Nakalnya ABG, arhhh

March 27th, 2008 by surya Leave a reply »

Beberapa minggu lalu, rumah kami kebobolan maling. Si pencuri beraksi di siang hari, masuk dari halaman belakang lalu, memecah kaca jendela toilet. Beberapa benda hilang. Berapa bulan lalu, tetangga sebelah juga dibobol maling. Lewat modus yg sama. Katanya, kebanyakan maling di sini adalah anak-anak ABG nakal, yang mulai ketergantungan sama obat-obatan, minuman dan sejenisnya. Karena hidup yang cukup susah, biaya hidup yg pas-pasan, membuat beberapa anak –anak ABG yg ketergantungan ini mencuri milik tetangganya. Ya, sudahlah saya ikhlas. Merenung kejadian ini, saya teringat waktu masa – masa ABG saya. Lulus dari SMPN favorit di kota Jember. (semoga saudara Eko mengakui kehebatan SMP kami). Masuk ke SMAN 1 Jember, yang katanya favorit juga. Mulai merasa apa itu arti „perbedaan“. Berasal dari keluarga menengah ke bawah, saya dapat uang saku yang cukup untuk naik bus kota dari jompo ke sumbersari. Jadi kalau mau makan bakso atau apa di warung SMA jember, ya pulangnya mesti jalan kaki atau buka celengan. Yang saya ingat, saya sering pulang sekolah jalan kaki, uang busnya ditabung.

“Perbedaan”: waktu smp yg naik sepeda motor bisa dihitung dengan mudah. Sedangkan waktu SMA, jelas beda banget, halaman belakang sekolah penuh dengan sepeda motor. Teman-teman sudah banyak „gandengannya“, berkat sepeda motor. Saya tidak mengeneralisasi, kalau kaum hawa adalah kaum yang materialistis loh. Cuma dari pemantauan saya yang sempit ini, banyak yang gampang dapat gandengan berkat sepeda motor. Dengan sepeda motor, bisa hunting ke gladak kembar, kebonsari, talangsari dll dengan cepat. Bahkan ada yang masih ingat, jenis-jenis sepeda motor temannya.

“Perbedaan”: ada juga yang bisa ikutan kegiatan ekstrakurikuler, misalnya pencinta alam. Untuk kaum kelas bawah, biaya sekolah aja susah, boro-boro mau bilang ikutan pencinta alam, nanti nambah biaya lagi.Meskipun berbeda, saya tetap bahagia, masih ada beberapa teman yang minim fasilitas, bahkan mungkin lebih minim lagi. Suatu hari saya dimarahi orang tua, karena ketahuan saya dan beberapa teman mengamen di kampung orang lain. Kebetulan saya bisa bermain guitar, pas malam minggu, lidah lagi sepet (alias ora ono duit buat tuku rokok), teman saya punya ide untuk ngamen. Semenjak itu, guitar saya tidak boleh keluar rumah.

“Perbedaan“ ini akan menjadi awal kehancuran atau kemenangan buat orang yang fasilitasnya terbatas. Orang yang mengalami „perbedaan“ bisa mengakhiri dengan kegiatan kriminal. Atau bisa juga „perbedaan“ menjadi semangat untuk berkarya.

Surya D. Pandita

(lagi liburan, tapi tetap diminta untuk kerja)

Popularity: 44% [?]

Advertisement

Leave a Reply