“fik, mau nikah nggak?” temen kantorku tiba2 nanya.
Siapa sih yang nggak mau nikah, dari smp pun aku udah mau nikah. (Bahkan sampai sekarang pun masih pengin lagi…he2. Orang bilang ngamalin sunnah nabi).
“ada apa nih, kok tiba2 nanyain tentang nikah?”.
”nggak papa, ni ada cewek yang udah siap dinikahin.”
Aku mulai berhitung, nikah-nggak-nikah-nggak-nikah. Cukup nggak tabunganku ya? Dari uang pindah masih tersisa 250 ribu. Untuk ukuran makasar uang segitu nggak ada artinya..biaya pernikahan cukup mahal di makasar, (betul bu dokter sevi?)..selain biaya mendatangkan keluarga dari jawa, biaya uang naik juga mahal…pembantuku yang hanya jebolan kelas 3 SD, uang naiknya sampai 3 juta. Sementara cewek yang ditawarin ke aku, keturunan bangsawan, sarjana, berapa uang naiknya ??? hitung punya hitung, akhirnya aku mundur…”nggak dulu lah, belum cukup uangku”. Toh aku masih muda, ditunda sedikit masih bisa. Kejadian itu pada pertengahan 1992, setengah tahun setelah aku tinggalkan jawa.
Di penghujung tahun 1992, aku ditanya lagi…kali ini, aku bertekad tuk terima tawaran itu, meski tabunganku masih tetep 250 ribu.. . alhamdulillah, setelah aku bertekad dan mempercayakan semuanya padaNya, ternyata Dia banyak memberi kemudahan, rejeki mengalir begitu mudahnya,,cukup untuk mendatangkan keluarga, persiapan pesta, dan yang penting…mertuaku ternyata nggak minta “uang naik’ sepeserpun… aku jadi teringat dengan janji Nya, Dia akan meng-kayakan orang dengan pernikahan…Dia akan memudahkan jalan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Nya. Dan …jadilah aku menikah pada 8 april 1993.
Waktu tsunami di aceh, banyak relawan datang dari penjuru negeri. Diantaranya, salah seorang mahasiswa dari Solo-aku lupa namanya- dia cerita bahwa disemester dua, dia sudah menikah. Lantas, bagaimana dia bisa menghidupi keluarga ? Dengan jualan buku katanya. Setiap ada pengajian, kegiatan keagamaan, dia selalu bawa barang dagangannya..alhamdulillah, sampai sekarang-katanya- kebutuhan keluarga dapat terpenuhi walaupun tidak berlebihan, istrinya kini udah selesai kuliah (paramedis) dan bisa membantu nafkah suaminya.
Masih banyak cerita-cerita senada,, yang sekarang sering aku ceritakan ama teman2ku (kumpulanku masih banyak mahasiswa). Sampai-sampai aku sering dipanggil tukang kompor. Kadang berhasil kadang nggak. Kadang ada yang terbakar, kadang ada yang tetep dingin, seperti wajan yang bawahnya terlalu tebal angusnya, biar dipanasin tetep nggak panas2. Yang terbakar, kadang ada juga yang mempercayakan ama aku pengurusan nikahnya. Jadi, selain PNS, tukang kompor, dan kadang2 mak comblang jadi profesiku saat ini.
Lambatnya teman2 untuk menikah karena (diantaranya) adalah adanya rasa takut tidak bisa memberi nafkah yang cukup untuk keluarga. Seolah-olah kitalah Sang pengatur rejeki. Padahal kita semua tahu, bahwa rejeki adalah ditangan Allah. Kita selalu berhitung dengan kalkulasi matematika di atas kertas 1 + 1 = 2.. padahal Allah memiliki rumus matematika yang lain, sebagaimana sahabat yang mengadu sama rasul, bahwa dirinya adalah miskin.. sebagai solusi disarankan oleh rasul untuk menikah. Setelah menikah, dia masih merasa miskin. Disarankan untuk menikah lagi, kalau nggak salah sampai istrinya cukup empat. (bener nggak, ceritane cak faiz?). ternyata dengan menikah dia bisa memberikan nafkah kepada keluarganya, nggak hanya satu tapi empat…
Sebenarnya nggak hanya dalam konteks pernikahan kita kurang yakin akan kebesaran Nya, kurang yakin akan kemurahan Nya, kurang yakin akan janji2Nya…dalam banyak hal, dalam segala hal kehidupan kita. Sehingga terhadap sesuatu yang sudah ada takarannya (misal rejeki) kita habis-habisan mengejarnya, dan terhadap sesuatu hal yang tidak pasti (misal surga) kita santai2 aja.
Jadilah seperti burung, pagi dia terbang tanpa tahu tujuan tuk cari nafkah, sore dia pulang dengan perut kenyang.
Dia sangat yakin bahwa rejeki adalah dari Nya. Dia sangat yakin akan pertolongan Nya.
Untuk bisa jadi orang ’yakin’ sulitnya bukan main, namun bukan suatu hal yang mustahil.
Banda Aceh,
Fikik hamzah
Popularity: 31% [?]
