Kantin Jember.. kini tinggal kenangan…

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan  teka-teki dari seorang teman .. “Apa yang kasih isyarat belok kiri tapi beloknya ke kanan, kasih isyarat belok kanan tapi beloknya ke kiri..?” 

jawabannya… GATOTKACA…. bener juga si Gatot itu kalau tangane ndhaplang ke kiri & kaki kirinya diangkat doi malah belok zigzag  ke kanan, begitu sebaliknya….

 hahaha.. ingatanku  melayang ke masa kanak-kanak.. awal-awal SD.. ketika itu aku punya koleksi komik-komik wayang yang berupa komedi.. semar, gareng, petruk, bagong..  ceritanya tidak panjang-panjang… paling-paling 2-4 halaman terus ganti cerita..cerita-cerita konyol terutama tentang Petruk & Gareng.. kira-kira kalo sekarang mirip dengan buku-buku Doraemon.. 

Juga ada cerita-cerita  wayang yang lebih serius (kalo gak salah karya RA Kosasih, tapi bukan yang buku tebal).. disitu diceritakan Gatotkaca yang sakti mandraguna.. otot kawat balung wesi  (keringet wedang kopi..hehe).. bisa terbang.. 

Visualisasi di komik dimana Petruk yang hidungnya panjang banget dan Gatotkaca yang bisa terbang membuat saya pingin sekali nonton yang sebenarnya… masa’ sich ada orang hidungnya panjang.. masa’ sich ada orang bisa terbang ..seingatku Ayah yang ngasih tahu kalo ada pertunjukan wayang orang dimana kita bisa ngelihat Petruk dan Gatotkaca.. tapi dimana ?? ada yang tahu  ?? 

Di Kantin… yup, disana dulu tiap malam minggu ada pertunjukan wayang orang.. Kantin ini lokasinya kalo dari alun-alun kearah Pagah..lewat SMP 2, lampu merah.. satu gedung lagi (PLN ??).. dah, disitu sebelahan .. gedungnya berwarna hijau tentara..  

Penasaran banget saya dengan bayangan saya terhadap Petruk dan Gatotkaca ini.. begitu pertunjukan sudah dimulai saya jadi agak kecewa.. ternyata si Petruk hidungnya biasa-biasa aja.. dan Gatotkaca juga gak terbang..Gatotkacanya kapan terbang? . koq gak terbang-terbang sich?.. aku tungguin terus sampe selesai..tetap gak terbang juga.. busyet dech.. kuciwa aku.. pertunjukannya pakai bahasa jawa kromo inggil.. dimana saya tidak biasa mendengarnya, sehingga agak kesulitan juga untuk mengerti..  

Sampai dirumah saya ceritakan ke anggota keluarga yang lain kalo si Petruk ini hidungnya gak kayak di buku…hidungnya biasa-biasa, kayak kita juga.. ha.ha.ha ..  Tapi ya itu.. dasar anak kecil.. saya masih penasaran .. siapa tahu Petruk ada yang mancung  beneran.. dan juga  saya suka nonton tariannya maka saya masih sering nonton wayang orang ini.. biasanya acara ini selesai sekitar jam 11-12 malam…   

Sudah bertahun-tahun kantin tersebut hampir tak bersisa.. bahkan saya kira bangunan utamanya sudah hancur..dan ditutupi seng.. tinggal bangunan sebelah selatan yang masih dipakai untuk pangkas rambut.. (entah Toko Buku Santo Yusup yang dibalik itu masih ada atau nggak..) 

Seperti nasib berbagai tempat pertunjukan kesenian tradisional di kota-kota lain di Indonesia, Kantin di Jember inipun kini tinggal kenangan…  

Sayup-sayup terdengar suara (alm.) mas John Lennon.. 

There are places I’ll remember all my life

Though some have changed

Some forever not for better

Some are gone and some remained

All these places had their moments………

(In My Life – The Beatles)

42 thoughts on “Kantin Jember.. kini tinggal kenangan…”

  1. Kantin Jember… siapapun yang mengalami SD di tahun 1980an akan terkenang itu tempat…. disana saya pertama kali melihat kehebatan Yanar Siswanto sebagai konduktor (dirigen) paduan suara SD pagah…. dan disana pula aku pertama kali ikut Lomba Paduan Suara dengan rasa bangga dan gembira… walo gak menang….

    karena dekat SMP2…maka disana juga tempat tercepat untuk Cukur…apabila menjelang Kribo itu rambut….

    ternyata Kantin nasibnya sama dengan gedung-gedung pertunjukan Wayang Orang dimana saja… jangankan di Jember…di Solo,Jogja dan Semarang yang merupakan daerah yg paling kuat tradisi pewayangannya…yang harus merelakan satu persatu pertunjukan Watang Orang menjadi WO..walk out…ilang..bubar…

    Jember Canteen…akhirnya Passed away juga….

  2. aku harap senyum yg pernah ada di wajah seorang teman akan selalu ada seperti waktu itu, dia menyadari banyak hal yg terjadi dan dia sadari dalam kenyataan hidup yg harus dijalannya, tapi dia pernah ceria & bahagia bersama kita saat itu….lakon dunia panggung adalah kehidupannya dulu… semoga kehidupan banyak berpihak kepadamu….

    "utk temanku yg pernah tinggal di canteen…. dan kebanyakan homeless people"

  3. Memang, yang ada di dunia ini tidak akan abadi. Kalaulah masih ada yang bisa lestari atau sekedar bertahan, tidak lepas dari kuatnya komitmen dan dedikasi para pendukung/penggemarnya.

    Saat mulai tinggal di Talangsari pada tahun 73-75 an, setiap malam menjelang tidur, saya selalu mendengar orang membaca tembang-2 Macapat, salah satu dari sekian bentuk tembang dalam lingkup budaya Jawa.

    Talangsari yang saat itu masih dikitari sawah dan hanya ada 3 rumah di KH Siddiq gang 3, terasa sunyi, apalagi listrik belum ada. Lampu strongking hanya menyala saat senja hingga pukul 9 malam. Itupun kalau ayahku ada di rumah, bila beliau terpaksa tugas ke luar kota, sering kali hanya lampu teplok yang menyala.

    Dalam suasana yang temaram itu, diselingi bunyi jangkrik di sawah, tambang Macapat mengalun menebarkan nuansa magis yang kental. Rasanya merinding kalau lamat-lamat tembang itu mampir di telinga.

    Lantunan tembang itu terus berlangsung hingga menjelang 80-an. Saat itulah, perlahan-lahan tembang Macapat tak lagi rutin terdengar mengiringi malam. Sesekali berganti dengan musik dangdut, yang biasa diperdengarkan bila ada orang hajatan.

    Saat ini, mungkin karena umur dan lingkungan, kadangkala aku merindukan malam-2 yang telah lewat itu. Tak ada lagi lantunan Macapat dan sebangsanya. Kala tembang-2 Slow Rock atau ambient music nggak bisa memenuhi relung hatiku, kerinduan akan larasnya bunyi gamelan Jawa begitu kuat mengikat.. Simfoni Jawa, pada saat yang tepat, membawa kita untuk merasakan kenyamanan serta keselarasan jiwa dan alam sekitar kita..

    Semoga kerinduan kita akan budaya lama, masih bisa memperpanjang eksistensinya, meski harus bertukar bentuk tidak seperti aslinya..

    Saat Ludruk atau Wayang Orang tak lagi beraksi di panggungnya, semoga CD-CD MP3 atau VCD rekaman masih bisa jadi jembatan budaya untuk generasi seterusnya..

  4. Gedung Pertunjukan Kesenian Tradisional memang nyaris sama nasibnya di semua tempat. Ini karena kita hanya mengarahkan kesenian tradisional sbg komoditas pariwisata saja. Jd, ketika tidak ada yang berminat menonton lagi, maka mati pula kesenian itu. Kita gagal menerjemahkan Value dari setiap kesenian tradisional ke pola hidup keseharian kita. Ini salahnya siapa ?, ya salah kita semua lah….. Ada hal menarik dari desain gedung ini,konon dibawah lantai ada semacam saluran air (bener nggak sich…?). Fungsinya utk meredam hawa panas di luar mjd sejuk di dalam. Maklum AC dulu belum ada. Inovasi yang hebat dijamannya…. Sekarang, sesuai namanya, Kantin memang berubah fungsi jd tempat jualan makanan dan minuman, alias food court. Btw, asal mula tempat ini disebut kantin, opo pancen dhisik yo tempat makan/restaurant jaman Londho ?.

  5. Kantin, yg paling asyik menurutku adalah saat potong rambut disana. Tukang cukurnya adalah sumber informasi tentang gossip terkini saat itu. Mulai dari gosipnya "Sakur" sang legenda alun2 saat malam, hingga invasinya Pakde Saddam ke Kuwait. Hebatnya sumber data dia cukup lengkap dan akurat. Topik "pergosipan" biasanya ditentukan oleh yang dicukur… Kalau diawali ttg politik maka sampai selesai mencukurnya, berbagai macam sudut pandang politik meluncur dari mulutnya. Asyiknya kalau diawali dengan hal"kosroh2"… maka meluncurlah cerita2 versi "Jember Under Cover" yang cukup lengkap dan tanpa sensor….!!!

  6. @Mbakyu Hesti…. @Arik…. @Adib… and Ivan the Poster starter….

    "cerita kalian bikin aku mau mewek..sedih.dan kangen…..dengan Jember 80an…"

    cerita terakhir…kantin dijadikan loket pembayaran listrik PLN dan sebulan yan lalu dirampok….

  7. ya, ya, ya aku inget waktu kelas 1 (1-8) aku ama temen2 pernah latihan nari di 'Kantin' situ. Aku ingat suasanya agak ribet. Tapi aku belum inget kenapa sampai bisa latihan nari disitu (payah deh, jangan2 dhek zilfana bener aku dah uzur. he3). 3 Tahun kemudian, aku juga pernah kesitu nganter pacar pertamaku potong rambut. ha3. {Mungkin agak bingung ya, 3 tahun kemudian baru punya pacar pertama. Soalnya, selama SMA terus terang meski aku anggota PPR beberapa orang dan beberapa cowok ngejar2 aku, aku belum siap pacaran. He3). Waktu aku kecil di desa ku yang ku cinta, aku sering lihat mas ku ndalang pakai wayang dari kardus dan beberapa wayang asli sisa2 peninggalan kakek. tak jarang banyak juga yang nonton masku ndalang di teras rumah. Perasaanku, Hebat banget deh mas ku saat itu, termasuk kalo pas ndalang semar, gareng dan petruk. tapi masa2 di desa ama mas ku cterasa singkat karena masku harus neruskan SMP di kota (Jember) dan SMAN 1 Jember. Giliran aku masuk SMAN 1 Jember, eh, mas ku pas lulus dan kuliah di Surabaya. Dia akhirnya terjun ke jurnalistik (wartawan), gak jadi DALANG. he3

  8. Kantin.. ya, yang masih aku inget cuman dua hal, maklum omahku dan sekolahanku adoh soko kono. Satu, toko buku Santo Yusup, tempat dimana aku sering diajak masku kalo udah putus asa nyari buku di toko Sumber Ilmu, atau Abdi Jaya di Pasar Johar. dan yg ke Dua, Tukang cukur di sebelah selatan gedung, aku inget kalo mau masuk ke tempat cukur ini harus lewat jendela besar yang disediakan tangga kayu di luar dan dalamnya.

  9. kantin…bagiku adalah rumah kedua bagiku…disana dulu sepulang sekolah aku selalu ke kantin…karena ebesku dulu komandan pos disana (dulu ada pom bensin milik tentara).. dan nanti pulang sama2 dengan ebes ketika jam kantor sudah selesai..masih terbayang dibenakku pesawat telepon yang masih pake puter2, mesin hitung yang juga masih diputer2, khusus untuk tukang cukur itu orang2nya masih abadi hingga sekarang dan mereka sekarang sudah mangkal di DPL-AD patrang..aku kenal semua dengan mereka2 karena di tempat cukur itulah masa kecilku sepulang sekolah bermain-main sambil menunggu bapak pulang kerja….

  10. Sik..sik… aku kok dadi bingung… Jane Mbak Wiwid iki pacare piro sih? sing meninggal, sing potong rambut, sing dadi bojone, sing diajak nyekar… terus..? Hayo ngaku Mbak.. iki pacar sing endi maneh?

  11. Rizaaaaaaaaaaaaaaaal…..ngoyak mbak Wiwid ae… mending beliaow mao testimony soal PPR….. lha awakmu iki lho…gak tau testimony…ndeksini malah ngajakin mBak Wiwid OOT….

    ( ayo Rizal cuci kaki…terus Bobok….kalo nakal tak cekel…tak gowo ndok kantin ato DPL-AD…tak kon nyukur Punkrock Majapahit!!!!!)

  12. Dhek Rizal: Pacar 1 : -ya yang dah almarhum itu. -ya yang tak anter potong rambut itu. -ya yang tak sekar itu. Pacar 2 : ada deh………..(Kayaknya kapan2 aja ceritanya, karena ceritanya mengharu biru juga dan layak tak buatkan novel atau tak jadikan sinetron atau tak angkat ke layar lebar. he3 pacar 3 : – ya yang tak ajak nyekar. – ya yang akhirnya jadi misuaku.

    Pacar 1, nemuku waktu aku kuliah di "LUAR NEGERI". ceritanya, abis lulus SMA namaku gak katut masuk koran, jadi terpaksa cari batu loncatan kuliah di LUAR NEGERI tadi (UNMUH Jember). he3. Abis itu baru ikut test lagi, nyantol di Fisip-Unair. gitu loh. semoga gak bingung lagi.

  13. Dulu jik aku kecil kan bapakku pernah jadi guru di SMP 2, sering juga diajak bapakku kalau pas cukur di kantin. Seperti cak Afton bilang, yang tak ingat betul adalah jendela super besar yang berubah fungsi jadi pintu, trus alat cukur yang tajam..cekris..cekris..serta kibasan kain putih wussss…wussss..sampai wedake mabur kabeh….huukk..hukkk..akhirnya aku watuk2..

  14. Oh pintu gedhe ning kantin iku jendelo to? Mangkane nek arep mlebu kok munggah terus mudun maneh..

    Atas himbauan Cak Eko.. aku mau bikin testimoni ah.. nek aku pernah dadi PPPR-e …. Eh gak disini ya.. sing mbahas PPR, disebelah yo.. Maap Mas Ivan.. lali aku… Wah salah kamar iki.. 🙂

  15. Yang nggak dilupakan kalo cukur di kantin, adalah anduk-e sing dikukus nang dandhang. Anget.. untuk menguragi nyeri setelah rambut dikerik.

    Rekor cukur tercepat yang pernah aku lakoni di situ adalah 15 menit. Pas malem jumat, libur terakhir menjelang masuk sekolah .. Sudah jam 8.45 WIB malem, nekat wae wong rambutku sik dowo. Bisa-2 nek durung potong, iso di"sikat" karo Bu Partini (SMP 1).. nek trondholl, payah dadine..

    Ada 3 tukang cukur, yang paling gak enak cukurane yang agak tua pake kacamata, rambute kriting, potongane koyo Cak Sokran-e Kartolo.. Nyukure lambat, dan gayane rodo kuno.. Sementara 2 lainnya sik enom, dadi cak cek..

    Sodaraku pernah cerita, nek potong nang kantin iso milih model potongan rambute, ono postere.. Bareng wis nyampe kantin, arep milih model.. malah ora sido.. wedi nek rupanen dadi aneh tur ora pantes.. hi.hi.hi..

  16. Yang nulis 'Kantin Jember…' itu Ivan siapa ya? Anaknya pak Khusyairi? Ok, … whoever, I'm Beatles lover 2! Itu tulisan agak 'KASEP' kayaknya. Kantin sekarang sudah jadi PUJASERA (pUSAT Jajan Serba Ada), maksudnya, itu maunya Pemkab Jember dijadikan tempat menampung PK5 yang terrgusur. Toko Buku Santu Yusup juga sudah almarhum. Gedung di dekatnya dulu kantor PLN, sekarang jadi Loket Pembayaran Rekening TELISA (telepon, listrik, dan air minum), Februari lalu tempat ini jadi korban perampokann bersenpi. Kantin dulu salah satu pusat budaya dan hiburan Jember. Wayang Orang tampil tiap hari. Aku sering diajak ortu menonton sampai pelan-pelan bangkrut dan tutup hingga konon dijual ke swasta mau dijadikan kantor bank swasta (waktu rame-ramenya paket deregulasi ekonomi era Soeharto), tapi mangkrak sampai memasuki abad 21. Kantin juga salah satu tempatku potong rambut, karena di sana dulu juga ada barber shop selain beli buku di toko Santu Yusup. Keren sebetulnya kalau di Jember ada gedung pertunjukan teater semacam itu (gak hanya untuk wayang orang). Saat ini orang-orang yang terlibat di WO itu semburat entah ke mana saja (dulu belakang Kantin juga menjadi komplek perumahan aktor/aktris WO itu). Hanya 1 orang anak pemeran Gareng yang aku tahu, namanya DR. Hari Soekarno, SE, MM jadi dosen FE & pasca sarjana UNej.

  17. wah ternyata loket telisa itu tempat bersejarah baru tau saya…. ternyata disitu dulu namanya kantin trus ada toko bukunya juga?? kalo tukang cukur jaman saya smp taun 98an masih ada kaya'nya mas ada cerita lainnya gak tentang jember taun 70an-80an??? salam kenal saya egah alumni smusa taun 2003

  18. Mas Bambang,

    Lho ..!! tulisane kasep yo ?.. hahaha..berarti sing komentar nang nduwur2 iki yo podho gak ngerti kabeh..para perantau semua.. sing mulih nang jember setahun pisan pas lebaran thok !!

  19. Ivan…. Tulisanmu jelas gak kasep…buat kita-kita para perantau..he..he..he

    @ Cak Bambang kayaknya panjenengan harus jadi kontributor berubahnya landscape kota Jember nih… "kangguy tambbe na kerong ambik Jember"

    opo bener rumour yang mengatakan Jember sekarang punya KFC..hua..ha..ha saingannya JFC

    kalo di Jember nanti dah ada Mc.Donald,Pizza Hut dan Starbuck ..berarti ada pergeseran budaya luarbiasa di Jember….

    Globalisasi di Jember telah sampai pada intinya..he..he..he

  20. KFC sdh ada di dekat bank buana, stlh ujì coba dg trailer. KFC bukan hal spesial, krn ayam goreng tepung sdh lama dikenal di jember. Dulu ada MFC Midi Fried Chicken depan telkom. cukup sukses..

  21. Iya.. aku pernah dengar dari Irawan (B4-sekarang KFC Jakarta).. konon dia pernah ditugaskan untuk audit di KFC Jember.. sekalian pulang kampung..

    Ternyata "fried chicken" tidak sama dengan "ayam goreng" lho.. coba perhatikan..ditempat-tempat makan yang "modern" biasanya yang disajikan adalah Fried Chicken bukan ayam goreng.. kalo kita mintanya ayam goreng pasti akan diulang sama penyajinya sbg "fried chicken"..

    kalo di Jakarta dan sekitarnya banyak sekali varian dari "fried chicken" ini..fret chiken, fred chicken, ala kentaki dll..

    Kalo kita beli ayam goreng disini pasti gak dikasih.. soalnya adanya ayam goreng tepung.. hahaha.. kalo ayam goreng biasanya ya ayam goreng biasa yg digoreng gak pakai tepung..

    sorry oot:

  22. Wah menarik juga hasil audit Cak Irawan itu. Sebenarnya gak OOT-2 banget, cuma perluasan topik bicara. Bukankah fried chicken atawa ayam goreng juga ada di kantin yang pujasera sekarang ini ?

    Tapi istilah yang serupa tak sama ini fenomena menarik di Indonesia. Ayam goreng =/= fried chicken ini mirip-2 kasus " beli Aqua..", dapatnya Ades, Aquaria, Aguaria dll. Hal semacam ini bisa jadi ukuran kalau bangsa Indonesia ini pinter bikin penafsiran sing "kardi".. Nek karepe wis ngono, yo ngono.. masi sampeyan ngueyel, bakal dibales ngeyel.. tak iyye.. Dhek remmah, kanak ?

  23. iki masih OOT…. saat ini lagi ada Pameran Foto Jadoel di Jember “>http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=199823&c=91

    seandainya ada para pembaca yang sempat nonton..dan sempat mencopy/memfotret foto KANTIN Tempo Doeloe mungkin akan sangat berkesan….

    kalo aku bisa punya kesempatan nonton itu pameran..pasti akan banyak bahan untuk diposting disini..he..he..he…

    Cak Bambang van Pagah…. semoga sempat nonton dan diceritain ke kita via blog ini ( hi..hi..nglamak tenan…arek 88 ngongkon cacak alumni 85 nonton pameran Photo..he..he..he..)

  24. wah…seru ya…kalo jadi generasi '80-an…pernah denger tembang macapat, pernah liat ludruk dan wayang orang…aku belum pernah tu…paling2 dulu liat di TV (indosiar) tapi karena acaranya terlalu malam, tak tinggal tidur. Sekarang dah gak ada lagi acara itu, tergantikan sinetron cinta2an, dan mistik (gak mutu blas!)kemaren liat kick andy, datengin bintang tamu Ria Ines+susan, terus ada kak Seto+Si Komo, Tongki, Unyil, Pak Raden… Hwa…. jadi kangen, dulu aku suka banget sama Unyil, Si komo, Ulil, Susan, terus dulu waktu aku masih SD juga, penyanyi anak2 masih populer…ada Joshua, cikita Meidi, Meisy, Trio Kwek2, Eno lerian,dll… Kalo dulu nyanyian anak2 SD, ya…Duridu-ridam-dam-duriduridam…banyak nyamuk di rumahku, gara2 kamu malas bersih2… Anak2 jaman sekarang lagunya seh Irwansyah(pencinta wanita), Radja, dll… Belum lagi mainannya, anak2 sekarang mainnya game2 di komputer,PS,ragnarok,dll…padahal maen bola, petak umpet,gobak sodor kan lebih seru…anak sekarang gara2 maenannya komputer melulu jadi sulit untuk bersosialisasi, mereka cenderung egois dan cuek ama lingkungan. Padahal kalo maen bareng2 sama temen2 yang laen kan disamping dia memenuhi kebutuhan batinnya untuk bersenang-senang, anak itu juga belajar untuk memahami apa yang orang lain inginkan. Beruntung masa kecilku dulu di desa, sempet jalan2 di sawah cari ciplukan, makan keong mas disate (hi….kalo sekarang jijik), mandi di sungai (tapi dengan pakaian lengkap), motel puasa gara2 masak2an krupuk siang2, pokoke dari dulu sampai sekarang aku gak pernah takut kulitku hitam, akibatnya sekarang kulitku hitam legam hahaha….tapi puas banget…seneng banget… Bagi Mas2 dan Mbak2 yang dah punya momongan kecil, kenalkan mereka dengan alam, dan lingkungan sosialnya, luka/kotor dikit gpp lah…kan Berani kotor itu baik! Hehehe^_^

  25. @ Ivan + Ekoz Ayam goreng =/= Fried chicken..?? Nice topic tuh.. Setali tiga uang dengan kasu " Mas, beli Aqua.. ", yang disodorkan adalah Ades, Aguaria de el el.. Dipikir-pikir wong Indonesia ini palaing pinter bikin penafsiran yang sifatnya "Kardhi..".. Nek sampeyan ngeyel mbenerke, bakal dibales jawaban sing kuwih nyueyyel.. ora gelem ngalah.. Ini nggak OOT, bukankah ayam goreng atau fried chicken juga ada di Pujasera ex Kantin ?

    @ Zilfana Memang menarik topik Kick Andy kemarin. Sepertinya 80-an lagi nge-trend untuk dijadikan topik pembicaraan. Metro TV juga menyiarkan acara tentang 80-an malam senin lalu. Disitu mereka mengundang ikon-2 selebritis 80-an dan juga dedengkot Lapanpuluhan.com. Yang lebih penting adalah menggali kembali segala kebaikan 80-an untuk ditanamkan kembali di era 2000-an ini.. Yaah, semacam Restorasi Nilai-nilai lah..

  26. @Zilfana Ireng nek ireng manis kan gak opo-opo. Ibarat pepatah hitam-hitam kereta api, biar hitam, akeh sing mbalangi…he..he.. Cilik-anku ndhisik dolane pinggir rel sepur, nek ono sepur kluthuk (sepur sing ireng) tak balangi watu he..he.. Wah arek siji iki penggemar sate keong emas.. sapek saiki wae nek nganggur aku sik sering nggolek keong ning pinggir selokan omahku. Lumayan tambah protein… Berguna banget ndhisik sik jaman kuliah, nek wis akhir bulan, duit kritis… golek keong emas nggo lawuh koncone krupuk… Duh enake.

  27. @Rizal ireng manis yo ireng manis rek. Gak usah pake pepatah kereta api. Soale lek nggawe pepatah kereta api, biar hitam akeh sing mbalangi trus mari ditumpaki di tinggal mulih…mudhun maksude. Zaman 80-an memang manis buat dikenang, itu karena masa muda kita memang di jaman itu. Coba tanya anak 90-an masa emasnya ya tahun itu juga. Jadi setiap era punya kenangan buat yang hidup di jaman itu. Sehingga menurutku gak perlu dibanding2kan deh apalagi membandingkan masa kita dulu dengan masa anak2 kita sekarang, jamane wis lain rek! (Ziffana iku arek kapan rek, jik cilik..hehehe..)

  28. @Rizal nek doyan keong emas, ono nang cedak omahku, guede banget, nang Taman Mini…. hehe krakotono, nganti sak wareg e…

    @Sevi Mari ditumpaki ditinggal mulih… yo ora popo asal mbayar.. hehe mbayar karcis sepur e maksude 🙂

  29. @ZilLy yen pengen ngerti opo OOT akut iku…yok mulai komentare Rizal-Sevi-Cak Afton…mosok ngomongno Kantin isok tekan "mari numpaki ditinggal mulih asal mbayar"…ato " malah kom ngrokoti Keong Emas barang?"…sek..sek..sek…lho sing nggarai OOT yok awakmu iku Zilly…lha mBahas kantin malah tekan Keong Emas barang…hue..he..he..heh

    @Rizal-Sevi-Cak Afton….mari kita masyarakatkan OOT dan Men OOTkan Masyarakat…hua..ha..ha..ha..

    FoR ALL….. Mengapa gedung iku dinamakan Kantin?…opo iku tempat cafene londo-londo sing seneng kongkow dan hangout rikolo zaman rekiplik mbiyen?

    yang punya sembarang info sudilah kiranya membagi daripada itu pengetahoean tentang asal osoel daripada itu Gedung yang dinamaken Kantin…

  30. @Cak Afthon…. welcome back..mr anyot-nyot..he..he..he lek Ogok Ogok Thok…iki penggaweyane Omdhe…. hua..ha..ha..ha

    "mara kanak noles pole..mak rammeh…lakar abit tak maca nostalgilane bekna…jen anyot-nyot bik alekser malo lo….."

  31. hahahaha….wis mulai anyot..nyot maneh.. Kudu ngguyu aku rek lek maca tulisan anyot nyot…

  32. inget kantin, inget pernah waktu SD nari di situ, plus waktu kecil cukur model tentara …biar ngirit gak sering-2 cukur. buat teman-2 alumni SMP 3, mungkin juga masih inget Pak Soesilo, petugas TU, yang tinggal disitu sekaligus juga pegang peran jadi bagong.

  33. @Toto Pak Susilo,TU SMP 3 pernah dadi Bagong ning Kantin… tas ngerti aku.. He..he..sudah pensiun belum Bapak itu? Sekarang Kasek SMP 3 masih Pak Poniman?

    Ohya Omdhe kemana ini.. lama gak kirim komen 🙂

  34. @Toto, Aku yo ngerti nek Pak Susilo iku yang jadi Bagong.. tapi pas nulis iku aku lali nek jenenge Pak Susilo..hahaha.. Aku ingat pas mantenane mbak e Sevi, Pak Susilo iki dadi MC-ne.. dulur2ku dho heran kabeh, cek apike nek ngomong boso..hehe

  35. buat EGAH, bukan loket Telisa-nya yang dahoeloe Kantin tapi sebelahnya, yang pada paruh akhir 90an berupa tanah kosong dipagar seng & sekarang jadi tempat tampungan PK5. Buat Ekozguevara, bukan isu kalo KFC ada di Jember! Sudah ada tuh. Tapi jujur, secara pribadi….weeeeeehh….. aku lebih suka Jember yang gak jadi kota besar. Tetep sepi-sepi saja kayak zaman doeloe. Boleh modern tapi jangan kelewat rame & sumpeg lah… Temenan loh……………………………………………………………………….

  36. @Bigbang… Setuju… aku luwih seneng Jember apa adanya,.. ndisik sik ning Jember, nek dalane macet aku seneng… soale artine dalan-dalane saiki rame banget… Begitu ning Mbandung… ketemu macet sampek mules-mules, pengen muntah… Nah nek balik Jember khan dianggep refreshing, gak ono macet…

  37. Hiks …….. jaman SD biyen aku tahu nari nang kono. Istilahe gebyakan. Kan aku & adik2ku les nari nang pak sarbini, ketua perkumpulan wayang orang/ketoprak nang kantin iku

  38. kantin dulu tinggal kenangan, selain tempat para komunitas seni, aku ingat sekali di sebelah selatan atau tepatnya antara gedung PLN dan kantin ada gang masuk.Disitu tepat ruangnya menempel di belakang kantin yaitu toko buku Santo Yusuf.Kalau teman-teman ada di era 80-an pasti tau.Toko buku murah jujukan-nya anak-anak SD dan SMP.Aku ada di SMP 3 jbr 84'-tan

Leave a Reply