu berani mengatakan bahwa sekalipun mereka terdorong oleh “bisikan hati nurani” menolong siswa dari ketidakadilan sistem pendidikan: apakah memang seperti itu cara menolong siswa? Barangkali jika saya tuntut bapak/ibu guru untuk tegas menolak cara-cara tak terpuji itu saya dianggap membebani lagi, oke… kita – orang tua dan guru — marilah bersepakat akan sebuah pendidikan yang mengedepankan kemanusiaan, menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan itu sendiri.
Ibu Lorentina tidak perlu berkecil harapan bahwa guru tidak dianggap jika anak didiknya berhasil, namun dijadikan kambing hitam jika anak didik gagal. Siapa sih yang masih beranggapan seperti itu sekarang ini? (hare geneee…) Kalaupun memang ada ungkapan tak-benar seperti itu, mengapa tidak kita kembalikan urusan mulia kepada Pembalas Jasa yang tidak terkira, Allah SWT?
Marilah kita sibukkan dengan urusan melayani orang lain, berbuat baik, dan menyediakan manfaat bagi sesama. Dalam hal pendidikan kepada tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu kemajuan untuk anak didik. Insya Allah limpahan rahmat dari Allah (termasuk rezeki pihak-pihak di dalamnya) akan mencukupi kehidupan kita. Amin.
Saya sendiri pernah menjadi guru kursus komputer, dibesarkan di keluarga guru dan pengurus sekolah, dan kenal banyak guru. Saya tidak ingin kita membela sesuatu hanya karena kesamaan nasib atau profesi; demikian juga tidak perlu membesar-besarkan kondisi yang dianggap buruk terkait dengan profesi kita. Jika kita mudah bersyukur, insya Allah akan lapang jalan hidup kita; dan sebaliknya.
Popularity: 16% [?]



Ikhlasul Amal said…
“…….Saya tidak ingin kita membela sesuatu hanya karena kesamaan nasib atau profesi; demikian juga tidak perlu membesar-besarkan kondisi yang dianggap buruk terkait dengan profesi kita. Jika kita mudah bersyukur, insya Allah akan lapang jalan hidup kita; dan sebaliknya.”
absolutely Right……
kadang rasa satu korps yang kuat “L esprit de corps ” bisa memajalkan rasa kedailan dan hati nurani…..
sebagai contoh ….jika orang terdekat dari kita sodara ato sahabat melakukan kesalahan yang kalo dilakukan orang lain bisa bikin kita ngamuk…tapi karna dia sodara…kita tutup mata dan kadang malah bela-belain…..dan jika sikap itu muncuil…apologi kita adalah suatu hal yang manusiawi….tapi tetap aja salah…..
aku juga sama …..
sebagai anggota Bonex Cyber…kadang terasa sakit dan marah melihat sikap brutal sesama pecinta Persebaya….misalnya melakukan kerusuhan di Stadion kayak kasus ASU EMPER …Amuk Suporter Empat september…di Stadion Tambaksari…ketika Persebaya dikalahkan AREMA……mereka membakar fasilitas stadion plus satu mobil siaran ANTV…sikap yang gak terpuji…..
tapi perasaan itu tidaklah semarah sebenci ..jika melihat Amuk suporter “lain” kayak AREMANIA di Kediri…ato JAKMANIA di GBK Senayan…..segala macam sumpah serapah terlontar untuk mereka dengan kadar 10 kali lebih nista dibandingkan sumpah serapah saat Bonex bikin rusuh…..
manusiawikah?….gak juga….berarti aku yang belum dewasa….
Sama dengan kasus Guru yang diangkat cak Amal….jangan karena sesama guru lalu membabi buta membela kawan yang jelas-jelas berbuat salah….
karena di dalam korps guru sendiri banyak yang masih melakukan hal-hal yang gak sepatutnya dilakukan guru….
ingat tulisan Zilfana soal tingkah polah guru SMA 1 saat menaikkan dan mempertanggungjawabkan uang POMMG??/
guru juga bikin kita bangga dengan prilaku muliannya…ingat Bu Muslimah di Belitung, ato guru-guru di pedalaman Borneo sana…..
sampai saat ini aku masih ..belajar banyak untuk bersikap arif dan dewasa…..minimal mengekor kedewasaan cak amal dalam menyikapi hal-hal yang kontroversial di republik ini….
omong-omong Corat moretnya dah diupdate belum Cak Amal…
hasta La victoria siempre
@Ekoz
di jawapos 2 hari yang lalu ada berita kalau Cut Mini jadi pemeran bu Muslimah di film Laskar Pelangi. Saking happy dan terharunya, dia sampai nangis termehek-mehek saat press conference . Kayaknya si Sandra Dewi cocok deh kalau jadi pemeran cem-cemane si Ikal (sopo jenenge? lali aku Koz) secara dia kan asli pulau Belitong, rising star lagi
@ bos Amal:
Gimana caranya tuh….posting gambar di tulisan sampiyan? Tak iye……..
Kamerad Ekoz: sama-sama, saya juga masih belajar. Membicarakan urusan sosial kan bukan sesuatu yang sekali putus jadi, melainkan proses yang berkelanjutan. Dinikmati saja dan disyukuri. Weh, jadi seperti orasi.
Paklik Bambang: tampilan foto di atas menggunakan foto yang tersedia di Flickr, karena saya aktif bermain di sana, jadi dipakai saja. Untuk gambar yang dipasang langsung di WordPress, sila klik bagian Media di atas kotak tempat kita menulis artikel.
For Sevi….
oh iya…ya Cut Mini jadi bu Muslimah adalah pilihan yang sangat tepat…
Sandra Dewi as A Ling …ah bisa bikin Si Andrea Hirata melambung mabuk kepayang…sampai saat ini aku suka dengan gaya anak Belitong itu (Sandra Dewi) gak macem-macem…persis kayak kembaranya Dian sastrowardoyo…smart,cute and awesome…Indonesian Sweetheart ..he..he..he…
Bos Amal …
Gak semua orang yang mau terlibat sama urusan sosial..karena yang menggerakkan adalah rasa peduli..saat ini rasa peduli itu lagi jadi barang mahal ..he..he.he..
For All….
Kemaren di Koran TEMPO Minggu 25 Mei 2008 tepatnya di Halaman 19 ..ada sebuah tulisan yang bagus..kontemplatif,,,dan yang terpenting ditulis oleh alumni SMAN 1 Jember …candidate Doctor Firman Kurniawan arek depan Lapangan bal-balan Armen bon Sari…..
dibaca..dan dikomentari…semoga jadi kayak alumni kita yang lain ..Nirwan Dewanto yang sudah disejajarkan ama Goenawan Moehammad..he..he..he.. (orasi dia masuk dalam 100 teks paling monumental di Indonesia versi Majalah TEMPO minggu kemaren…)
jadi iri nih..he..he..he….
jenenge ling2 yo Sev…he, aku yo lali
ketoke si ikal bakal ketemu dem demane di maryama Karpov yang belum jua nongol yo… padahal wis gregetan benget setelah membayangkan tingkah ikal bar nonton film yang terus ke ciduk pake gaya yang kebayang lah untuk anak dusun, lantas dengan semangatnya mengelilingi belahan bumi yang lain untuk kepastian hati sampe dadi putri duyung yang ehm ehm…