Serial Asbun
“Selamat Pagi, semua…….! Perkenalkan, nama saya Bedu Harikoe. Selama lima tahun kedepan, saya akan menjadi Supervisor bapak-bapak semua ”. Itulah kalimat pertama Bedu yang diucapkan didepan semua Kepala Dinas di lingkungan Kabupaten Jember. Yaa…. sekarang Bedu sudah jadi Bupati Jember untuk periode 2010-2015. Meski sehari-harinya dia hanyalah seorang Supervisor sebuah Perusahaan Obat, tetapi dengan sistem politik saat ini, yang memungkinkan adanya Calon Independent, menjadikan dia punya kesempatan jadi Bupati. Tentunya ini juga buah dari pohon investasi politik Bedu selama belasan tahun. Hampir setiap hari, selama belasan tahun itu, Bedu mengurusi “Partai Independent”-nya menjadi partai politik “beneran”. Setelah pulang dari kerja, dia rajin mengunjungi temen-temennya masyarakat Jember (dia selalu menyebut Masyarakat Jember dengan ‘Teman-temannya’). Dari satu desa bergerak ke desa yang lain, begitu setiap hari…. sampai tuntas 12 tahun tidak ada satu desa-pun di kabupaten Jember yang belum dikunjunginya. Di setiap desa yang dikunjungipun, dia hanya menemui orang-orang yang tidak beruntung disitu, karena miskin materi, sakit, panen gagal bahkan orang yang mau dicerai suami/istrinya. Mereka diajak ngobrol, berhaha-hihi….. karena memang hanya itulah yang dia bisa dan mampu dilakukan. “Bapak-bapak semua, mulai hari ini, setiap pagi dan sore kita briefing… ” Setelah briefing pagi, bapak-bapak akan jalan ke lapangan sesuai rute yang sudah saya siapkan. Menemui orang-orang yang sesuai dengan bidang tugas bapak-bapak”. Contoh, bapak yang jadi Kepala Dinas Pendidikan, harus mengunjungi sekolah-sekolah SD-Perguruan Tinggi yang tersebar di seluruh Jember ini. Setiap hari harus mengunjungi minimal 20 sekolah dengan tingkat kesuksesan kunjungan 50%. Sukses yang dimaksud adalah bapak berhasil mengatasi masalah di setiap sekolah yang dikunjungi itu.” “Bapak-bapak akan saya bekali dengan lembar kerja harian yang berisi nama-nama orang atau pihak-pihak terkait yang dikunjungi.” Bedu menunjukkan selembar kertas ukuran kwarto yang berisi kolom-kolom yang harus diisi. “Di bagian kolom yang paling kanan, jangan lupa untuk minta tanda tangan dari orang yang bapak kunjungi.” Karena dunia Bedu adalah dunia Sales, maka yang dia tahu ketika diangkat menjadi Bupati adalah bahwa semua PNS, dari staff sampai Kepala Dinas adalah “Salesman” dia. Apa yang dilakukannya selama jadi Supervisor, dia terapkan saja ketika jadi Bupati. Dengan umur yang hampir masuk setengah abad, praktis dia sudah hampir 30 tahun ‘berkarir’ di dunia jual menjual barang itu. Setelah 25 tahun bekerja jadi Salesman, dia diangkat jadi Supervisor. Itupun sebenarnya karena bossnya kasihan saja melihat Bedu. Lha wong temen-temen Bedu sudah ada yang jadi Manager, bahkan direktur di beberapa perusahaan. Bedu tetap aja jadi Salesman. Dan yang mengherankan bossnya, dia tidak pernah mengeluh dengan kerjaannya itu. Makanya sebagai bentuk penghargaan, 5 tahun lalu, Bedu diangkat jadi Supervisor. Sekarang genap 1 bulan Bedu jadi Bupati Jember. Semua Kepala Dinas melaksanakan apa yang sudah diprogramkan Bupatinya. Mereka nggak ada pilihan lain, karena Bupati Bedu tidak ada kompromi. ” Take it or Leave it…..!”. Itu kalimat satu-satunya yang diucapkan sang Bupati kalau ada keluhan dari KaDinas-nya (karena itulah satu-satunya kalimat Inggris yang dia tahu). Persis seperti yang selalu diucapkannya saat jadi Supervisor ke Salesmannya. Sekarang para Kepala Dinas diminta untuk menyampaikan hasil kunjungan ke seluruh pelosok Jember. Dan hasilnya memang bervariasi. Ka-Dinas Pertanian, misalnya, dia benar-benar bisa menceritakan dengan detail apa sebetulnya yang diharapkan Petani selama ini. Bahkan dia juga bisa menyebutkan nama-nama petani tersebut, seolah dia sudah kenal lama. Dia juga bisa membedakan, mana petani beneran, petani penggarap, petani pengusaha (atau pengusaha petani), petani jadi-jadian (yang hanya muncul pada saat ada bantuan subsidi pupuk dari Pemerintah) dan buruh tani. Ka-Dinas Perdagangan, bisa mencatat dengan persis, siapa biang keladi fluktuasi harga sembako yang buat rakyat Jember sengsara. Tapi, ketika ditanya, apa yang akan dilakukan setelah ini, dia hanya senyam senyum, “Aaah…….Pak Bupati, kayak nggak tahu aja…..?!”. Dan, senyam senyumnya berubah semakin keras, menjadi tertawa terbahak-bahak. Nggak berhenti……!!. Oalah……….!!, pak Ka-Dinas sepertinya sudah hidup didunia lain….. dunia dimana antara kenyataan dan khayalan sudah tidak bisa dibedakan. Bupati Bedu hanya bisa mengelus dada……!!. Apa yang terjadi dengan Jember dimasa pemerintahan Bedu…..?. Apakah rakyatnya semakin makmur atau bahkan semakin kacau balau…..?. Aaah…. Bedu sendiri tidak terlalu peduli. Sang Bupati terus menjalankan kebijakannya. Siapa suruh Supervisor jadi Bupati. He…he….he…….
Jogjakarta, 14 Mar 2008. Jam 22.00
Disclamer : tulisan diatas adalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, waktu dan tempat adalah kebetulan belaka. Maafkan daku……!! Namanya juga Asbun. Asal Bunyi.
Popularity: 22% [?]
