‘ayah, harus transparan!”, teriak anak2ku, ditengah-tengah suara pukulan kaleng dan panci. Anak sulungku yang beranjak ABG mimpin lima adiknya demo.
’Ssst..ssst jangan berisik’ malu ama tetangga. ’ada apa? Kalau demo peralatannya yang lengkap donk. Mana spanduk, pamflet, ikat kepalanya? He..he..he…Kalian kan udah sering liat ayah berangkat demo. ’Kacang ora ninggalake lanjarane’ kata pepatah, nek bapake tukang demo, anake yo bakalan dadi tukang demo.
Emangnya ada apa, kok tahu2 ayah disuruh transparan. Apa selama ini ayah nggak transparan?
‘kami dengar ayah baru naik gaji. Kami ingin kebutuhan kami selalu terpenuhi. kalau kami minta beli buku, kami nggak mau denger ‘no money’. Coba ayah bayangin, untuk beli buku jawabanya selalu nggak ada uang, tunggu gajian… tapi beli rokok selalu ada uang. penting mana beli buku dengan beli rokok.?
Aku terdiam nggak bisa jawab. ‘jadi mau kalian bagaimana?
’kami ingin ayah buat anggaran yang jelas. Sehingga, kami tahu berapa rupiah yang dianggarkan untuk masing2 kami.
’baik kalau mau kalian begitu’. Istriku yang dari tadi hanya senyum2 liat tingkah pola anak2nya menimpali. ’ayah dan bunda, akan susun anggarannya’.
Rupanya nyusun anggaran untuk keluarga nggak sesimpel yang aku bayangkan. Anak2ku bergantian mendekati aku dan istriku tuk lakukan lobi2. entah belajar dimana mereka, apa dia tahu proses penyusunan anggaran dinegeri ini juga dari hasil lobi…semakin tinggi IP (indeks pendekatan) semakin mudah anggaran gool…seneng juga aku, melihat anak2 udah bisa membaca kondisi sekelilingnya. Bekal untuk melakukan perubahan dimasanya nanti…tinggal bagaimana kita arahkan mereka…
’ayah, maya pengin jatah maya lebih besar dibanding adik2. maya anak sulung, udah ABG jadi wajar kalau dapatnya paling banyak’ lobi anak sulungku.
Lain waktu anak kt-3 ku datang, ’Gazie pengin paling banyak jatahnya. Ekstrakurikuler disekolah banyak. Gazie juga pengin ikut les bahasa inggris, tennis, dan karate. ’Kalau gazie dapat banyak, tiap malam gazie mau pijitin ayah’ suap anakku.
Ke-empat anakku yang lain juga nggak mau kalah, dari janji2 sekedar lebih rajin bantu kerjaan ibunya sampai janji rajin mengaji dan menghafal qur’an. Semua jurus dikeluarkan anak2ku agar dapat jatah paling banyak.
Tidak terasa, udah seminggu proses penyusunan anggaran dilakukan. Sebanyak anggaran diajukan ke rapat pleno, sebanyak itu pula ditolak anak2. akhirnya, aku gunakan jurus kekuasaanku, ’kalau ditolak terus oleh kalian, kapan kita kerjanya. sekarang udah tanggal 10, maret tinggal dua puluh satu hari lagi. Sekarang, kalian mau terima atau tidak, kalau tidak terima, nggak ada lagi anggaran di keluarga ini. Biarin aja ayah dibilang nggak transparan’.
’Ayah, kami setuju…tapi kalau bisa biaya tamunya di hapus. Nilainya besar sekali’
’lantas kalau ada tamu bagaimana? Darimana ayah ambil dananya?
’terserah ayah, pintar2nya ayah aja. pokoknya kami nggak mau anggaran kami dipotong untuk biaya tamu. Kalau mau ada biaya tamu, gaji ayah harus dinaikin lagi’ timpal anak2ku hampir serentak.
Aku hanya bisa geleng2 kepala, tidak ada pilihan lain’Ok. Kita deal’
Hari-hari berikutnya, kami semua sibuk untuk merealisasikan anggaran yang telah disepakati. Betapa peningnya kepalaku karena banyak pengeluaran tidak didukung oleh anggaran…revisi anggaran tidak dimungkinkan lagi, sulap sana sulap sini, anggaran A realisasinya kita fiktifkan agar dananya dapat dipakai untuk pengeluaran yang tidak ada anggarannya. Selama ini, aku selalu ajari anak2 untuk tidak pernah berbohong, ternyata kali ini AKU telah BERBOHONG. Ya Allah ampuni aku?!!!…anak-anak jadi berlomba-lomba menghabiskan dana yang tersedia, walaupun akhirnya mereka membeli barang2 yang tidak perlu, yang penting anggarannya habis… bisa jadi, mark up juga terjadi disana untuk mempercepat proses habisnya anggaran….
Ah…baru ngatur rumah tangga aja sulitnya bukan main…bagaimana ngatur satu wilayah…bagaimana ngatur kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan negara…ah nggak sanggup aku membayangkan…betapa banyak kesalahan demi kesalahan akan kulakukan. Keinginan jadi orang no 1 mendadak lenyap.
Lantas, kalau pada mundur, nggak mau jadi pemimpin, siapa yang bakal mimpin? Kalau kita yang tahu benar dan salah tidak berani menanggung resiko… apa kita rela negeri ini diatur oleh orang yang tidak berhak? Diatur oleh orang yang tahunya, bagaimana bisa memenuhi kebutuhan diri dan golongannya saja? Diatur oleh orang yang tidak peduli dengan kondisi rakyatnya? Diatur oleh orang…dll. Tentu saja nggak rela…kita harus berambisi untuk merebut semua itu. Sebagaimana ambisi nabi yusuf untuk diangkat jadi bendahara negara, karena dipandang tidak ada lagi orang yang mampu melaksanakan tugas secara amanah… yang penting amanah dalam menjalankan tugas, ubah sistem, ubah pelaksana sistem, ubah semuanya demi kebaikan.
Adakah orang yang layak mimpin negeri ini dengan amanah?
Banda aceh, libur jumat 2008
(Tanggal berapa ya?
Dasar PNS tahunya tanggal 1 aja)
Fikik hamzah
Popularity: 28% [?]
