Kematian yang sia-sia…

13 March 2008 by ivan Alumni, Cerita-cerita Enteng

Dua hari yang lalu (Selasa 11 Maret 2008) di harian Kompas ada berita yang menyebutkan 35 orang telah tewas akibat kecelakaan lalu lintas di DKI (atau Jabotabek) akibat adanya lubang-lubang di jalanan.. belum lagi bicara tentang ratusan orang cedera.. (sorry gak dapat link-nya).. terus tempo hari ada truk container terbalik..dan banyak lagi yang semua bermuara dari lebih banyaknya lubang daripada jalan benernya.. lebih ironis lagi di berita Kompas Rabu 12 Maret, pendapatan DKI dari pajak kendaraan ini mencapai Rp 4,58 trilyun.. yak, bener TRILYUN.. itu duit semua lho, gak ada yang daun..hehehe..

Kalau ditelaah lebih dalam lagi sebenarnya angka-angka tersebut bukan sekedar angka statistik yang mati. Saya melihat ada potensi bangsa yang dirugikan disini akibat adanya pembiaran lubang-lubang berdiri menganga oleh pemerintah (pusat ataupun pemda).. saya tidak kenal satupun yang meninggal.. bagi yang ditinggalkan, bila yang meninggal adalah pencari nafkah utama (ayah), bisa dipastikan sang ibu pasti terpontal-pontal mencari nafkah untuk anak-anaknya..untuk biaya sehari-hari, biaya sekolah dll.. bisa jadi sang anak terputus sekolahnya karena kekurangan biaya.

Kembali ke potensi bangsa tadi. Maksud saya adalah, bagaimana jika seandainya kecelakaan tidak terjadi.. untuk skala yang lebih kecil, tingkat keluarga.. maka pemasukan keluarga akan tetap lancar, biaya sehari-hari tertutupi,anak-anak bisa sekolah setinggi mungkin. Untuk skala yang lebih besar, bangsa dan negara..bagaimana seandainya.. satu saja diantara korban yang tewas itu sebenarnya orang yang pintar dibidangnya.. taruhlah misalnya peneliti dibidang obat-obatan.. yang sebenarnya dibenak orang tersebut sedang berpikir untuk menemukan obat untuk penyakit kanker atau HIV/Aids.. atau orang tersebut adalah seorang calon pebisnis ukm yang sedang merintis usaha, yang mungkin saja pada nantinya akan merupakan usahawan sukses yang bisa menyerap ribuan tenaga kerja.. atau anak dari korban ternyata pinter, dan pada suatu saat bisa menang hadiah NOBEL.. atau banyak lagi seandainya seandainya yang lain… tapi tidak dapat terjadi karena adanya kematian yang dini akibat lubang-lubang jalanan..

Ini yang saya maksud sebagai POTENSI BANGSA yang dirugikan dengan adanya kematian yang sia-sia tersebut..Padahal ini baru ngomongin korban yang disekitar Jakarta aja.. belum diwilayah lain..

Mungkin nanti akan ada yang berkomentar bahwa kematian adalah takdir dan kita tidak bisa menghindarinya.. memang, tapi “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu merubahnya sendiri”.. Kita bisa lihat bahwa di negara-negara maju tingkat kecelakaan bisa ditekan seminim mungkin karena mereka menerapkan aturan-aturan yang ketat.. (dan juga jalan2 yang mulus)..

Seperti SBY pernah bilang, “Kalau negara lain bisa kenapa kita tidak bisa”.. Ditunggu keseriusan pemerintah dalam menghindarkan rakyatnya dari kematian yang sia-sia ini.. Kalau DKI sich sekarang sudah punya ahlinya..he..he

Popularity: 36% [?]

Print This Post Print This Post

13 Responses

  1. Saat kampanye Pilkada DKI..si kumis ini begitu yakin pada dirinya ” Serahkan pada ahlinya”….
    pada kenyataannya yang terjadi sesuai janjinya..karena si kumis inin memang “ahli”…maksudnya ahli ngeles…..
    kalo menurut Umar Kayam si Pauji mBowo ini saat kampanye di kategorikan
    ” Rumongso Biso…ning…Ora iso Rumongso ”
    lah kalo Jakarta ..dalannya aja dedel duel koyok ngono dan gak ditanggapi…alasane nunggu APBD perubahan dan musim ujan kelar….maka rakyat yang telah mbayar kewajibannya via Pajak kendaraan adalah para pihak yang dizhalimi….

    belum lagi para keluarga yang harus terlarat-larat nasibnya karena pencari nafkahnya gak lagi bisa mampu memenuhi kewajibannya karena cacat dan meninggal…..

    maka para pembuat kebijakan DPRD dan Fauzi Bowo nantinya emang akan membuktikan dirinya memang menjelma menjadi “ahli” juga…tapi yang dimaksud…..AHLI NERAKA… (pemimpin yang Dzalim balasannya Neraka…Hell yeah!!!)

    Jika Jalanan Jakarta dedel duel….kalo jalanan di Borneo sih tetap terpeliharalah…tetap terpelihara sejak dulu sebagai jalan yang ancur lebur,acakadut,ancor minah…dan istilah lain yang menunjukka “kehancuran” jalanan yang begitu nyata….

    13. March 2008 - ekoz_guevara
  2. Serius…serius…serius. Isok serius kowe Van…ck..ck..ck

    13. March 2008 - sevi
  3. tenang ae Sev….

    tunggu kemunculan the Three Muskeeter eh salah The Three Mas Kenthir….sang penyebar OOT…Afthon+Omdhe+Rizal….
    gak usah itungan dino…langsung banyak komentar yang Salbhut….pating blazuurrrr…alias OOT akut…

    Ivan…tahan napassss…sabar..sabar..sabar…

    13. March 2008 - ekoz_guevara
  4. Cak eko wis berburuk sangka karo aku..
    padahal aku sudah berniat hanya akan berkometar kalo memang perlu…..(Baru niat.lho.. jangan diartikan lebih.. maksude opo iku yo).
    Aku setuju dengan Mas Ivan… kalo dijalan pas berangkat kerja atau jalan-jalan terus lewat jalan yang rusak, pasti aku misuh-misuh, dan menurutku orang lain juga akan berbuat yang sama.
    Dalam ‘misuhku’ aku kadang mikir/berdoa “Ya, Allah, semoga orang yang berkuasa tapi tidak tergerak hatinya untuk segera memperbaiki jalan yang rusak ini, sehingga mengganggu hajat hidup sedemikian banyak orang, Kau berikan imbalan yang setimpal”.
    Nek cuma Rizal sing ndungo, mungkin gak ono artine, tapi wong sak ndayak koprak (akeh banget maksude).. berdoa hal yang sama, dalam kondisi terhina dan teraniaya, ..Wah apa jadinya ya?
    Katanya orang yang teraniaya dan dan berjamaah, doanya makbul…(Mohon fatwa-nya kepada Gus Faiz)

    13. March 2008 - Rizal
  5. @Sev..
    hahaha..gak tau ngerti aku serius yo.. iki mergo gregetan ae..Sebenarnya ini berkaitan erat dengan kehidupan kita berbangsa dan bernegara 10, 20, 30 dst tahun kedepan.. sudah bukan jamannya lagi negara mempermainkan kata “hak & kewajiban” seperti pada pelajaran PMP, P4, PSPB dsb..yang seringkali lebih dititik beratkan pada kata kewajiban warga negara..
    Kalo pimpinan tidak peka terhadap hak-hak rakyatnya dan kewajiban yang harus diemban sebagai seorang pimpinan.. mau dibawa kemana negara ini 10, 20, 30 tahun mendatang.. globalisasi sudah menjalar kemana-mana, bahkan Cina & Vietnam yang pada saat jaman kita SMP dan SMA (80an) kita pandang sebelah mata sekarang sudah sangat maju (terutama China) karena niatan mensejahterakan rakyatnya..
    Belum lagi ngomongin investasi negara lain.. tanpa insfrastruktur yang memadai? Sekarang semua negara berusaha mengundang investasi dari luar negeri yang diharapkan menciptakan banyak lapangan kerja..
    Belum lagi..?
    Belum lagi..?
    aaah..banyak dech..

    13. March 2008 - ivan
  6. opo Zal..sak nDayak Koprak?…hua..ha..ha…
    kudune ..wong sak taeknya ndayak koprak…gitu lhoa..hua..ha..ha jok pan-mesopan sampiyan…
    hua..ha..ha….

    (sorry zal setiap membaca komentnya the three mas kenthir…aku selalu pakek senyum-senyum MODE ON)

    13. March 2008 - ekoz_guevara
  7. Kepada warga blog, mari rapatkan barisan, tundukkan kepala dengan khidmat, sejenak kita renungkan bersama peristiwa di sekitar kita, sambil melantunkan :

    Tuhan kirimkanlah kami,
    Pemimpin yang baik hati,
    yang punya hati nurani,
    yang peduli kami,

    Terima kasih,
    Sekian..

    13. March 2008 - faiz_sahly
  8. Mumpung aku lagi pengen serius nich. Ini artikel yang tempo hari aku kirimkan di milis angkatan, tulisan oleh mas Andre Vitchek, komplitnya lihat di websitenya aja..

    JAKARTA, INDONESIA - A SINKING GIANT?
    http://www.worldpress.org/Asia/2875.cfm

    potongan-potongannya (highlight)seperti ini:

    Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN.
    ….
    Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin (mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik.

    …Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi , Singapura, Kualalumpur, dan Bangkok . Jakarta ? Berkat korupsi dan pejabat pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang berkebalikan dengan kota-kota tersebut…

    Kalo memang kayak gini mau ngomong gimana nich pemdanya?..

    13. March 2008 - ivan
  9. …sing paling repot wong dodol sate van…berok2 “te..satte sappolo kak” durung mari rombonge malek dhisik kenek bolongane dalan…wong piro sing nangis nang omah mulih gak nggowo duit…..

    14. March 2008 - sujak
  10. @ Cak Sujak
    Wah ternyata Cak Sujak sangat peduli dengan kesejahteraan para penjual sate..
    Wisata sate di Jalan Niaga Pamekasan apa masih rame Cak? … Ukuran Sate lalernya apa masih kecil, jangan-jangan udah jadi sate nyamuk saking mahalnya bahan baku-nya….jadi diperkecil…

    14. March 2008 - Rizal
  11. hek..hek..hek…saiki jenenge dudu sate lalak maneh wis cak rizal….sate mankoman…sing dodol podho loro moto kabeh wis….mergo kakean mendelik nyunduki satene…

    14. March 2008 - sujak
  12. @cak ekoz
    karena sudah kadung di ’suudz dzon’i, yo wis tak metungul ae.. :)

    @for all
    sebagai sesama wong jabodetabek, gue (..caile) sangat bisa memahami ‘jeritan hati’ mas ivan khusyairi. memang disono Pemkot, Pem prov dan Dep PU biasanya saling lempar bola, jika ada protes masyarakat ttg jalan2 yg rusak. warga jabodetabek sudah sangat kreatif menyikapi jln2 yg berlubang2 ini, dalam sebuah demo di Tangerang, lubang2 itu dicemplungi lele dan ditanam gedebog pisang, demo di Bekasi bahkan menggelar ‘happening art’ berupa lomba renang di lubang lubang besar tersebut. sebuah refleksi yang sanggup membuat kita yg lewat menahan geli sekaligus menahan sedih.
    tapi by the way, masih ada yang belum berubah di jakarta, kalo di sekitar daerah mas Ivan banyak Jalan yang Berlubang-lubang, di daerah Parung, Mangga Besar ,Binaria atau ‘redlight area’ lain di jakarta masih banyak Lubang yang Berjalan-jalan… hehe

    @ivan
    salam buat mas Anton

    14. March 2008 - afton
  13. Masalah jalan berlubang sedang jadi sorotan. Bahkan sampai ada pengamat sing ngomong ” Jangan bikin jalan kalau nggak bisa bikin drainase yang baik ” Karena mayoritas penyebab kerusakan jalan, katanya karena tidak ada drainase yang memadai. Terutama sekarang ini, dimana perbandingan volume got, resapan air dan volume air yang melintas sangat tidak seimbang. Akhirnya, dibiarkanlah air berlarian di jalanan.

    Bangsa kita ini sebenarnya bangsa yang mandiri dan pemaaf. Sifat itulah yang sering dimanfaatkan penguasa bila ada masalah dalam pelayanan masyarakat. Kasus jalan berlubang, biasanya berakhir dengan ” Diharapkan agar masyarakat lebih berhati-hati melintasi jalan X.. “. Sementara dari si korban biasanya bergumam ” Ah, itu kan salahku yang kurang hati-2.. “.

    Kemandiriian ini juga terbukti bila terjadi banjir atau bencana, serta merta mereka berusaha mengurus hidupnya sendiri, sekalipun bantuan yang dijanjikan tak pernah sampai..

    Ada benarnya kalau banyak pejabat negeri ini yang menunjukkan sifat ” AhlunNaar “. Maaf ini bukan ndhisiki kersa, tapi label apa yang lebih tepat bila seorang yang mestinya jadi ABDI NEGARA ( bukan ABDEE NEGARA-nya SLANK.. ), justru tidak mengabdi untuk negara dan rakyatnya ? Itu kan khianat terhadap amanat yang diembankan.

    Inti dari semua pekerjaan sebenarnya adalah MELAYANI bukan ? Kalau cuma saling lempar kesalahan dan merasa bahwa pejabat = pemerintah = penguasa = yang cuma bisa perintah sana-sini.. Itulah yang bikin kacau tatanan kemasyarakatan kita..

    Jadi buat para pejabat, kalau sekarang anda tidak melayani masyarakat dengan baik dan tidak merasa bertanggung jawab atas amanat yang anda emban, ingatlah bahwa Tuhan itu Maha Adil sak poolee.. Kealpaan anda sekarang tetap akan berbuah nantinya..

    15. March 2008 - faiz

Leave a Reply