Kemarin saya melongok ke forum tetangga sebelah. Yang sedang diomongkan adalah booming band-band sekarang. Sebut saja nama Matta, Peterpan, Drive, Kangen Band, Pilot, Kapten, Vagetos, D’Masiv, Letto dan masih segudang nama lagi yang nggak bisa saya ingat, karena saya nggak punya albumnya dan nggak tertarik untuk mendengarkan lagunya.
Tahun 80-an dulu, kita semua ingat saat JK Records begitu berjaya dengan sederet wanita cantik sebagai artisnya. Mengusung lagu bertema cinta yang mendayu, merupakan senjata utama yang terbukti laris manis dibeli oleh konsumen musik kala itu. Bila diwawancara, para artis ini jujur mengakui bahwa lagunya melankolis dan cengeng, karena aransemen musik yang mengiringi mereka tidaklah se-kompleks musik sekarang.Tapi kepolosan dan kejujuran ini, membuat orang yang tidak suka dengan lagu-2 cengeng, juga memberi pengakuan tentang eksistensi musik dari artis-2 JK Records ini. Selain JK Records, janganlah dilupakan peran Rinto Harahap yang dengan gigih membawa panji-panji Lollipop. Meskipun diserang bahkan dicerca karya-2-nya, tapi Bang Rinto berani terus melaju dengan lagu-2-nya.
Memang, di masa-2 itu, agak susah untuk mendapatkan produser yang mau merekam dan mengedarkan album-2 lagu yang terbilang idealis. Kurangnya dukungan skill sound mixer di studio rekaman, membuat kualitas rekaman di Indonesia seperti tidak berkembang. Saya sering membandingkan, meski cuma membayangkan, tentang teknologi rekaman tahun 70-an dan 80-an ini. Anggap saja teknologi yang dipunyai studio-2 musik 80-an itu sama dengan studio musik di luar negeri tahun 65 – 70-an, ternyata mutu rekaman yang dihasilkan tidak bisa optimal. Karena saya ini penggemar musik Rock, otomatis yang jadi ukuran adalah suara gitar , keyboard dan gebukan drum. Ketiga instrumen ini yang dominan mewarnai sebuah lagu rock.
Rekaman tahun 80-an, apa pun lagunya, sentuhan sound mixer-nya masih mengacu pada sentuhan pop. Vokal penyanyi paling ditonjolkan, sementara instrumen lain ditampilkan dengan suara lamat-2 atau malu.. Pokoknya nggak boleh melebihi level suara Vokalisnya. Bagi yang punya kaset Nicky Astria-Jarum Neraka dan Tangan-tangan Setan, God Bless-Semut-Cermin dan Semut Hitam, SAS-Sirkuit dan sebangsanya, tentu merasakan bahwa lagu-2 rock direkam tidak terasa sangar dan menggempur. Suara gitarnya melempem dan mendhelep, Drum-nya berbunyi nanggung.. masih lebih mantap rekaman Kendhang Kempul..
Seiring berjalannya waktu, musik Indonesia akhirnya semakin membaik baik kualitas maupun kuantitasnya. Rekaman Rock yang saya anggap punya standar Internasional dalam hal olah suaranya adalah Album “Jabrik”-nya Edane.. simak deh. Edane betul-2 eddaaannn.. Perbaikan kualitas ini merata di berbagai jenis musik, nggak cuma rock. Saat ini saya bilang, mutu rekaman lagu lokal sudah berani bersaing di level regional atau pun internasional. Lagu-2 lokal bakal meledak atau tidak, selanjutnya lebih tergantung dari kemampuan manajemen artis untuk mengelolanya.
Lalu apa kaitan intro tulisan ini dengan paragaraf lanjutannya ? Sekarang sudah Jaman Reformasi, dimana kebebasan Hak Azasi begitu dikedepankan, bahkan terkesan tidak lagi peduli dengan hak azasi orang lain. Mengacu pada kebebasannya orang-2 di barat sana, yang kadang dipahami secara mentah oleh orang-2 kita, membuat orang ingin menonjolkan diri ” It’s me.. Ini saya dan ini musik saya. Musik saya adalah musik saya, bukan musik seperti si A, si B dan si C…”
Nah band-2 kini sering malu-2 kucing untuk mengakui bahwa mereka ini sebenarnya band-2 cengeng seperti artis-2 era JK Records tadi. Hampir sama dan sebangun dalam pilihan rasa dan tema lagu. Kalau ditanya, kebanyakan akan ngakoni kalau musiknya itu ” Pop Rock ” atau ” Musik kami, ya musik kami.. ”
Yang meresahkan buat saya, banyak lagu-2 mereka yang seperti tema melegalkan “Selingkuh”. Cerita cinta antara pria dan wanita, dimana si Pria ternyata masih menaruh hati pada wanita selain pasangannya atau pun sebaliknya.. begitu umum untuk kita temui. Meski saya nggak bisa nyebut satu persatu, coba anda simak (bila sempat).. Mungkin satu ayng bisa saya sebut lagunya Astrid ” Jadikan aku yang kedua.. ” atau Achmad Dhani dengan cuplikan lirik ” skali lagi maafkanlah aku, karena cinta kau dan dia.. “.. Saya tak hendak ngomong tentang poligami lho, tapi bila direnungkan.. Cinta terkesan jadi satu hal yang main-2 dan jauh dari tanggung jawab..
..ahh, pusiingg….
Popularity: 25% [?]
