Archive for March, 2008

SEBUAH KERINDUAN

March 27th, 2008

(Malam Jumat 20 Maret 2008)

Merinding aku dibuatnya ,ketika wajah wajah syahdu itu melantunkan -sebuah doa, berjamaah, dan penuh makna …… Tampak tatapan mereka seolah-olah jauh kesana. Menatap sebuah kerinduan………….. Kerinduan atas kekasihnya, yang telah membentangkan cahaya keimanan. Dari madinah bahkan terasa sampai di ujung timur pulau Jawa,Maka Selawatpun mengema………….. Terbayang olehku siroh perjalanannya. Terbayang olehku penghambaanya………

Ketika pintu syurga telah terbuka seluas luasnya sebagaimana dijanjikan Alloh Swt untuk baginda. Beliau masih sempat berdiri, rukuk dan sujud diwaktu sepi dimalam hari. Meski kakinya menjadi bengkak untuk kemahuan jiwanya yg tinggi Sayidatina Aisyah pernah bertanya, “Ya Rasululloh, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?” Dengan kelembutannya beliau bersabda, “Ya Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba Nya yang bersyukur.”

Subhanalloh…

(mudah mudahan kita bisa mencontohnya……….)

Terbayang sekali lagi olehku akhlaknyaYang ketika pakaiannya koyak, beliau menambal tanpa menyuruh istrinya Sayidatina Aisyah Ra pernah bercerita, “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.” Jika mendengar Adzan beliau segera ke Masjid & segera kembali sesudahnya.

Dan pernah suatu ketika beliau pulang kerumah dalam kondisi yg lapar tapi tak menemukan apa-apa, maka Nabi bertanya, “belum ada sarapan ya Khumairoh?” Aisyah Ra pun menjawab, “Belum ada apa-apa ya Rosululloh.” Lantas Nabi berkata, “Kalau begitu hari ini aku puasa.” Tanpa sedikitpun tergambar rasa kesal di wajahnya. Karena Nabi pun pernah bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap istrinya.” Subhanalloh… (mudah-mudahan termasuk kita…)

Tersadar olehku sepotong hadist, “Sampaikan pesanku walau sepotong ayat.”

Dan saat ini Ya Rosululloh aku telah menyampaikanya walau lewat sepengal cerita

Selawat dan Salam untuk mu.

(ROFIQ BALUNG)

Popularity: 20% [?]

Nakalnya ABG, arhhh

March 27th, 2008

Beberapa minggu lalu, rumah kami kebobolan maling. Si pencuri beraksi di siang hari, masuk dari halaman belakang lalu, memecah kaca jendela toilet. Beberapa benda hilang. Berapa bulan lalu, tetangga sebelah juga dibobol maling. Lewat modus yg sama. Katanya, kebanyakan maling di sini adalah anak-anak ABG nakal, yang mulai ketergantungan sama obat-obatan, minuman dan sejenisnya. Karena hidup yang cukup susah, biaya hidup yg pas-pasan, membuat beberapa anak –anak ABG yg ketergantungan ini mencuri milik tetangganya. Ya, sudahlah saya ikhlas. Merenung kejadian ini, saya teringat waktu masa – masa ABG saya. Lulus dari SMPN favorit di kota Jember. (semoga saudara Eko mengakui kehebatan SMP kami). Masuk ke SMAN 1 Jember, yang katanya favorit juga. Mulai merasa apa itu arti „perbedaan“. Berasal dari keluarga menengah ke bawah, saya dapat uang saku yang cukup untuk naik bus kota dari jompo ke sumbersari. Jadi kalau mau makan bakso atau apa di warung SMA jember, ya pulangnya mesti jalan kaki atau buka celengan. Yang saya ingat, saya sering pulang sekolah jalan kaki, uang busnya ditabung.

“Perbedaan”: waktu smp yg naik sepeda motor bisa dihitung dengan mudah. Sedangkan waktu SMA, jelas beda banget, halaman belakang sekolah penuh dengan sepeda motor. Teman-teman sudah banyak „gandengannya“, berkat sepeda motor. Saya tidak mengeneralisasi, kalau kaum hawa adalah kaum yang materialistis loh. Cuma dari pemantauan saya yang sempit ini, banyak yang gampang dapat gandengan berkat sepeda motor. Dengan sepeda motor, bisa hunting ke gladak kembar, kebonsari, talangsari dll dengan cepat. Bahkan ada yang masih ingat, jenis-jenis sepeda motor temannya.

“Perbedaan”: ada juga yang bisa ikutan kegiatan ekstrakurikuler, misalnya pencinta alam. Untuk kaum kelas bawah, biaya sekolah aja susah, boro-boro mau bilang ikutan pencinta alam, nanti nambah biaya lagi.Meskipun berbeda, saya tetap bahagia, masih ada beberapa teman yang minim fasilitas, bahkan mungkin lebih minim lagi. Suatu hari saya dimarahi orang tua, karena ketahuan saya dan beberapa teman mengamen di kampung orang lain. Kebetulan saya bisa bermain guitar, pas malam minggu, lidah lagi sepet (alias ora ono duit buat tuku rokok), teman saya punya ide untuk ngamen. Semenjak itu, guitar saya tidak boleh keluar rumah.

“Perbedaan“ ini akan menjadi awal kehancuran atau kemenangan buat orang yang fasilitasnya terbatas. Orang yang mengalami „perbedaan“ bisa mengakhiri dengan kegiatan kriminal. Atau bisa juga „perbedaan“ menjadi semangat untuk berkarya.

Surya D. Pandita

(lagi liburan, tapi tetap diminta untuk kerja)

Popularity: 44% [?]

demo….

March 24th, 2008

‘ayah, harus transparan!”, teriak anak2ku, ditengah-tengah suara pukulan kaleng dan panci. Anak sulungku yang beranjak ABG mimpin lima adiknya demo.

’Ssst..ssst jangan berisik’ malu ama tetangga. ’ada apa? Kalau demo peralatannya yang lengkap donk. Mana spanduk, pamflet, ikat kepalanya? He..he..he…Kalian kan udah sering liat ayah berangkat demo. ’Kacang ora ninggalake lanjarane’ kata pepatah, nek bapake tukang demo, anake yo bakalan dadi tukang demo.

Emangnya ada apa, kok tahu2 ayah disuruh transparan. Apa selama ini ayah nggak transparan?

‘kami dengar ayah baru naik gaji. Kami ingin kebutuhan kami selalu terpenuhi. kalau kami minta beli buku, kami nggak mau denger ‘no money’. Coba ayah bayangin, untuk beli buku jawabanya selalu nggak ada uang, tunggu gajian… tapi beli rokok selalu ada uang. penting mana beli buku dengan beli rokok.?

Aku terdiam nggak bisa jawab. ‘jadi mau kalian bagaimana?

’kami ingin ayah buat anggaran yang jelas. Sehingga, kami tahu berapa rupiah yang dianggarkan untuk masing2 kami.

’baik kalau mau kalian begitu’. Istriku yang dari tadi hanya senyum2 liat tingkah pola anak2nya menimpali. ’ayah dan bunda, akan susun anggarannya’.

Rupanya nyusun anggaran untuk keluarga nggak sesimpel yang aku bayangkan. Anak2ku bergantian mendekati aku dan istriku tuk lakukan lobi2. entah belajar dimana mereka, apa dia tahu proses penyusunan anggaran dinegeri ini juga dari hasil lobi…semakin tinggi IP (indeks pendekatan) semakin mudah anggaran gool…seneng juga aku, melihat anak2 udah bisa membaca kondisi sekelilingnya. Bekal untuk melakukan perubahan dimasanya nanti…tinggal bagaimana kita arahkan mereka…

’ayah, maya pengin jatah maya lebih besar dibanding adik2. maya anak sulung, udah ABG jadi wajar kalau dapatnya paling banyak’ lobi anak sulungku.

Lain waktu anak kt-3 ku datang, ’Gazie pengin paling banyak jatahnya. Ekstrakurikuler disekolah banyak. Gazie juga pengin ikut les bahasa inggris, tennis, dan karate. ’Kalau gazie dapat banyak, tiap malam gazie mau pijitin ayah’ suap anakku.

Ke-empat anakku yang lain juga nggak mau kalah, dari janji2 sekedar lebih rajin bantu kerjaan ibunya sampai janji rajin mengaji dan menghafal qur’an. Semua jurus dikeluarkan anak2ku agar dapat jatah paling banyak.

Tidak terasa, udah seminggu proses penyusunan anggaran dilakukan. Sebanyak anggaran diajukan ke rapat pleno, sebanyak itu pula ditolak anak2. akhirnya, aku gunakan jurus kekuasaanku, ’kalau ditolak terus oleh kalian, kapan kita kerjanya. sekarang udah tanggal 10, maret tinggal dua puluh satu hari lagi. Sekarang, kalian mau terima atau tidak, kalau tidak terima, nggak ada lagi anggaran di keluarga ini. Biarin aja ayah dibilang nggak transparan’.

’Ayah, kami setuju…tapi kalau bisa biaya tamunya di hapus. Nilainya besar sekali’

’lantas kalau ada tamu bagaimana? Darimana ayah ambil dananya?

’terserah ayah, pintar2nya ayah aja. pokoknya kami nggak mau anggaran kami dipotong untuk biaya tamu. Kalau mau ada biaya tamu, gaji ayah harus dinaikin lagi’ timpal anak2ku hampir serentak.

Aku hanya bisa geleng2 kepala, tidak ada pilihan lain’Ok. Kita deal’

Hari-hari berikutnya, kami semua sibuk untuk merealisasikan anggaran yang telah disepakati. Betapa peningnya kepalaku karena banyak pengeluaran tidak didukung oleh anggaran…revisi anggaran tidak dimungkinkan lagi, sulap sana sulap sini, anggaran A realisasinya kita fiktifkan agar dananya dapat dipakai untuk pengeluaran yang tidak ada anggarannya. Selama ini, aku selalu ajari anak2 untuk tidak pernah berbohong, ternyata kali ini AKU telah BERBOHONG. Ya Allah ampuni aku?!!!…anak-anak jadi berlomba-lomba menghabiskan dana yang tersedia, walaupun akhirnya mereka membeli barang2 yang tidak perlu, yang penting anggarannya habis… bisa jadi, mark up juga terjadi disana untuk mempercepat proses habisnya anggaran….

Ah…baru ngatur rumah tangga aja sulitnya bukan main…bagaimana ngatur satu wilayah…bagaimana ngatur kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan negara…ah nggak sanggup aku membayangkan…betapa banyak kesalahan demi kesalahan akan kulakukan. Keinginan jadi orang no 1 mendadak lenyap.

Lantas, kalau pada mundur, nggak mau jadi pemimpin, siapa yang bakal mimpin? Kalau kita yang tahu benar dan salah tidak berani menanggung resiko… apa kita rela negeri ini diatur oleh orang yang tidak berhak? Diatur oleh orang yang tahunya, bagaimana bisa memenuhi kebutuhan diri dan golongannya saja? Diatur oleh orang yang tidak peduli dengan kondisi rakyatnya? Diatur oleh orang…dll. Tentu saja nggak rela…kita harus berambisi untuk merebut semua itu. Sebagaimana ambisi nabi yusuf untuk diangkat jadi bendahara negara, karena dipandang tidak ada lagi orang yang mampu melaksanakan tugas secara amanah… yang penting amanah dalam menjalankan tugas, ubah sistem, ubah pelaksana sistem, ubah semuanya demi kebaikan.

Adakah orang yang layak mimpin negeri ini dengan amanah?

Banda aceh, libur jumat 2008

(Tanggal berapa ya?

Dasar PNS tahunya tanggal 1 aja)

Fikik hamzah

Popularity: 28% [?]

tukang kompor

March 17th, 2008

“fik, mau nikah nggak?” temen kantorku tiba2 nanya.

Siapa sih yang nggak mau nikah, dari smp pun aku udah mau nikah. (Bahkan sampai sekarang pun masih pengin lagi…he2. Orang bilang ngamalin sunnah nabi).

“ada apa nih, kok tiba2 nanyain tentang nikah?”.

”nggak papa, ni ada cewek yang udah siap dinikahin.”

Aku mulai berhitung, nikah-nggak-nikah-nggak-nikah. Cukup nggak tabunganku ya? Dari uang pindah masih tersisa 250 ribu. Untuk ukuran makasar uang segitu nggak ada artinya..biaya pernikahan cukup mahal di makasar, (betul bu dokter sevi?)..selain biaya mendatangkan keluarga dari jawa, biaya uang naik juga mahal…pembantuku yang hanya jebolan kelas 3 SD, uang naiknya sampai 3 juta. Sementara cewek yang ditawarin ke aku, keturunan bangsawan, sarjana, berapa uang naiknya ??? hitung punya hitung, akhirnya aku mundur…”nggak dulu lah, belum cukup uangku”. Toh aku masih muda, ditunda sedikit masih bisa. Kejadian itu pada pertengahan 1992, setengah tahun setelah aku tinggalkan jawa.

Di penghujung tahun 1992, aku ditanya lagi…kali ini, aku bertekad tuk terima tawaran itu, meski tabunganku masih tetep 250 ribu.. . alhamdulillah, setelah aku bertekad dan mempercayakan semuanya padaNya, ternyata Dia banyak memberi kemudahan, rejeki mengalir begitu mudahnya,,cukup untuk mendatangkan keluarga, persiapan pesta, dan yang penting…mertuaku ternyata nggak minta “uang naik’ sepeserpun… aku jadi teringat dengan janji Nya, Dia akan meng-kayakan orang dengan pernikahan…Dia akan memudahkan jalan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Nya. Dan …jadilah aku menikah pada 8 april 1993.

Waktu tsunami di aceh, banyak relawan datang dari penjuru negeri. Diantaranya, salah seorang mahasiswa dari Solo-aku lupa namanya- dia cerita bahwa disemester dua, dia sudah menikah. Lantas, bagaimana dia bisa menghidupi keluarga ? Dengan jualan buku katanya. Setiap ada pengajian, kegiatan keagamaan, dia selalu bawa barang dagangannya..alhamdulillah, sampai sekarang-katanya- kebutuhan keluarga dapat terpenuhi walaupun tidak berlebihan, istrinya kini udah selesai kuliah (paramedis) dan bisa membantu nafkah suaminya.

Masih banyak cerita-cerita senada,, yang sekarang sering aku ceritakan ama teman2ku (kumpulanku masih banyak mahasiswa). Sampai-sampai aku sering dipanggil tukang kompor. Kadang berhasil kadang nggak. Kadang ada yang terbakar, kadang ada yang tetep dingin, seperti wajan yang bawahnya terlalu tebal angusnya, biar dipanasin tetep nggak panas2. Yang terbakar, kadang ada juga yang mempercayakan ama aku pengurusan nikahnya. Jadi, selain PNS, tukang kompor, dan kadang2 mak comblang jadi profesiku saat ini.

Lambatnya teman2 untuk menikah karena (diantaranya) adalah adanya rasa takut tidak bisa memberi nafkah yang cukup untuk keluarga. Seolah-olah kitalah Sang pengatur rejeki. Padahal kita semua tahu, bahwa rejeki adalah ditangan Allah. Kita selalu berhitung dengan kalkulasi matematika di atas kertas 1 + 1 = 2.. padahal Allah memiliki rumus matematika yang lain, sebagaimana sahabat yang mengadu sama rasul, bahwa dirinya adalah miskin.. sebagai solusi disarankan oleh rasul untuk menikah. Setelah menikah, dia masih merasa miskin. Disarankan untuk menikah lagi, kalau nggak salah sampai istrinya cukup empat. (bener nggak, ceritane cak faiz?). ternyata dengan menikah dia bisa memberikan nafkah kepada keluarganya, nggak hanya satu tapi empat…

Sebenarnya nggak hanya dalam konteks pernikahan kita kurang yakin akan kebesaran Nya, kurang yakin akan kemurahan Nya, kurang yakin akan janji2Nya…dalam banyak hal, dalam segala hal kehidupan kita. Sehingga terhadap sesuatu yang sudah ada takarannya (misal rejeki) kita habis-habisan mengejarnya, dan terhadap sesuatu hal yang tidak pasti (misal surga) kita santai2 aja.

Jadilah seperti burung, pagi dia terbang tanpa tahu tujuan tuk cari nafkah, sore dia pulang dengan perut kenyang.

Dia sangat yakin bahwa rejeki adalah dari Nya. Dia sangat yakin akan pertolongan Nya.

Untuk bisa jadi orang ’yakin’ sulitnya bukan main, namun bukan suatu hal yang mustahil.

Banda Aceh,

Fikik hamzah

Popularity: 33% [?]

Ada apa dengan SMASa???

March 15th, 2008

Alkisah, tersebutlah sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri yang terkenal puol… di Kebupaten Jember. SMA itu bernama SMA 1 Jember. SMA 1 Jember ternobat menjadi salah satu SMA terfavorit di Jember. Berbondong- bondong siswa SMP dari Jember dan sekitarnya, mendaftarkan diri agar bisa menjadi bagian dari SMA favorit ini. Jika saya tidak salah (berarti benar) sejak tahun 2005 SMA 1 Jember dinobatkan sebagai salah satu SMA di Jawa Timur yang menyandang gelar Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI). Hal ini sangat membanggakan, tetapi juga harus dipertanyakan, pantaskah gelar ini disandang SMA 1 Jember?

Dalam satu angkatan ada 7 kelas: terdiri dari 5 kelas IPA dan 2 kelas jurusan IPS. Penjurusan dilakukan menjelang kenaikan kelas 1 ke kelas 2. Saat angkatan saya akan memilih jurusan, banyak dari teman- teman saya yang tergolong anak pintar dan rajin yang ingin masuk ke jurusan IPS, akan tetapi wali kelas+BK seakan- akan menghambat dan siswa itu dibuat ragu untuk nyemplung ke jurusan IPS. Kecuali siswa yang seperti saya (yg ulangan kimianya sering dapet 35) tidak terlalu ‘didesak’ untuk memilih jurusan IPA. Anak IPS masih dianak tirikan! padahal seharusnya seimbang perlakuan terhadap jurusan IPA dan IPS. Angkatan saya IPS terdiri dari 2 kelas, IPS 1 dan 2, tiap-tiap kelas berisi 22 siswa (dikit banget kan). Tapi ternyata kami bisa membuktikan bahwa IPS juga bisa berprestasi, salah satu siswa IPS berhasil mendapatkan medali perunggu pada olimpiade sains nasional th 2006 untuk mapel ekonomi. Pihak sekolah mulai mengakui keberadaan jurusan sosial ini.

Saya juga akan sedikit bercerita tentang aksi para aktifis SMASa angkatanku. Memasuki semester V, saat itu saya kelas 3 semester awal. Ada pemberitahuan berupa selembar kertas yang dibagikan pada masing2 siswa untuk disampaikan pada wali murid. Memberitakan bahwa SPP yang mulanya 60ribuan, naik menjadi 116.000. Dan di dalam selebaran itu tidak di jelaskan mengapa kenaikan SPP itu terjadi. Lantas para siswa yang ditanyai wali muridnya, juga tidak bisa menjawab apa- apa. Kemudian beberapa dari mereka bertanya pada MPK (Majelis Perwakilan Kelas) perihal kenaikan ini. Lalu pihak MPK  menindaklanjutinya dengan bertanya kepada aparat2 sekolah (waka-waka)… mereka menjawab kenaikan ini untuk membiayai opersional SMASa, kemudian kami bertanya kok naiknya jauh banget. Jadi jika diijinkan kami ingin mengetahui laporan keuangan sekolah, untuk pengeluaran apa saja uang kami selama ini? jadi para wali muridpun tidak akan bertanya- tanya lagi. Apa jawaban dari pihak pengelola sekolah? mereka mengatakan bahwa MPK tidak memiliki hak untuk mengetahuinya yang memiliki hak adalah pihak Komite Sekolah. Ou…begitu… OK dech!

Tapi rupanya anak2 MPK tidak puas dengan jawaban itu, akhirnya mereka benar- benar mencari informasi mengenai alamat rumah Komite Sekolah, dan mereka berhasil mendatangi rumah dan bertemu dengan Ketua Komite Sekolah saat itu.  Mereka menjelaskan maksud kedatangan mereka, Komite Sekolah menerima dengan tangan terbuka. Lalu kami menyampaikan bahwa kami ingin mengetahui mengapa kenaikan terjadi, dan sekaligus kami ingin mengetahui Laporan Keuangan sekolah selama ini. Komite Sekolah tidak merasa keberatan, lalu menunjukkan Laporan Keuangan itu. Dari laporan keuangan yang kami cermati, dalam laporan keuangan OSIS selalu menghasilkan saldo laba yang terus bertambah dari tahun- ke tahun. Lalu mengapa harus ada kenaikan? padahal dalam anggaran yang diberikan pada pengurus OSIS, ekskul maupun MPK sama sekali tidak mengalami kenaikan. Mumpung ketemu komite, akhirnya kami mengadukan segala ketidaknyamanan fasilitas yang kami alami di seolah. Ada bebrapa kelas yang atapnya bocor, dan tidak segera di perbaiki, padahal saat itu musim hujan,  jadi hampir setiap pagi kelas itu becek. Kelas ini adalah kelasku, kelas IPS. Kami sudah empat kali mengadu pada Waka Sarana Prasarana, bahkan kepada Kepala Sekolah, tetapi tidak pernah mendapat respon yang positif. Toilet cowok juga sangat memprihatinkan, saat itu mereka tidak memakai gayung tapi kaleng bekas, belum lagi ada beberapa pintu yang tidak bisa dikunci. Fasilitas yang kami dapatkan sama sekali tidak sebanding dengan harga uang gedung yang kami bayar. BEP aja nggak!

Setelah mulut kami lelah berkeluh kesah pada pihak komite, akhirnya kami pamit pulang. Komite berjanji akan meneruskannya pada aparat2 sekolah yang berwenang dalam masalah ini dan berusaha untuk menampung segala aspirasi kami (kebetulan malam harinya adalah malam LPJnya pengelola sekolah pada Komite Sekolah). Keesokan harinya, matahari bersinar cerah…sekali. Bel tanda aktifitas belajar dan mengajar berbunyi, tampak siswa- siswi SMASa memasuki ruang kelas dengan rapi. Kemudian tampak beberapa anak keluar dari ruang kelas mereka menuju laboraturium kimia untuk memenuhi panggilan dari kepala sekolah. Hehehe… seluruh anggota MPK dan pengurus harian OSIS dipanggil oleh para pengelola sekolah, kemudian kepala sekolah mengatakan penyesalannya atas tindakan MPK yang mendatangi pihak komite sekolah. “Mengapa hal ini harus terjadi?”, katanya.

Tiga jam kami “diarahkan” agar selanjutnya tidak mengulangi tindakan yang sama. Keluar dari ruangan itu, kami masih belum berubah, kami masih sama seperti hari yang kemarin. Kami akan terus mengejar kebenaran sampai dapat. Meskipun pada akhirnya tidak ada perubahan pada nominal SPP kami. Tapi setidaknya kami sudah memperingatkan mereka para pengelola sekolah. Jangan mengajarkan apa itu transparansi, akuntabilitas, demokrasi kepada kami jika tidak ingin kami balik bertanya dan mempraktekkannya.

Sejauh ini, aku sudah jarang lagi mengikuti perkembangna di SMASa. Tapi yang kudengar, banyak keluhan dari pengurus OSIS, MPK dan ekskul mengenai minat yang semakin sedikit dari siswa baru untuk terjun dalam dunia organisasi sekolah. Padahal buanyak buanget yang bisa mereka dapatkan jika mereka bergabung dalam suatu organisasi sekolah. Anak2 jaman sekarang lebih suka nge-band dan jalan2 di Mall daripada mereka harus mengeluarkan keringat, dan mengrenyitkan alis sejenak,berpikir untuk membuat suatu perubahan yang lebih baik.

Popularity: 31% [?]

Bedu Jadi Bupati Jember

March 14th, 2008

Serial Asbun

“Selamat Pagi, semua…….! Perkenalkan, nama saya Bedu Harikoe. Selama lima tahun kedepan, saya akan menjadi Supervisor bapak-bapak semua ”. Itulah kalimat pertama Bedu yang diucapkan didepan semua Kepala Dinas di lingkungan Kabupaten Jember. Yaa…. sekarang Bedu sudah jadi Bupati Jember untuk periode 2010-2015. Meski sehari-harinya dia hanyalah seorang Supervisor sebuah Perusahaan Obat, tetapi dengan sistem politik saat ini, yang memungkinkan adanya Calon Independent, menjadikan dia punya kesempatan jadi Bupati. Tentunya ini juga buah dari pohon investasi politik Bedu selama belasan tahun. Hampir setiap hari, selama belasan tahun itu, Bedu mengurusi “Partai Independent”-nya menjadi partai politik “beneran”. Setelah pulang dari kerja, dia rajin mengunjungi temen-temennya masyarakat Jember (dia selalu menyebut Masyarakat Jember dengan ‘Teman-temannya’). Dari satu desa bergerak ke desa yang lain, begitu setiap hari…. sampai tuntas 12 tahun tidak ada satu desa-pun di kabupaten Jember yang belum dikunjunginya. Di setiap desa yang dikunjungipun, dia hanya menemui orang-orang yang tidak beruntung disitu, karena miskin materi, sakit, panen gagal bahkan orang yang mau dicerai suami/istrinya. Mereka diajak ngobrol, berhaha-hihi….. karena memang hanya itulah yang dia bisa dan mampu dilakukan. “Bapak-bapak semua, mulai hari ini, setiap pagi dan sore kita briefing… ” Setelah briefing pagi, bapak-bapak akan jalan ke lapangan sesuai rute yang sudah saya siapkan. Menemui orang-orang yang sesuai dengan bidang tugas bapak-bapak”. Contoh, bapak yang jadi Kepala Dinas Pendidikan, harus mengunjungi sekolah-sekolah SD-Perguruan Tinggi yang tersebar di seluruh Jember ini. Setiap hari harus mengunjungi minimal 20 sekolah dengan tingkat kesuksesan kunjungan 50%. Sukses yang dimaksud adalah bapak berhasil mengatasi masalah di setiap sekolah yang dikunjungi itu.” “Bapak-bapak akan saya bekali dengan lembar kerja harian yang berisi nama-nama orang atau pihak-pihak terkait yang dikunjungi.” Bedu menunjukkan selembar kertas ukuran kwarto yang berisi kolom-kolom yang harus diisi. “Di bagian kolom yang paling kanan, jangan lupa untuk minta tanda tangan dari orang yang bapak kunjungi.” Karena dunia Bedu adalah dunia Sales, maka yang dia tahu ketika diangkat menjadi Bupati adalah bahwa semua PNS, dari staff sampai Kepala Dinas adalah “Salesman” dia. Apa yang dilakukannya selama jadi Supervisor, dia terapkan saja ketika jadi Bupati. Dengan umur yang hampir masuk setengah abad, praktis dia sudah hampir 30 tahun ‘berkarir’ di dunia jual menjual barang itu. Setelah 25 tahun bekerja jadi Salesman, dia diangkat jadi Supervisor. Itupun sebenarnya karena bossnya kasihan saja melihat Bedu. Lha wong temen-temen Bedu sudah ada yang jadi Manager, bahkan direktur di beberapa perusahaan. Bedu tetap aja jadi Salesman. Dan yang mengherankan bossnya, dia tidak pernah mengeluh dengan kerjaannya itu. Makanya sebagai bentuk penghargaan, 5 tahun lalu, Bedu diangkat jadi Supervisor. Sekarang genap 1 bulan Bedu jadi Bupati Jember. Semua Kepala Dinas melaksanakan apa yang sudah diprogramkan Bupatinya. Mereka nggak ada pilihan lain, karena Bupati Bedu tidak ada kompromi. ” Take it or Leave it…..!”. Itu kalimat satu-satunya yang diucapkan sang Bupati kalau ada keluhan dari KaDinas-nya (karena itulah satu-satunya kalimat Inggris yang dia tahu). Persis seperti yang selalu diucapkannya saat jadi Supervisor ke Salesmannya. Sekarang para Kepala Dinas diminta untuk menyampaikan hasil kunjungan ke seluruh pelosok Jember. Dan hasilnya memang bervariasi. Ka-Dinas Pertanian, misalnya, dia benar-benar bisa menceritakan dengan detail apa sebetulnya yang diharapkan Petani selama ini. Bahkan dia juga bisa menyebutkan nama-nama petani tersebut, seolah dia sudah kenal lama. Dia juga bisa membedakan, mana petani beneran, petani penggarap, petani pengusaha (atau pengusaha petani), petani jadi-jadian (yang hanya muncul pada saat ada bantuan subsidi pupuk dari Pemerintah) dan buruh tani. Ka-Dinas Perdagangan, bisa mencatat dengan persis, siapa biang keladi fluktuasi harga sembako yang buat rakyat Jember sengsara. Tapi, ketika ditanya, apa yang akan dilakukan setelah ini, dia hanya senyam senyum, “Aaah…….Pak Bupati, kayak nggak tahu aja…..?!”. Dan, senyam senyumnya berubah semakin keras, menjadi tertawa terbahak-bahak. Nggak berhenti……!!. Oalah……….!!, pak Ka-Dinas sepertinya sudah hidup didunia lain….. dunia dimana antara kenyataan dan khayalan sudah tidak bisa dibedakan. Bupati Bedu hanya bisa mengelus dada……!!. Apa yang terjadi dengan Jember dimasa pemerintahan Bedu…..?. Apakah rakyatnya semakin makmur atau bahkan semakin kacau balau…..?. Aaah…. Bedu sendiri tidak terlalu peduli. Sang Bupati terus menjalankan kebijakannya. Siapa suruh Supervisor jadi Bupati. He…he….he…….

Jogjakarta, 14 Mar 2008. Jam 22.00

Disclamer : tulisan diatas adalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, waktu dan tempat adalah kebetulan belaka. Maafkan daku……!! Namanya juga Asbun. Asal Bunyi.

Popularity: 22% [?]

Kematian yang sia-sia…

March 13th, 2008

Dua hari yang lalu (Selasa 11 Maret 2008) di harian Kompas ada berita yang menyebutkan 35 orang telah tewas akibat kecelakaan lalu lintas di DKI (atau Jabotabek) akibat adanya lubang-lubang di jalanan.. belum lagi bicara tentang ratusan orang cedera.. (sorry gak dapat link-nya).. terus tempo hari ada truk container terbalik..dan banyak lagi yang semua bermuara dari lebih banyaknya lubang daripada jalan benernya.. lebih ironis lagi di berita Kompas Rabu 12 Maret, pendapatan DKI dari pajak kendaraan ini mencapai Rp 4,58 trilyun.. yak, bener TRILYUN.. itu duit semua lho, gak ada yang daun..hehehe..

Kalau ditelaah lebih dalam lagi sebenarnya angka-angka tersebut bukan sekedar angka statistik yang mati. Saya melihat ada potensi bangsa yang dirugikan disini akibat adanya pembiaran lubang-lubang berdiri menganga oleh pemerintah (pusat ataupun pemda).. saya tidak kenal satupun yang meninggal.. bagi yang ditinggalkan, bila yang meninggal adalah pencari nafkah utama (ayah), bisa dipastikan sang ibu pasti terpontal-pontal mencari nafkah untuk anak-anaknya..untuk biaya sehari-hari, biaya sekolah dll.. bisa jadi sang anak terputus sekolahnya karena kekurangan biaya.

Kembali ke potensi bangsa tadi. Maksud saya adalah, bagaimana jika seandainya kecelakaan tidak terjadi.. untuk skala yang lebih kecil, tingkat keluarga.. maka pemasukan keluarga akan tetap lancar, biaya sehari-hari tertutupi,anak-anak bisa sekolah setinggi mungkin. Untuk skala yang lebih besar, bangsa dan negara..bagaimana seandainya.. satu saja diantara korban yang tewas itu sebenarnya orang yang pintar dibidangnya.. taruhlah misalnya peneliti dibidang obat-obatan.. yang sebenarnya dibenak orang tersebut sedang berpikir untuk menemukan obat untuk penyakit kanker atau HIV/Aids.. atau orang tersebut adalah seorang calon pebisnis ukm yang sedang merintis usaha, yang mungkin saja pada nantinya akan merupakan usahawan sukses yang bisa menyerap ribuan tenaga kerja.. atau anak dari korban ternyata pinter, dan pada suatu saat bisa menang hadiah NOBEL.. atau banyak lagi seandainya seandainya yang lain… tapi tidak dapat terjadi karena adanya kematian yang dini akibat lubang-lubang jalanan..

Ini yang saya maksud sebagai POTENSI BANGSA yang dirugikan dengan adanya kematian yang sia-sia tersebut..Padahal ini baru ngomongin korban yang disekitar Jakarta aja.. belum diwilayah lain..

Mungkin nanti akan ada yang berkomentar bahwa kematian adalah takdir dan kita tidak bisa menghindarinya.. memang, tapi “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu merubahnya sendiri”.. Kita bisa lihat bahwa di negara-negara maju tingkat kecelakaan bisa ditekan seminim mungkin karena mereka menerapkan aturan-aturan yang ketat.. (dan juga jalan2 yang mulus)..

Seperti SBY pernah bilang, “Kalau negara lain bisa kenapa kita tidak bisa”.. Ditunggu keseriusan pemerintah dalam menghindarkan rakyatnya dari kematian yang sia-sia ini.. Kalau DKI sich sekarang sudah punya ahlinya..he..he

Popularity: 26% [?]

TERIMA KASIH CINTA : Sebuah renungan dari Ika Listyaningtyas

March 12th, 2008

Poster Filem ayat-ayat cinta ”cerita renungan ini adalah coretan Ika Listyaningtyas Van Gebang…angkatan 88..katane sih belum ndaftar di Blog sehingga blon bias upload..so dia titip untuk diuploadkan…sudah lama seharusnya tulisan ini di upload ..berhubung saat ini lagi ada momentum meledaknya filem ayat-ayat cinta..kayaknya tulisan beliau jadi relevan banget…check this out”

Di penghujung bulan February ini, ……. Ada sedikit coretan yang sekedar ingin kutuang, untuk menggores satu percikan tentang bulan yang penuh dengan cerita, terutama bagi para pemuda pemudi…seperti kita-kita waktu 20 an tahun yang lalu kali yee…

Pagi masih teramat pagi, maklum kota Depok termasuk daerah bagian Jawa yang paling bontot terima cahaya hangat itu …. Kasak kusuk terjadi disana sini, maklum anak-anak SMA dengan segala ceritanya,

aku kadang hanya bisa tersenyum dalam hati saat kadang secara tidak sengaja telinga ini mendengar bisak bisik mereka, dan obrolan mereka tentang cinta. CINTA???? Yo’i…yang kata orang sih, satu rasa yang tak akan pernah berubah sepanjang masa…. (Berubah sih enggak…tapi ngebunglon???…hehehe)

“Bu, cinta itu apa?” Tanya salah seorang anak didikku..Aku yo kaget, karena tadinya dia kupanggil ngadep hanya untuk sekedar menanyakan kemerosotan prestasinya. Dengan sedikit agak nyengir aku coba aja masuk ke dunianya. CINTA??? Apa ya????

Meluncurlah cerita tentang cinta yang dirasakan pemuda di depanku, sambil mendengarkan dengan penuh pengertian aku perhatikan sosoknya. Tinggi sedang, badan tegap, Kulit agak sawo matang, bersih, rambut sedikit ikal, hidung mancung….ah…cakep juga, tapi… kenapa dengan cintanya????

Akhirnya dengan kekuatan yang setengah menerawang dan kata-kata penuh keoptimisan aku sampaikan padanya ” sekarang kan sudah kelas III, di kesampingkan dulu lah!!! Tak kan lari gunung di kejar, kalaupun jodoh tak kan kemana, yang penting sekarang.. Fokus dan berprestasilah” Klise…sangat klise…padahal lho, semua itu kan juga tetap harus diikhtiarkan..yo enggak???

Kalo menyikapi saat usia sudah banyak begini…Aku meng iya kan, tapi sempet terlintas jua, dulu saat masih se usia mereka????, aku bertanya juga dalam hati…mbiyen aku piye yo??? Hehehe “Tahu enggak mbak, gara-gara aku gak bisa ungkapkan perasaanku pada orang yang dulu kucintai, aku benar-benar kehilangan dia!!” kata salah satu teman wanitaku beberapa bulan yang lalu, waktu ada acara talk show tentang cinta di salah satu sekolah di Depok.

“Yaaaeyaaalaaah, zaman kita kan pamali, nekad begitu” komentarku padanya sambil ketawa ngikik…walah walah..Gak kebayang!..nembak cowok gitu loh!!! Kalau di terima? Kalau dianya nyengiiiir doang….Phyuuuh!!!! mau disembunyikan dimana muka ini, ke sekolah pake masker or ber topeng??

Cinta memang ternyata banyak warna, dan aku berterima kasih banyak pada sang cinta, sang Maha penuh Cinta…seiring perjalanan sang waktu aku memahami apa itu cinta (Versi masing-masing bisa gak sama lah)..cinta kasih orang tua, karena saat ini aku berada di posisi seperti mereka, cinta sahabat, yang ternyata hingga saat ini masih terjaga rapi (…tak cangking awak2mu rek…), cinta seseorang yang dikirim Allah untuk temani hari-hariku, cinta seorang putri yang diamanahkan oleh Sang Maha Cinta padaku…..dan koq aku jadi teringat kisah teman wanitaku tadi, sambil mencoba meng explore diri, meneropong hati, mencuri kejujuran diri… Jangan-jangan, sebenarnya ada yang masih menempati sudut hati, yang bisa jadi ternyata kisahnya seperti yang tertulis diatas tadi…’ora tekan’ hehehe…. Heiiiii….atau…. ada juga yang ternyata saat ini tengah berbaris di belakangku????

Popularity: 32% [?]

Stop Press.. Internetan Murah ???

March 12th, 2008

Posting ini saya kutip dari Saudara DANNY WP di alumnismusa.com.

Disaat pemerintah memaksa kita untuk berhemat segalanya, rasanya tips berikut ini akan berguna bagi kita, terutama buat yang suka onlen sampai berjam-jam bahkan sampai masuk kategori kecanduan alias addict..

Postingnya sebagai berikut :

“  Apakah Anda termasuk orang yang menggunakan internet dengan pentarifan volume based (tarif dihitung berdasarkan jumlah data yang didownload atau diupload) ???

Saya juga menggunakan internet dengan tarif volume based. Karena menggunakan produk IM3 dengan Rp. 1/kb nya.. tentunya terasa mahal sekali untuk browsing, karena sebuah halaman web saat ini ukurannya cukup besar, apalagi yang banyak gambar-gambarnya.

Biasanya menggunakan OperaMini di Handphone bisa murah sekali penggunaannya, kenapa bisa demikian, karena sebenarnya saat kita membuka misal www.alumnismusa.com halaman web dari OperaMini kita tidak benar-benar mengaksesnya secara langsung. OperaMini merequest pada gateway/server yang disediakan Opera. Kemudian gateway/server tersebut mengambil halaman yang diinginkan dari www.alumnismusa.com, melakukan kompresi sehingga ukurannya kecil dan tampilannya sesuai dengan layar handphone kemudian mengirimkan ke OperaMini. Selanjutnya Opera mini akan menampilkannya di layar handphone kita.

Tapi bagaimana jika kita meng-connect-kan handphone ke komputer menjadi modem untuk mengakses komputer. Halaman yang kita ketik akan langsung direquest dari tempat asalnya dan akan langsung ditampilkan di layar komputer kita dengan ukuran yang besar tentunya. Apakah bisa kita mendapatkan fitur seperti di Opera Mini? Ternyata bisa, setelah coba-coba, ternyata google menyediakan fitur ini. Anda dapat mengakses situs dengan mode Hemat..

Caranya dengan menggunakan url http://www.google.com/gwt/n?u=http%3A%2F%2F[alamat yang dituju] Contoh untuk mengakses www.alumnismusa.com http://www.google.com/gwt/n?u=http%3A%2F%2Fwww.alumnismusa.com Untuk search engine Google mode hemat http://www.google.com/m Tampilannya memang agak tidak sedap di mata:-) Tapi dijamin hemat…  “

Nah, saya sudah mencoba. dan ternyata benar bahwa browsing menjadi lebih cepat karena banyak data yang dipangkas.  Tampilan memang jadi kurang nyaman, tapi bukankah ” Internet adalah kata-kata  ujar Cak Amal (nek aku ra kleru..)

Apa yang anda lakukan dengan cara diatas akan membantu mengurangi kepadatan bandwith, yang di Indonesia  masih terbilang payah. Bandwith akan lebih longgar sehingga bisa dimanfaatkan oleh mereka yang benar-2 perlu bandwith lega untuk menuntaskan pekerjaannya.

Disamping itu akan menghemat ongkos internetan kita, yang bisa dicelengi untuk bayar tagihan listrik April nanti, dimana mungkin akan banyak diantara kita yang  akan kena denda lantaran melampaui batasan 80% pemakaian listrik dari PLN.

Jadi Tunggu apa Lagi ?

( Big Thanks to DANNY WP, Come out and Play with Us here..)

Popularity: 16% [?]

Satté Kak, Sepólóh…

March 12th, 2008

Saya mengangkat diri sendiri menjadi pengurus kabinet dapur — kata tan-tretan seperti di cerita Pak Ageng Umar Kayam yang ngglêndêm habis. Para kamerad mudah-mudahan tidak keberatan, karena biasanya di revolusi mana pun mereka pidato di atas podium akbar dan bagian kabinet dapur sibuk menegakkan umbul-umbul, mengecat baliho, mengapur gerbang.

Oleh karena itu untuk dawuh pagi ini bahwa blog kita harus lebih akomodatif terhadap berbagai macam suku bangsa angkatan, hamba menghaturkan uluk salam bahwa semenjak era kalabendu sebelum kedatangan Ratu Adil atau Raja Pujangga, memang begitu adanya. Raja baru bisa berpujangga, sedangkan keadilan sering dilambangkan oleh perempuan, termasuk Dewi Keadilan.

» Read more: Satté Kak, Sepólóh…

Popularity: 14% [?]