Ketika zamannya media televisi di negeri ini masih dikuasai oleh hanya satu stasiun televisi milik pemerintah, yang disebut TVRI, yang jam siarnya hanya dari sore jam lima hingga jam 12 malam sementara era global informatika dengan internetnya belum menyentuh pergaulan sosial manusia Indonesia, bermain dengan tetangga menjadi menu hiburan utama. Bayangkan betapa sedikitnya pilihan alternatif hiburan yang tersaji, dunia musikpun belum berkembang sehebat masa kini. Maka, bermain rame-rame di malam hari kala acara tv yang berisi lebih banyak doktrinasi kebijakan pemerintah penguasa yang dijamin membosankan menjadi pilihan yang menyenangkan. Inilah sebagian lirik lagu yang sebagian di antaranya seringkali dimodifikasi menjadi lirik yang jorok alias cabul ‘gak karuan’. Tetapi apapun itu, ini adalah bagian dari kreativitas manusia Pagah & Jember di Jawa juga… Inilah beberapa lagu itu:
- Mbok Sarijem (…) Dolanan dakon (…) Cacahe pitu(…), Menange songo(…). Nah, titik-titik di dalam kurung ini harusnya berisi satu suku kata lagi, yang jika disambung dengan suku kata di depannya, maknanya menjadi ‘Gak Karuan SALBUT’.
- Isuk-isuk njangan asem ayo sem
Semar mendem, ayo ndem
Ndemok silit…. gudiken, ayo ken
Kendi dobol, ayo bol
Bole pitik kleleran, ayo ran
Rante kapal, ayo pal
Palang Merah PPO, ayo o
Opil garing…… - Jooouuummmmprit….!
Peline cino kecepit! - O… Ka Ka O…
Perang Karo Jepang,
Jepang mati kelepang, Mas Bambang karo Mbak Endang.
Mbak Endang duwe adik,
Dilungguhno dingklik,
Tibo jungkir walik,
Udele dicucuk pitik. - Dur Salidur,
‘de mantri mangan bubur,
lek gak entek digowo mabur.
Popularity: 28% [?]
