Alkisah, tersebutlah sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri yang terkenal puol… di Kebupaten Jember. SMA itu bernama SMA 1 Jember. SMA 1 Jember ternobat menjadi salah satu SMA terfavorit di Jember. Berbondong- bondong siswa SMP dari Jember dan sekitarnya, mendaftarkan diri agar bisa menjadi bagian dari SMA favorit ini. Jika saya tidak salah (berarti benar) sejak tahun 2005 SMA 1 Jember dinobatkan sebagai salah satu SMA di Jawa Timur yang menyandang gelar Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI). Hal ini sangat membanggakan, tetapi juga harus dipertanyakan, pantaskah gelar ini disandang SMA 1 Jember?
Dalam satu angkatan ada 7 kelas: terdiri dari 5 kelas IPA dan 2 kelas jurusan IPS. Penjurusan dilakukan menjelang kenaikan kelas 1 ke kelas 2. Saat angkatan saya akan memilih jurusan, banyak dari teman- teman saya yang tergolong anak pintar dan rajin yang ingin masuk ke jurusan IPS, akan tetapi wali kelas+BK seakan- akan menghambat dan siswa itu dibuat ragu untuk nyemplung ke jurusan IPS. Kecuali siswa yang seperti saya (yg ulangan kimianya sering dapet 35) tidak terlalu ‘didesak’ untuk memilih jurusan IPA. Anak IPS masih dianak tirikan! padahal seharusnya seimbang perlakuan terhadap jurusan IPA dan IPS. Angkatan saya IPS terdiri dari 2 kelas, IPS 1 dan 2, tiap-tiap kelas berisi 22 siswa (dikit banget kan). Tapi ternyata kami bisa membuktikan bahwa IPS juga bisa berprestasi, salah satu siswa IPS berhasil mendapatkan medali perunggu pada olimpiade sains nasional th 2006 untuk mapel ekonomi. Pihak sekolah mulai mengakui keberadaan jurusan sosial ini.
Saya juga akan sedikit bercerita tentang aksi para aktifis SMASa angkatanku. Memasuki semester V, saat itu saya kelas 3 semester awal. Ada pemberitahuan berupa selembar kertas yang dibagikan pada masing2 siswa untuk disampaikan pada wali murid. Memberitakan bahwa SPP yang mulanya 60ribuan, naik menjadi 116.000. Dan di dalam selebaran itu tidak di jelaskan mengapa kenaikan SPP itu terjadi. Lantas para siswa yang ditanyai wali muridnya, juga tidak bisa menjawab apa- apa. Kemudian beberapa dari mereka bertanya pada MPK (Majelis Perwakilan Kelas) perihal kenaikan ini. Lalu pihak MPK menindaklanjutinya dengan bertanya kepada aparat2 sekolah (waka-waka)… mereka menjawab kenaikan ini untuk membiayai opersional SMASa, kemudian kami bertanya kok naiknya jauh banget. Jadi jika diijinkan kami ingin mengetahui laporan keuangan sekolah, untuk pengeluaran apa saja uang kami selama ini? jadi para wali muridpun tidak akan bertanya- tanya lagi. Apa jawaban dari pihak pengelola sekolah? mereka mengatakan bahwa MPK tidak memiliki hak untuk mengetahuinya yang memiliki hak adalah pihak Komite Sekolah. Ou…begitu… OK dech!
Tapi rupanya anak2 MPK tidak puas dengan jawaban itu, akhirnya mereka benar- benar mencari informasi mengenai alamat rumah Komite Sekolah, dan mereka berhasil mendatangi rumah dan bertemu dengan Ketua Komite Sekolah saat itu. Mereka menjelaskan maksud kedatangan mereka, Komite Sekolah menerima dengan tangan terbuka. Lalu kami menyampaikan bahwa kami ingin mengetahui mengapa kenaikan terjadi, dan sekaligus kami ingin mengetahui Laporan Keuangan sekolah selama ini. Komite Sekolah tidak merasa keberatan, lalu menunjukkan Laporan Keuangan itu. Dari laporan keuangan yang kami cermati, dalam laporan keuangan OSIS selalu menghasilkan saldo laba yang terus bertambah dari tahun- ke tahun. Lalu mengapa harus ada kenaikan? padahal dalam anggaran yang diberikan pada pengurus OSIS, ekskul maupun MPK sama sekali tidak mengalami kenaikan. Mumpung ketemu komite, akhirnya kami mengadukan segala ketidaknyamanan fasilitas yang kami alami di seolah. Ada bebrapa kelas yang atapnya bocor, dan tidak segera di perbaiki, padahal saat itu musim hujan, jadi hampir setiap pagi kelas itu becek. Kelas ini adalah kelasku, kelas IPS. Kami sudah empat kali mengadu pada Waka Sarana Prasarana, bahkan kepada Kepala Sekolah, tetapi tidak pernah mendapat respon yang positif. Toilet cowok juga sangat memprihatinkan, saat itu mereka tidak memakai gayung tapi kaleng bekas, belum lagi ada beberapa pintu yang tidak bisa dikunci. Fasilitas yang kami dapatkan sama sekali tidak sebanding dengan harga uang gedung yang kami bayar. BEP aja nggak!
Setelah mulut kami lelah berkeluh kesah pada pihak komite, akhirnya kami pamit pulang. Komite berjanji akan meneruskannya pada aparat2 sekolah yang berwenang dalam masalah ini dan berusaha untuk menampung segala aspirasi kami (kebetulan malam harinya adalah malam LPJnya pengelola sekolah pada Komite Sekolah). Keesokan harinya, matahari bersinar cerah…sekali. Bel tanda aktifitas belajar dan mengajar berbunyi, tampak siswa- siswi SMASa memasuki ruang kelas dengan rapi. Kemudian tampak beberapa anak keluar dari ruang kelas mereka menuju laboraturium kimia untuk memenuhi panggilan dari kepala sekolah. Hehehe… seluruh anggota MPK dan pengurus harian OSIS dipanggil oleh para pengelola sekolah, kemudian kepala sekolah mengatakan penyesalannya atas tindakan MPK yang mendatangi pihak komite sekolah. “Mengapa hal ini harus terjadi?”, katanya.
Tiga jam kami “diarahkan” agar selanjutnya tidak mengulangi tindakan yang sama. Keluar dari ruangan itu, kami masih belum berubah, kami masih sama seperti hari yang kemarin. Kami akan terus mengejar kebenaran sampai dapat. Meskipun pada akhirnya tidak ada perubahan pada nominal SPP kami. Tapi setidaknya kami sudah memperingatkan mereka para pengelola sekolah. Jangan mengajarkan apa itu transparansi, akuntabilitas, demokrasi kepada kami jika tidak ingin kami balik bertanya dan mempraktekkannya.
Sejauh ini, aku sudah jarang lagi mengikuti perkembangna di SMASa. Tapi yang kudengar, banyak keluhan dari pengurus OSIS, MPK dan ekskul mengenai minat yang semakin sedikit dari siswa baru untuk terjun dalam dunia organisasi sekolah. Padahal buanyak buanget yang bisa mereka dapatkan jika mereka bergabung dalam suatu organisasi sekolah. Anak2 jaman sekarang lebih suka nge-band dan jalan2 di Mall daripada mereka harus mengeluarkan keringat, dan mengrenyitkan alis sejenak,berpikir untuk membuat suatu perubahan yang lebih baik.
Popularity: 31% [?]
