Dua tahun sudah bencana itu…

28 Mei 2008

Hari ini tepat dua tahun semburan lumpur di Sidoarjo terjadi. Sudah banyak cerita duka, kepedihan, air mata, benci, amarah dan luka yang tertoreh dalam di hati warga Porong khususnya. Aku tak hendak mengajak itu semua, pun tak ingin membagi duka dan amarah. Biarlah semua yang sudah terjadi, karena waktu takkan berhenti dan juga tak mundur lagi. Kehidupan dan harapan yang lebih baik harus dimulai dari sekarang, sekalipun tampaknya harapan itu hanya setitik saja, tapi Sang Pencipta lebih tahu apa yang terbaik buat warga Porong.

Hari Jumat lalu, tanpa rencana sebelumnya aku meluncur begitu saja ke daerah lumpur di Porong. Sekedar ingin mendokumentasikan keadaan setelah 2 tahun lumpur mengoyak tanah Porong. Tidak ada maksud apapun, barangkali suatu saat anak cucu kita bisa melihat kondisi wilayah Porong yang sekarang. Karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Foto-foto yang aku ambil bisa disimak disini :

http://flickr.com/photos/sevidiana/

Selamat menikmati, salam hangat buat semuanya

27 thoughts on “Dua tahun sudah bencana itu…”

  1. rumahku masih 15 km dari lokasi bencana. Semoga gak ada apa-apa, tapi kalo kepepet ya aku ikut ojobku ae mas kemana dia membawaku pergi.

  2. Sedih sekali lihat foto-foto di sekitar daerah Lumpur. Perasaan lainnya kayaknya sudah tertuang di tulisan Sevi. Dr teman ada info besok Jatam (Jatam.org) akan adakan solidaritas korban Lapindo dg berpakaian putih.

    Spt biasa, foto-fotonya bagus sekali. Aku juga lihat foto sepatu buatan Tata yang laku keras itu. Mudah-mudahan kami bisa dpt diskon nanti:)

  3. Jawaban pertanyaan Sevi tentang menampilkan foto dari Flickr di blog ini:

    1. Pilih foto yang akan ditampilkan;
    2. klik All Size (tombol di atas foto);
    3. Pilih Small di Available Size;
    4. Sorot kotak teks di bagian Copy and paste this HTML into your webpage:, Copy dan Paste ke sini. Lakukan pratilik (preview) terlebih dulu untuk melihat tampilannya.
  4. Tambahan (maaf, tadi terlupa): untuk set tentu tidak dapat ditampilkan sebagai foto di sini, jadi hanya URL-nya.

    Sekian, terima kasih.

    Tentang harapan: saya tetap yakin harapan setiap orang sudah proporsional sesuai usahanya dan ketetapan Allah. Formulasinya seperti apa? Tentu kompleks, karena tugas kita bukan mengetahui semua rahasia-Nya, melainkan menjalankan amanahnya. 😉

  5. For Sevi…. saya satu jiwa denganmu….gak bisa berkata-kata lagi…. Ribuan ahli geologi,tambang,dsb…kayaknya dah ada di Republik Ini..entah lulusan lokal ato lulusan mancanegara….. tapi gak mampu juga …sekadar meringankan beban Rahayat Porong ….. (brrarti mereka ..gak pakar-pakar amat gitu…..)

    For all….. mari kita berdoa,…..untuk sedulur kita di Porong itu ….

  6. Ya Sevi..tiap kali melintasinya walau kesempatanku 1 tahun sekali pas pulkamp…tapi serasa miris juga, aku pernah juga melintasi by kereta…wah!!! nyata nian, sempat muncul di pikiran apa jadinya pas kereta melintas terus tanggulnya jebol…masyaAllah ngeri nian mbayangkannya…bagaiman pula peraaan mereka yang harus kehilangan harat milik dan mata pencahariannya…

    Suamiku juga dari sidoarjo..di dekat alun2 sidoarjo sih, masih cukup jauh…tapi bau yang dibawa angin dari daerah lumpur sudah menjadi polusi tersendiri

    Aku yakin, semua ada hikmahnya dan Alllh pasti punya rencana dari semua ini..semoga mereka semua di beri ketabahan dan jalan untuk keluar dari masalah yang mereka hadapi

  7. Ya Sevi..tiap kali melintasinya walau kesempatanku 1 tahun sekali pas pulkamp…tapi serasa miris juga, aku pernah juga melintasi by kereta…wah!!! nyata nian, sempat muncul di pikiran apa jadinya pas kereta melintas terus tanggulnya jebol…masyaAllah ngeri nian mbayangkannya…bagaiman pula peraaan mereka yang harus kehilangan harat milik dan mata pencahariannya…

    Suamiku juga dari sidoarjo..di dekat alun2 sidoarjo sih, masih cukup jauh…tapi bau yang dibawa angin dari daerah lumpur sudah menjadi polusi tersendiri

    Aku yakin, semua ada hikmahnya dan Allah pasti punya rencana dari semua ini..semoga mereka semua di beri ketabahan dan jalan untuk keluar dari masalah yang mereka hadapi

  8. Ekoz: terus yang disebut pakar atau ahli seharusnya bagaimana? 🙂

    Ada saatnya kita mengerahkan semua kemampuan teknis kita, namun ada masanya pula kita mengganti dengan solusi lain yang bukan teknis (misalnya kebijakan, manajemen). Termasuk misalnya keputusan bahwa secara teknis hal itu tidak dapat diatasi, itu juga solusi.

    Di beberapa bencana lingkungan lain (yang lebih jelas-jelas akibat ulah manusia), seperti Minamata di Jepang atau Bhopal di India, akhirnya diselesaikan di luar jalur teknis, baik berupa kompensasi terhadap korban dan keluarganya dan juga aksi bersama (class action) oleh warga.

    Saya pernah mengobrol dengan teman yang mengerti Geologi (tapi tidak berarti mengerti dengan lengkap tentang bencana lumpur di Porong tersebut), kelihatannya memang bukan lagi solusi teknis menyumbat semburan itu, melainkan mending membuat "kehidupan baru" lagi untuk para korban di tempat lain. Toh kalau pun semburan tersebut berhasil dihentikan, tetap perlu ongkos untuk pemulihan kehidupan di atasnya agar seperti sedia kala.

    Intinya: biarkan saja dia menyembur sampai berhenti, sekarang lebih penting menyediakan lahan baru dengan infrastruktur di atasnya untuk masyarakat yang menjadi korban. Dibicarakan baik-baik dan kita kenang bencana tersebut sebagai salah satu malapetaka ulah manusia untuk dijadikan pelajaran.

    Saya maklum kita semua tentu tidak suka dengan bencana yang terjadi, namun mari lebih baik kita lihat harapan untuk esok. 🙂

    Catatan: saya hanya warga biasa, bukan ahli untuk urusan ini, bahkan melihat musibah ini pun dari jauh. Gambar keheningan dan permenungan akan musibah lebih menggugah hati saya; sehingga mudah-mudahan barakah Allah senantiasa turun kepada mereka yang saat lapang mudah bersyukur dan saat sulit gampang bersabar. Amin.

  9. For Cak Amal… terus terang saja….beberapa ulasan yang agak lengkap tentang bencana Lapindo itu sebenarnya telah beberapa kali saya baca entah via majalah TEMPO,Koran Kompas dll….dan internet…. tentu kita ingat…saat beberapa pakar berijtihat untuk memasukkan bola bola beton beranaeka ukuran untuk kemudian dirante….dan diikhtiarkan bisa menahan bahkan menghentikan semburan lewat teori Mekanika Fluida?..ah..gak ngerti aku lha wong Fisikaku entuk 6 saja kok….

    Ato ada yang usul bikin corong setinggi 150 meter dari beton…jadi bentuknya kayak Tanur Nuklir itu…dgn teori…jika sampai setinggi itu maka gaya gravitasi bu,i akan menolong melawan kekuatan semburan..bahkan nantinya disekitar Tanur yang akan menyerupai gunung beton tadi akan ditata sehingga akan jadi vulkanologi yang cantik…sekali lagi..itu pakek ijtihad Teknik…

    tapi yang suka dari pendapat sampeyan soal kompensasi dan pendekatan ekonomis sosiologis…itu kayaknya yang paling kenak pada saat ini….

    Namun yang sampai saat ini yang belum ada solusinya adalah gani rugi terhadap pabrik/industri yang ikut terkubur bersama ratusan rumah penduduk …..mereka belum dapat ganti rugi…padahal nilai investasi mereka jka digabung akan bernilai trilyunan rupiah…termasuk diantaranya beberapa debitur kami….padahal jika solusi terhadap para indusrtriawan ini diberikan maka pabrik mereka bisa jalan lagi..order-order yang mangkrak dari LN bisa dieksekusi…dan yan terpenting..penduduk sekitar bisa bekerja lagi….

    jadi ternyata definisi pakar itu jadi sulit diartikan juga ya?…he..he..he…

    Hasta La Victoria Siempre !!!!!!!!!!

  10. Betul. Saya juga mengikuti berita tersebut, sekalipun tidak intensif. Memang terlihat juga berita yang lebih condong ke arah solusi teknis dan ilmiah (dapat ditelisik metode ilmiahnya) atau sekadar sains (apalagi sekadar mistik, lebih parah). Sains dan teknologi kan juga berbeda. Yang pertama sudah terbukti di laboratorium dan kertas, yang kedua dihadapkan pada kondisi di lapangan yang tidak mudah lagi.

    Sama sajalah dengan solusi sosial-ekonomi yang dibawa ke sana. Di atas kertas tinggal hitung jumlah penduduk yang perlu diberi makan siang misalnya, dikalikan dengan ongkos pembuatan makanan plus akomodasi dkk. dapat angka. Namun di lapangan kan ada saja tambahan persoalan: hanya beda satu jam makanan datang, sudah ada ongkos sosial tambahan air putih untuk menunggu. (Itu jika hanya ongkos minum, yang terjadi hingga ongkos preman dan politik segala!)

    Saya juga tidak tahu apakah para pengambil kebijakan teknis masih ingin melanjutkan usaha menyumbat atau yang dikerjakan sekarang sebenarnya sekunder. Misalnya saja primernya adalah merelokasi penduduk dan mengganti ongkos sosialnya. Toh yang kita bicarakan di sini hanya satu titik kecil dalam putaran diskusi panjang pengambil keputusan.

    Oke, misalnya pun sekarang kita pindahkan diskusi ke solusi sosial-ekonomis. Pertama, memang soal jumlah duitnya yang besar. Lah sampeyan sendiri menyebut trilyunan Rupiah. Duit siapa itu? Ini bukan pertanyaan skeptis, melainkan: jika memang ditanggung Lapindo dkk. ya seharusnya dikejar agar mereka yang membayar (itu yang di komentar sebelumnya disebut class action); tujuannya supaya kita tidak menekan para ahli terus-menerus, yang memang sudah sulit memberikan solusi teknis. Terus jika duit pemerintah, memangnya ada?

    Soalnya saya acapkali melihat diskusi tentang bencana di Porong ini masih mempertanyakan soal teknis. Akibatnya terus berputar-putar kusut tak karuan, tidak menyelesaikan masalah.

    Di sisi lain, liputan mengenang bencana juga terkadang masih terlalu kental aroma romantismenya, misalnya sampai ditunjukkan kepedihan tentang rumah yang tenggelam, kuburan yang akan ditinggal. Betul, romantisme baik untuk melihat sisi halus kemanusiaan kita, tapi masak sampai urusan kuburan rek? Sependek yang saya tahu di dalam Islam pun, kuburan itu tidak untuk dikenang berlebihan; ia hanya bagian dari sebuah prosesi untuk menghormati jenasah, titik.

    Usul saya: lebih baik kita sekarang "menggarap" yang berhasil diselamatkan, yaitu kelompok manusia itu sendiri. Mudahkan urusan mereka, bantu semampu kita, termasuk seperti saya yang hanya sanggup mendoakan lewat tulisan. Kita beri motivasi akan kehidupan yang lebih baik dan tidak selalu di sana. Itu lebih menarik bagi saya, walau saya bukan aktivis lapangan di sana.

  11. @Bude Sevi Kan tiap anggota blog ini punya peran masing-masing, ada yang bagian serius, ada yang bagian sangat serius, ada bagian kurang serius, ada yang bagian tidak serius (karo ngacungno tangan..). Dengan demikian warna blog kita dadi tambah semarak. Jadi gak usah dihalang-halangi yang mau ngobrol serius disini..he..he.. Sing penting gak pake acara cakar-cakaran koyok ning TV-TV… (Gak wani komentar, bagianku sing gak serius wae….)

  12. dik sevi, aku juga tinggal di sidoarjo, tepatnya di jln raya porong prambon kec krembung, 9 km dari porong ke arah barat.Kalau boleh tau dr sevi tinggal di sdarjo mana ya? kalo aku pas ke kota boleh mampir? Tentang lumpur itu, sangat mrngharukan, byk teman2ku dan juga keluarga suami yag jadi korban. Sekarang di Krembung jadi tempat pengungsian, byk rumah2 baru. sehingga harga tanah jadi mahal.

  13. @sungkawaningsih aku tinggal di Buduran mbak, kalau pas ke kota mampir saja di klinikku, belakang McD Sidoarjo, nanti ketemu namaku disitu, mampir saja deh.

  14. @Dhek Sevi, beberapa bulan lalu aku pernah ngantar expatriat kantorku dari China ninjau lumpur lapindo, karena ada jaminan yang relatif dekat dari lumpur. Awalnya teman expatriatku itu semangat banget lihat lumpur. Tapi begitu kami naik dan lihat dari dekat dia grogi dan takut banget. Beda dengan aku yang justru nggak ingin menyia nyiakan kesempatan langka itu untuk semakin dekat dengan semburan lumpurnya. Awalnya dia menolak waktu tak ajak naik ojek untuk lebih ke dalam lagi. Tapi akhirnya setuju dengan rayuanku, atau mungkin karena malu juga lihat aku yang cewek aja gak kelihatan takut (maklum alumnus Sispena he3). Ada rasa takut juga sebenarnya karena hawa super panas begitu cepat terasa, hati sempat teriris melihat rumah2 yang tertimbun lumpur dan kebinasaan alam yang luar biasa. Semoga saja orang2 yang kehilangan rumah, sawah dan kampung halamannya itu, diberikan kekuatan lahir dan batin. Semoga tragedi ini hanya sampai disitu tidak menyebar kemana-mana lagi apalagi ke Sidoarjo kota. Amin. @Mbak ning, kapan2 kita janjian ketemuan di Sidoarjo asyik juga loh. dari pada aku gak sampai2 ke rumahmu dan mbak ning gak sampai2 ke rumahku di Surabaya. he3.

  15. @mbak Wid, mbak Ning Yok opo lek ktemuan pisan karo aku. Ngumpul di klinikku ae, gampang n cedhak lek arep ktemuan karo nakam2. Ayo tak tunggu kabare 🙂

  16. @Dhek sevi iki lek gak salah jenenge "pucuk dicita, ulam tiba" he3. Thanks banget sebelumnya.

  17. duhhhh…ibu-ibu aktivis blog chapter Sidoarjo ..malah dah mau bikin arisan nih,…… ojok lali di foto yo bu Dokter….. biar tahuk satu persatu warga sini..he..he..he

  18. oke deh, aku setuju. enake hari apa ya tri? dik sevi apa tiap hari dan tiap jam di klinik? padahal tgl 18 mei lalu aku ada acr di gor delta. eh….. si eko jangan iri ya… Kita manfaatkan event ini biar dekat ama wiwid aku udah 11 th gak ketemu lhooooo…….

  19. @Mbak ningsih, enak e yo sabtu atau minggu, khan libur, jadi ketemunya bisa agak lamaan. he3. Cuman mungkin kliniknya dhek dokter sevi libur juga kali ya. Tapi ya gak masalah khan dhek sevinya bisa buka kliniknya special buat kita ketemuan ha3 (kakak kelasnya nglamak) atau kita bisa ketemuan di tempat lain (no problem) ntar dhek sevi kita undang juga biar fotonya jadinya bagus2 hi3. Ok, kalau dah nemu waktu longgar hubungi HP ku ya. Ntar kita calling dhek evi juga. Kok yo gak enak kalau OOT disini. he3

  20. Jadi pemenang arisan kali ini adalah….. Bu Dhe Sevi…. jian tenan nek wis ketemu dunia rasanya milik ber-3. Tapi gak opo-opo kok, dadi melu seneng akeh sing iso reunian… Selamat bereunian deh

  21. @mbak wid, mbak ning Gampang mbak ntar waktune di atur lg ya, via japri aja. Dandan habis2an mbak ntar kalo mau foto2 biar bagus. Foto2 di Pakuwon atau citra raya? 😀 (Narsis mode: ON)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *