Alkisah, tersebutlah sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri yang terkenal puol… di Kebupaten Jember. SMA itu bernama SMA 1 Jember. SMA 1 Jember ternobat menjadi salah satu SMA terfavorit di Jember. Berbondong- bondong siswa SMP dari Jember dan sekitarnya, mendaftarkan diri agar bisa menjadi bagian dari SMA favorit ini. Jika saya tidak salah (berarti benar) sejak tahun 2005 SMA 1 Jember dinobatkan sebagai salah satu SMA di Jawa Timur yang menyandang gelar Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI). Hal ini sangat membanggakan, tetapi juga harus dipertanyakan, pantaskah gelar ini disandang SMA 1 Jember?
Dalam satu angkatan ada 7 kelas: terdiri dari 5 kelas IPA dan 2 kelas jurusan IPS. Penjurusan dilakukan menjelang kenaikan kelas 1 ke kelas 2. Saat angkatan saya akan memilih jurusan, banyak dari teman- teman saya yang tergolong anak pintar dan rajin yang ingin masuk ke jurusan IPS, akan tetapi wali kelas+BK seakan- akan menghambat dan siswa itu dibuat ragu untuk nyemplung ke jurusan IPS. Kecuali siswa yang seperti saya (yg ulangan kimianya sering dapet 35) tidak terlalu ‘didesak’ untuk memilih jurusan IPA. Anak IPS masih dianak tirikan! padahal seharusnya seimbang perlakuan terhadap jurusan IPA dan IPS. Angkatan saya IPS terdiri dari 2 kelas, IPS 1 dan 2, tiap-tiap kelas berisi 22 siswa (dikit banget kan). Tapi ternyata kami bisa membuktikan bahwa IPS juga bisa berprestasi, salah satu siswa IPS berhasil mendapatkan medali perunggu pada olimpiade sains nasional th 2006 untuk mapel ekonomi. Pihak sekolah mulai mengakui keberadaan jurusan sosial ini.
Saya juga akan sedikit bercerita tentang aksi para aktifis SMASa angkatanku. Memasuki semester V, saat itu saya kelas 3 semester awal. Ada pemberitahuan berupa selembar kertas yang dibagikan pada masing2 siswa untuk disampaikan pada wali murid. Memberitakan bahwa SPP yang mulanya 60ribuan, naik menjadi 116.000. Dan di dalam selebaran itu tidak di jelaskan mengapa kenaikan SPP itu terjadi. Lantas para siswa yang ditanyai wali muridnya, juga tidak bisa menjawab apa- apa. Kemudian beberapa dari mereka bertanya pada MPK (Majelis Perwakilan Kelas) perihal kenaikan ini. Lalu pihak MPK menindaklanjutinya dengan bertanya kepada aparat2 sekolah (waka-waka)… mereka menjawab kenaikan ini untuk membiayai opersional SMASa, kemudian kami bertanya kok naiknya jauh banget. Jadi jika diijinkan kami ingin mengetahui laporan keuangan sekolah, untuk pengeluaran apa saja uang kami selama ini? jadi para wali muridpun tidak akan bertanya- tanya lagi. Apa jawaban dari pihak pengelola sekolah? mereka mengatakan bahwa MPK tidak memiliki hak untuk mengetahuinya yang memiliki hak adalah pihak Komite Sekolah. Ou…begitu… OK dech!
Tapi rupanya anak2 MPK tidak puas dengan jawaban itu, akhirnya mereka benar- benar mencari informasi mengenai alamat rumah Komite Sekolah, dan mereka berhasil mendatangi rumah dan bertemu dengan Ketua Komite Sekolah saat itu. Mereka menjelaskan maksud kedatangan mereka, Komite Sekolah menerima dengan tangan terbuka. Lalu kami menyampaikan bahwa kami ingin mengetahui mengapa kenaikan terjadi, dan sekaligus kami ingin mengetahui Laporan Keuangan sekolah selama ini. Komite Sekolah tidak merasa keberatan, lalu menunjukkan Laporan Keuangan itu. Dari laporan keuangan yang kami cermati, dalam laporan keuangan OSIS selalu menghasilkan saldo laba yang terus bertambah dari tahun- ke tahun. Lalu mengapa harus ada kenaikan? padahal dalam anggaran yang diberikan pada pengurus OSIS, ekskul maupun MPK sama sekali tidak mengalami kenaikan. Mumpung ketemu komite, akhirnya kami mengadukan segala ketidaknyamanan fasilitas yang kami alami di seolah. Ada bebrapa kelas yang atapnya bocor, dan tidak segera di perbaiki, padahal saat itu musim hujan, jadi hampir setiap pagi kelas itu becek. Kelas ini adalah kelasku, kelas IPS. Kami sudah empat kali mengadu pada Waka Sarana Prasarana, bahkan kepada Kepala Sekolah, tetapi tidak pernah mendapat respon yang positif. Toilet cowok juga sangat memprihatinkan, saat itu mereka tidak memakai gayung tapi kaleng bekas, belum lagi ada beberapa pintu yang tidak bisa dikunci. Fasilitas yang kami dapatkan sama sekali tidak sebanding dengan harga uang gedung yang kami bayar. BEP aja nggak!
Setelah mulut kami lelah berkeluh kesah pada pihak komite, akhirnya kami pamit pulang. Komite berjanji akan meneruskannya pada aparat2 sekolah yang berwenang dalam masalah ini dan berusaha untuk menampung segala aspirasi kami (kebetulan malam harinya adalah malam LPJnya pengelola sekolah pada Komite Sekolah). Keesokan harinya, matahari bersinar cerah…sekali. Bel tanda aktifitas belajar dan mengajar berbunyi, tampak siswa- siswi SMASa memasuki ruang kelas dengan rapi. Kemudian tampak beberapa anak keluar dari ruang kelas mereka menuju laboraturium kimia untuk memenuhi panggilan dari kepala sekolah. Hehehe… seluruh anggota MPK dan pengurus harian OSIS dipanggil oleh para pengelola sekolah, kemudian kepala sekolah mengatakan penyesalannya atas tindakan MPK yang mendatangi pihak komite sekolah. “Mengapa hal ini harus terjadi?”, katanya.
Tiga jam kami “diarahkan” agar selanjutnya tidak mengulangi tindakan yang sama. Keluar dari ruangan itu, kami masih belum berubah, kami masih sama seperti hari yang kemarin. Kami akan terus mengejar kebenaran sampai dapat. Meskipun pada akhirnya tidak ada perubahan pada nominal SPP kami. Tapi setidaknya kami sudah memperingatkan mereka para pengelola sekolah. Jangan mengajarkan apa itu transparansi, akuntabilitas, demokrasi kepada kami jika tidak ingin kami balik bertanya dan mempraktekkannya.
Sejauh ini, aku sudah jarang lagi mengikuti perkembangna di SMASa. Tapi yang kudengar, banyak keluhan dari pengurus OSIS, MPK dan ekskul mengenai minat yang semakin sedikit dari siswa baru untuk terjun dalam dunia organisasi sekolah. Padahal buanyak buanget yang bisa mereka dapatkan jika mereka bergabung dalam suatu organisasi sekolah. Anak2 jaman sekarang lebih suka nge-band dan jalan2 di Mall daripada mereka harus mengeluarkan keringat, dan mengrenyitkan alis sejenak,berpikir untuk membuat suatu perubahan yang lebih baik.
Popularity: 42% [?]


Dark Ages Of SMASA.. Ini akibatnya kalau pejabat lupa hakekat tugasnya. Apakah MELAYANI itu pekerjaan yang hina ? Kalau nggak ada murid, apa jadinya SMASA ?
Wuiiiih, hebat tenan arek saiki. 4 jempol, juara dik.Cuman yo iku, harus disampaikan ke penggede sekolah dengan cara yang santun, beretika dan tetap dengan rasa hormat. Ojo sampai ngrusak2 sekolah dewe, misuh2, teriak2 gak karuan seperti yang sering kulihat di TV. Yang ngeliat jadi ga simpati dan gak respek.
Cak Sudjak, bila diperlukan, program perlindungan saksi tolong disiapkan utk adik kita, Zilfana. Jaga-jaga kalau ada yang tidak berkenan dengan topik kita ini.
Laporannya seru banget. Kalau gayung di toilet cowok masih bekas kaleng cat “emco”, kemungkinan gayung kalengnya sudah berdinas 20 thn lebih. hheheh
Dhek sylfana, transparansi memang diperlukan. Tapi sering kali susah dilakukan, masih malu2 untuk mengutarakannya. Dulu saya mengebuh-gebu kayak sampeyan, but Now, I know.
Dengan kondisi ekonomi yg sulit ini. Saya merasa trenyuh melihat nasib tenaga pendidik, baik para guru maupun dosen, sudah bayarannya relatif kecil ditambah yg bersangkutan diwajibkan ilmunya harus “up to date”. Jangankan mikir beli buku untuk membuat anak didik pintar, untuk menjaga asap dapur mengebul setiap hari aja sudah susah. Gaji guru dan dosen, jauh sekali dibandingkan dengan gaji pegawai bank, kayak “Meneer Eko”.
Lumayan sampeyan 1 angkatan 7 kelas. Jamanku 1 angkatan 9 kelas. Dan IPS selalu dianaktirikan (kesannya). Tapi ada juga lho temanku yang pinter banget, tapi tetep milih IPS. Keluar dari SMA 1dia kuliah di STAN, kabar terakhir beliau di BI,Padang.
Aku juga sempat ‘perang’ dengan penggede sekolah tentang kedudukan organisasi intra sekolah pas lagi sekolah.. tapi ya gitu deh.. siswa yang berusaha kritis sering dianggap aneh..bukannya didukung agak lebih berkembang.
Wah, kaget juga baca ceritanya dhek Zilfana. Kalo jamanku dulu adem ayem aja. Cuman emang masalah pilih jurusan aku sendiri juga mengalami kebimbangan. Karena aku pinginnnya di IPS, tapi terpengaruh juga dengan rumor kalo jurusan IPS agak kesulitan bersaing waktu UMPTN. Tapi, beberapa temen yang masuk kategori pinter, tetep yakin dengan pilihannya IPS. Dan alhamdulilah mereka bisa buktiin juga kok, bisa bersaing waktu UMPTN. Memang ada plus minus nya tapi, semua itu tergantung siswanya sendiri. Aku jadi inget betapa bangga nya kami waktu diterima di SMA kita yang kesohor sampai desaku itu. Apalagi untuk anak daerah (beda kabupaten), agar bisa sekolah di Jember aku harus mengurus surat pindah domisili dengan alasan ikut om (aku sampai pakai nama kenalan keluarga kami di Jember). Dan waktu itu masih sistem test ujian masuk. Buat aku anak desa, soalnya bener2 maut. Tapi alhamdililah aku dan ketiga temenku dari SMPN Pesanggaran, banyuwangi selatan bisa diterima. Lumayan juga ternyata meski kami dari desa. he3. Semoja tulisan dhek Zilfana bisa menjadi renungan dan hikmah bagi kita semua n pihak SMA kita tercinta.
Kasian juga mr.Sentolop (Kepsek SMA1 Jember sekarang), karena ekses reformasi, musti ngadepin siswa2 yang agak “wani” dan “kodo”… kalo jaman pak Kamalhudi atau pak I Made Rempet dulu muridnya nurut2…. (..sing nurut, sing mokong yo akeh ding..:) )
cak ekozguevara gimana nih, selaku penyuara “anti kemapanan”.. mana suaranyaaaa….
Paling FLASH-e lagi macet, Lik..
Nek ora lagi tilik kebon sawit nang cedhak perbatasan Malingsya..
@Cak Afton
Kepala sekolahe Mr Sentolop alias Pak Turasman?
Kebiasaan lari pagi di hari Senin tambah giat opo dadi ilang yo…
Ndhisik Pak Turasman paling giat ngejar-ngejar murid yang mokong gak gelem upacara bendera….
wah…intine jane smasa tetap hebat lah, jane kualitas anak-anaknya yang cukup di acungkan jempol, aku dw masih suka terkagum-kagum setelah 20 tahunan tinggalkan smasa. Kondisi akhir2 ini yng terjadi, bisa jadi karena pergeseran budaya dimana tuntutan sosial berkembang ke berbagai aspek, apapun itu,setuju dengan yang di tulis bu sevi, kita harus tetap ada pada rel2 nya ben ora kepleset. Guru di daerah masih dengan profil Pahlawan tanpa tanda jasa jadi bisa diyangkan kondisinya antara citra dan citanya
lhah, kalo udah jadi kepsek, ya mestine wis ora lari pagi meneh to Zal..
lha sing dadi pembina (inspektur) upacarane sopo? hehe
Sedikit koreksi dari saya,Pak Turasman bukan menjabat sebagai Kepala sekolah SMA 1 Jember tetapi SMA di Sukowono.
Kepala Sekolah SMAN 1 Jember saat ini adalah Bapak Bambang Sumpeno. Sebelum jadi kepsek SMAN 1 Jember beliau merupakan Kepsek SMA Banyuwangi
ok, matur nuwun dik Jaka, koreksinya..
saya yg salah baca postingannya Faiz “Jember Trip 2008″ (10 Jan 2008), tp yg penting masih blm OOT khan…
@Mbak Sevi
Iya…pada awalnya, temen2 udah pada mau demo gitu, tapi kita tahan dulu. Soale kita masih punya banyak cara yang lebih cerdik, diantaranya penulisan beberapa artikel yang menentang kenaikan SPP itu, jadi rencananya semading guede itu mau ditulis aktikel/karikatur yang mendukung aksi2 protes. Tapi kita ternyata gak diijinin ama ketua madingnya. Ya ga papa dah…kita langsung ke komite aja. Lagipula apabila cara mengkritik siswa lebih “rapi” akan semakin diwaspadai oleh aparat2 itu, daripada kalo kita pake cara yang anarki.
Zilly..hebat….
inget kata Ernesto Che Guevara de La serna Lynch…
“jika hatimu bergetar marah melihat ketidak adilan kamu adalah KAWANKU”…
jadi yg Zilly dan adik-adik lakukan udah on the track ….Shout out !!!!! if injustice done…
kalu tinggal mengasah rasa perdulimu dengan ketramplam organisasi yg lebih mantap…soal strategi dan taktik, soal mobilisasi masa, intelejen seek and destroy..dlll….
saat ini kamu berada ditempat yang tepat untuk belajar tentang itu semua…
Hasta La Victoria Siempre…
For Zilly the next Guevara
lanjutan…..
Salah satu hal yang gak pernah berubah dari para pengajar (bukan pendidik) di SMAN 1 Jember adalah sifat “meremehkan” terhadap kemampuan nalar dan kematangan berpikir anak-anak didiknya yang tetep dianggap Teenager umbelen ..arek cilik umuran 16-18 tahun ..yang belum genep cara pikirnya…arek cilikan yang mesti dikandani ngalor ngidule pikiran lan tindakannya….padahal…
kalo kita lihat tulisan-tulisan para teenager di dunia maya baik di Friendster,Facebook,Multiply dan berbagai ajang social networking serta blog-blog pribadi…mereka jauh lebih smart dan terbuka serta lebih canggih cara pandangnya dibandingkan aku pada saat SMA…bisa jadi Reformasi 1989 telah membuat segalanya jadi lebih mudah dan terbuka…mereka dapat menyerap informasi dan “komporan” tentang apa arti “perlawanan” dan “kebebasan berpendapat” dari media massa dan terlebih lagi dari internet…
sehingga jika terjadi hal-hal yang “bertentangan” antara idealita yang disampaikan para pengajar SMAN 1 saat pelajaran yang mengajarkan keterbukaan dan keberanian mengemukakan pendapat dan keberanian untuk menjaga Hak-hak dasar pelajar untuk mendapatkan pengajaran dan fasilitas yang sesuai dengan “kewajiban” yang telah mereka bayarkan…dengan tindakan pihak sekolah yang dengan “arogan” menaikkan biaya SPP tanpa penjelasan logis rasional…dan kenyataan betapa untuk menggunakan hak mereka berupa bantuan untuk dana ekstra kurikuler dan OSIS ..mesti berdebat keras..bahkan tak jarang “mengemis” hak mereka sendiri…apalagi ternyata kenaikan SPP dan Uang Gedung tak terwujud dalam bentuk nyata …perbaikan fasilitas tak kunjung ada…kamar mandi masih saja “primitif” ruangan kelas bocor dll…maka saat mereka bertanya via MPK dan dijawab bahwa MPK gak berhak mendapatkan copy LPJ keuangan..maka senyatanya …telah terjadi pengkhianatan terhadap idealita dan nilai-nilai kemanusiaan berupa keterbukaan dan keberanian bertanggung jawab yang selama ini secara berbusa diajarkan oleh para pengajar itu sendiri pada para pelajar SMAN 1 …..dan INJUSTICE ..KETIDAKADILAN telah secara kasatmata dipraktekkan oleh mereka…..
Keberanian MPK untuk menghadap Komite Sekolah..adalah bentuk aliansi strategis yang patut diacungi jempol….dan jika akibatnya para penggiat Pelajar di MPK dan OSIS harus diceramahi selama 3 jam…itu artinya pihak sekolah telah kebakaran jenggot…sekaligus mendedahkan…bahwa para pengajar berjiwa ORDE BARU yang selalu berlaku totalitarian masih bercokol dan mengangkangi sekolah kebanggaan kita itu….
jika itu terjadi….adalah kewajiban moral dan panggilan sejarah harus berani ditanggung juga oleh para Alumni SMAN 1 Jember …untuk melindungi dan mendorong..tunas-tunas muda yang bersemangat ini lepas dari suasana intimidatif yang dikembangkan pihak sekolah..
kayaknya Formalisasi Organisasi Alumni SMAN 1 JEMBER..menjadi sesuatu keniscayaan…demi tetap menjaga SMAN 1 JEMBER sebagai wadah penyiapan terbaik generasi muda Indonesia asal Karesidenan Besuki untuk berkiprah di perjuangan memakmurkan dan memajukan Indonesia kita ini…
Apa yang dialami Zilly dan kawannya ini semakin membuka mata kita bahwa ternyata secara mental dan kedewasaan para pengajar di SMAN 1 JEMBER masih ketinggalan jaman….seorang pengajar dengan ide-ide totalitarian masih menjadi patron dalam mendidik….bukannya mereka sadar bahwa ide totalitarian semacam itu adalah ide yang telah masuk ke dalam tong sampah sejak Mei 1998?…
Hasta La Victoria Siempre….
For Zilly and all the next guevara
Tinju dunia….hapuskan ketidak adilan sekarang!!!!
Cerita anak IPS dapet beda perlakuan dengan anak IPA sih sudah ada sejak zaman saia doeloe! Herannya belum berubah juga sampai abad 21 ini ya?? Biar saya alumnus IPA, tapi kisah kayak ginian juga sering denger doeloe. Itu bisa terjadi karena kelas saya gerombolan Viqibioma1 tetangga dekat kelompok kelas IPS di bagian belakang sana yang (doeloe) dekat warung & parkiran sepeda. Leonardo da Vinci yg pinter dulu apa juga anak IPA?? Wong di tempat tinggal si Leo gak ada SMAN 1 kok….
Sebenarnya kalo dilihat dari comment diatas baik dari jaman sebelum angkatan Mas Bambang yang pakek pembagian PASPAL vs SOCio, lalu ke IPA Vs IPS….
terus jamanku yang A1(Fisika)+A2(Biologi) Versus A3 (Sosial),terus kembali ke jaman IPA vs IP…maka sebenarnya cara pandang para pengajar di SMA kita itu gak juga berubah…IPA warga kelas satu dan IPS warga kelas dua..terutama pada porsi perhatian untuk fasilitas pendidikan…padahal jujur saja…tak ada beda signifikan antara kedua pengelompokan itu selain masalah MINAT…kalo dari segi IQ aku yakin sekali tidak akan jauh beda karena pada jamn ini kepinteran atau kecerdasan murid SMA lebih disebabkan pada disiplin dan Fokus pada pilihan…
referensi untuk maju sekarang mudah sekali di dapat (via buku yang makin murah ato internet) sebaliknya juga ada tantangan alat0alat untuk menjadi bodoh dan gak berguna juga ada (narkoba misalnya)..atau maen PS kebablasan….
kalo Fokus dan disiplin gak jadi pegangan..walaupun dia secara IQ sangat qualified untuk Lulus sebagai alumni dari jurusan IPA…tapi tanpa disiplin dan fokus ..akan juga berantakan…boleh saja dia lulus baik dari SMA!…tapi jika harus compete dengan alumni SMA dari kota besar dan daerah lain…jgan kaget kalo tiba-tiba shock mendapati dirinya tidaklah pinter-pinter amat seberti expectasinya….
sayangnya…blog ini gak banyak dikunjungi oleh pengurus OSIS ato MPK SMAN 1 JEMBER sehingga gak banyak dialog yang bisa memberikan api perubahan bisa ditularkan…..kayaknya alternatif lain untuk bikin diskriminasi menyingkir via SMA 1 adalah dengan tekanan dari alumni…sayangnya organisasi formal alumni SMASA gak pernah ada sosoknya…sayang betul…
Cak eko dan teman-temin
Saya kurang setuju dengan statement sampeyan mengenai warga IPS kelas 2 dan kurang fasilitas pendidikan, terutama di SMA kita tercinta. Mungkin statementnya bisa diperjelas gitu?? Karena saya sebagai salah satu alumni tidak merasakan adanya perbedaan dalam hal pendidikan.
Yang ada cuma perbedaan sosial, anak A3 dan A2 yg banyak kaum hawa “kenya-kenya sulistyo” sering ngadain pesta ulang tahun 17. Di A1, ngak ada acara gituan.
Mengenai kompetisi dengan anak daerah kota lain atau negara lain, jangan kuatir selama kita “be prepared” (semboyan neh club bola Aston Villa) , jangan mutung dulu, meskipun berasal dari jember misalnya.
@cak surya
Akan saya jabarkan lagi contoh diskriminasi kelas Alam dan Sosial yang sempat terjadi di SMASa. Pada saat penjurusan dari kelas 1 menuju kelas 2, saya mendengar banyak keluhan dari adik- adik kelas saya, mereka yang unggul kognitifnya ketika akan memilih IPS dengan inisiatif sendiri,mereka malah diinvestigasi oleh pihak BK, apakah mereka serius akan memilih jurusan IPS??? padahal nilai mereka sangat mencukupi untuk masuk IPA. Tindakan ini menandakan dari pihak sekolah sendiri tidak ada rasa percaya diri mengenai pengelolaan ilmu sosial di SMASa, akirnya tetap saja berat sebelah. Padahal pada tahun 2007, banyak anak2 IPS yang mampu membuktikan prestasinya melalui berbagai macam lomba2, jadi waktu upacara nama mereka dipanggil untuk penyerahan piala kepada sekolah, dan tersebutlah IPS!!! meski kami tidak ikut dalam lomba itu, tapi kami semua bangga karena kami dapat membuktikan otak kami gak kalah hebat, meski banyak yang memandang sebelah mata terhadap pilihan hidup kami. Pernah suatu hari saat itu aku baru duduk kelas 2,bertemu teman sekelasku saat kelas 1 Ikhsan namanya, ia bertanya “Zil, kamu IPA berapa?”
Aku jawab,”Bukan IPA, aku IPS 1.”
“Ha? IPS? kok IPS? aku kira kamu IPA.”
kemudian ia bertanya lagi, “Memangnya cita2mu apa sich, mau jadi apa kamu masuk IPS?”
Spontan kujawab di depan konsumen gado2 yang sedang asyik makan, “Cita- citaku jadi Presiden, minimal jadi Bupati.”
Ikhsan tertawa sambil mencibir,”Hwahahaha…metao. Awas koen yo lek gak dadi!”
“Tunggu aja nanti.” aku menjawab sambil geleng2, kasihan orang2 ini gak pernah merasakan asyiknya punya mimpi apa?? orang2 mekanik!
Mengenai fasilitas, kemarin saya baru bertemu dengan salah satu BK SMASa, dan alhamdulillah kelas akselerasi kini memiliki kelas, setelah sekian lama program aksel berjalan dengan kondisi nomaden. Dan bekas kelasku IPS 1 sekarang udah gak bocor lagi dan kipasnya udah berfungsi lagi (tapi siswanya urunan sendiri beli kipas). Bicara masalah pendidikan emang bakalan ppuuuuuuaaaaaannnnnnnnnjjjjjaaaaaaaaaannnnnnngggggggg….
Sebenere Zilfana juga mau ngasih masukan buat Dediknas, dan pak bupati Djalal, tapi ntar jadi OOT…
Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada pihak-2 manapun, indikasi bahwa keberhasilan sebuah sekolah ditandai dengan “penuh”nya jurusan eksak, rasanya sudah tertanam lama bahkan bisa jadi trade mark.
Namun sayang, karena dipaksakan, akhirnya jurusan eksak tersebut cuma jadi jurusan yang penuh sesak. Meski harus diakui, yang punya otak encer banyak masuk ke sana. Sehingga rasio antara pendidik dan murid menjadi sangat tidak seimbang. Hasil kahir proses belajar mengajar pun gak optimal..
Padahal, bila mau dicermati, kita semua akhirnya berinteraksi dengan ilmu sosial, dimanapun kita bekerja dan bertempat tinggal. Meski nggak harus mendalami salah satu mata pelajaran sosial, harus diakui bahwa hidup kita dilingkupi oleh perhitungan-2 sosial dan ekonomi.
Orang-2 eksak, baik yang teknik atau agrikultur, kalau cuma bisa itung-2-an skala laboratorium, mana bisa memakmurkan atau memudahkan hidup masyarakat ? Pada saatnya sebuah produk dihasilkan, tak pelak perhitungan sosial ekonomi lah yang akan membuat mereka berarti..
Memang tidak harus bisa dan paham perhitungan ekonomi tersebut, tapi setidaknya menyadari bahwa hidup para teknisi dan praktisi agrikultur tergantung juga pada pakar-2 ekonomi, adalah suatu pikiran yang bijak bahwa sosial, ekonomi dan eksakta adalah kesatuan.
Aku masuk fakultas perikanan, lantaran aku nggak suka pelajaran ekonomi. Karena menurutku terlalu njlimet atau aku yang gak bakat “dagang” ? Tapi seiring berjalannya waktu, dipikir-pikir, buat apa bikin tambak yang luas, pelihara udang/ikan yang banyak, kalau semua itu gak bisa dijual ? Ujung-2-nya ke ekonomi juga kan..
bahkan syarat untuk bikin tambak, adalah melibatkan masyarakat sekitar dalam kegiatan perikanan yang dibuat, agar untuk mengurangi bibit-2 konflik akibat kecemburuan sosial, karena kurang meratanya kesempatan yang diberikan kepada lingkungan kita tersebut..
@ Dhek Zilfana,
Kalau kondisinya seperti itu, menurut hemat saya loh, itu sama di mana saja, termasuk di negara maju juga. Dalam menuju jenjang pendidikan, seorang siswa akan menghadapin kenyataan untuk memilih bidang apa yg mau ditekuni. Bidang ilmu alam atau sosial-ekonomi. Semuanya memiliki kriteria-kriteria tersendiri. Disinilah, peran atau task seorang guru BP dan guru wali kelas yg mendampingin siswa dalam mengejar cita-citanya
Yang sering menjadi masalah adalah, anak-anak yg kurang pintar dalam pendidikan di tampung di bidang sosial. Sehingga, masyarakat kita cenderung memandang rendah bidang-bidang social atau ekonomi.
Mengenai sarana fisik yg belum bisa terpenuhi, saya berpraduga; keuangan SMASA saat itu belum memungkinkan untuk perbaikan. Hal ini bukan hanya terjadi pada SMASA, defisit keuangan bisa juga terjadi pada organisasi akademik lainnya termasuk ptn-ptn yg katanya terbaik di Indonesia.
Soal keterbatasan anggaran ato apalah…..harusnya jadi tanggung jawab stakeholder
(walo ini perlu klarifikasi dengan melihat laporan keuangan sekolah….bukannya curiga..tapi waspada..he..he..he..)
Sebenarnya…dari dulu….
ketika IKSMAGRI (Ikatan Alumni SMA Negri Jember)chapter Yogya bikin pertemuan yang cukup intens…(Pak Ikhlasul Amal,Prof Joedoro,(Alm)Dr.Rachman,Mr.Tetung Chandra dll)..dan bikin reuni di Tawangmanggu (aku,Ivan dan Eddy ikut bantu-bantu…)
niatan membantu SMA 1 Jember dalam bentuk fisik dan non fisik (kayak seminar motivasi,seminar entrepreunership etc) juga terlontar…tapi sayang yang saya tangkap pengelola SMA 1 JEMBER yang saat itu hadir tampaknya gak terlalu antusias untuk mennindaklanjuti itu tawaran….
kondisi ini sama ketika saat aku masih kuliah dan aktif di IKPMJ (Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Jember) di Jogja..ketika minta permisi untuk membagi info PTN/PTS di Jogja ada rasa “enggan” ato minimal gak antusias gitu..kalo gak mau dibilang sebenarnya kalo bisa ditolak ya ditolak aja…beda kalo yang mo mbagi Info dari AKMIL,AAU,AAL ato AKPOL…kayaknya pada tergopoh-gopoh nyiapin prasarana..kalo perlu semua murid diharuskan ikut ..saat itu..mending aku ngabur ke Rambo aja ..he..he..
intinya Discriminasi kayaknya sudah jadi bagian yang “mengharukan” di SMA kita itu…..
Zillly…
pernah liat film Walk Out gak?
ini cerita protes massal anak-anak SMA keturunan latin (Chicano) di East LA karena perlakuan yg luarbiasa discriminatif oleh guru-gurunya
@ All,
Let’s see how’s the school principal thinking.
Seperti biasa Pemegang Kuasa di Sekolah sering dalam posisi terjepit antara perkembangan jaman dan aturan dari atasan. Sudah tahu bahwa jaman menuntut keterbukaan demi kemajuan, tapi tidak adanya landasan hukum yang fleksibel terpaksa membuat mereka bersikap kaku..
For faiz….
Sebenarnya gak “pas” kalo dibilang bahwa seorang kepala sekolah terutama di SMA 1 JEMBER posisinya terjepit antara perkembangan jaman (era reformasi) dengan aturan dari atasan (Depdiknas)…
yang terjadi adalah mindset yang masih Orde Baru banget..represif dan selalu beranggapan anak-anak SMA itu..just teenager et all….gak sadar bahwa …cara pikir dan pola tindakan anak-anak SMA sekarang sudah beda jauh dengan jaman beliau SMA bahkan dari jaman kita…..
keberhasilan anak-anak SMA 1 menembus beberapa kompetisi keilmuan dari kelas Nasional sampek Olimpiade Sains (seperti keberhasilan seorang Adam Badra Cahaya..di Olimpiade sains Internasional.sehingga sekarang dapat disekolain di Jepun sono)…dan beberapa kemenangan di bidang Sains dan Socio economics harusnya menjadikan mereka aware…bahwa mereka menghadapi generasi yang luar biasa maju dan dorongan keingintahuan yang besar….
Tindakan menyembunyikan data keuangan yang diminta MPK (sebagai institusi resmi yang mewakili murid SMA 1 JR) yang disusul dengan indoktrinasi atas para pengurus MPK dan sebagian OSIS karena dengan keberanian mereka malah bisa mengakses Laporan Keuangan dari KOMITE SEKOLAH (institusi yang lumayan ditakuti pihak sekolah)…menunjukkan pola pikir ngentengno dan represif diktatorian masih menjadi mindset Pimpinan SMAN 1 JEMBER….
sopo sih para Pimpinan SMAN 1 JEMBER saat itu dan Sekarang Zilly?..
saya pikir tidak pada tempatnya para pi,mpinan sekolah bersembunyi dibalik ketiadaan landasan hukum..karena UU Sistem Pendidikan Nasional yang lama (karena RUU Sisdiknas masih pro kontra) beserta aturan yang mengatur dibawahnya samapi kepada edaran Depdiknas Kabupaten sudah cukup memberikan ruang gerak pada mereka untuk arif dan cerdas membaca PERUBAHAN JAMAN….sekarang Orde REformasi…nostalgia dan romantisme era ORDE BARU telah terkubur bersama tokohnya…di Mangadeg Solo….
BERUBAH…atao..JADI TERTAWAAN DUNIA
itu saja pilihannya bagi Pimpinan SMAN 1 JEMBER…
Hasta La victoria Siempre
For Zilly….
ada statemen menarik….
“diantaranya penulisan beberapa artikel yang menentang kenaikan SPP itu, jadi rencananya semading guede itu mau ditulis aktikel/karikatur yang mendukung aksi2 protes. Tapi kita ternyata gak diijinin ama ketua madingnya….”
wah terkerjet saya melewatkan komentarmu yang ini…
kalok samapi Ketua Mading?…gak berani memasangnya…berarti ada dugaan bahwa ada upaya pemberangusan kebebasan berekspresi di Mading..yang dulu kami perjuangkan tanpa reserve…
wah mungkin ketua Madingnya adalah penganut NEO ORDE BARUian…yang akhir-akhir ini sudah mulai menampakkan wujudnya….
awas 2009 udah dekat…
kita lihat siapa saja ORDE BARUrian yang mengubah wujud jadi REFORMIS…setelah WIRANGto yang tiba-tiba aware ama kemiskinan dan PRABOWO sang penculik yang jadi menunggangi kepentingan Petani….
warunge Pak Buralim sik onok gak ?
Klo leh tw mbk zilfana angktan brapa yw??
zilfana sama kayak aku, angkatan 2004 (lulusan 2007).
jadi teringat masalah itu, itu waktu kita kelas berapa zil? aku cuma inget kita,anak MPK, dipanggil rapat tok, lupa klo udah dari rumahnya pak ka komite.. opo aku gak melok yo? pas aku nang endi?
Alhamdulillah….akhirnya ada juga yang bisa teriak !!
Ma’af aku baru tau da forum ini.
Sebenernya aku juga sebel sudah dari beberapa waktu yang lalu….lamaaaaaabanget malah !
Aku sering banget sharing ma salah seorang guru, kebetulan di jaman aku masih sekolah disana Beliau care banget ma kami “anak-anak badung”
Aku mendengar, melihat kenyataan bahwa MAHALNYA PENDIDIKAN di SMASA sekarang masih belumlah sebanding dengan (ma’af bukan hanya sarana & prasarana yang ada)out put yang dijanjikan…
Siswa-siswa disana (entah secara sadar atau tidak) oleh penyelenggara sekolah sepertinya akan di cetak untuk menjadi “robot-robot hitung” baru di Indonesia, berkutat dengan teori dan angka !!
Nilai Moral, Etika, Kemanusiaan hanya menjadi bagian kecil saja dari mata pelajaran PPKn (yang juga entah sekarang masih ada atau tidak karena Standarisasi Bertarif Internasional itu)
Apakah sekolah yang dulu pernah kududuki bangkunya itu akan menyumbangkan lagi sekian “CALON KORUPTOR” baru bagi negeri tercinta kita ini dengan dibunuhnya kreatifitas dan potensi otak kanan (organisasi /EksKuL)yang notabene melatih kecerdasan Emotional dan Humaniora ???
Kapan kita bergerak untuk sekolah yang mungkin dulu pernah membuat kita bangga ada di dalamnya ??