Sebuah Buku Hitam BASIC

February 17th, 2008 by Ikhlasul Amal Leave a reply »

Di salah satu tahun — saya agak lupa tatkala kelas 3 SMP atau sudah tahun pertama di SMA, yang berarti sekitar 1984/1985 — di salah satu gedung sebelah Kantor Pos Jember, depan alun-alun (jika saya tak keliru: salah satu gedung di kompleks Pengadilan Negeri waktu itu) diselenggarakan pameran buku. Sepeda hitam Phoenix yang saya gunakan selama kos di Jember mengantarkan saya menjenguk acara tersebut.

Sebuah buku berukuran sedang menarik perhatian saya: bersampul hitam, di atasnya kuning, dan judul berwarna putih, Pemrograman BASIC. Rincian buku tersebut sudah terlupakan — hanya saya ingat terbitan Gramedia, barangkali warisan dua puluh tahun lalu itu masih tersimpan di perpustakaan keluarga saya di Balung, Jember, entah, belum saya periksa lagi.

Setelah saya beli dan membacanya lamat-lamat di tempat kos, saya tambah terpikat. Sebuah statemen yang ditulis Y = 4 * X ** 2 + 5 * X + 8 untuk y = 4x² + 5x + 8 rasanya tidak terlalu sulit dipahami. Kemudian pembuatan IF untuk pemeriksaan benar/salah juga relatif mudah diikuti. Demikian pula setelah masuk ke pengulangan (loop) dengan FOR dan WHILE: alangkah mudah menyuruh-nyuruh komputer mengerjakan puluhan atau ratusan perhitungan.

Tidak ada komputer tempat saya mencoba saat itu!

Walaupun demikian, itulah buku komputer pertama yang membuka wawasan saya bahwa pemrograman itu mengasyikkan. Beberapa hal yang selama ini saya ketahui dari matematika di sekolah, seperti pemakaian fungsi, deret hitung dan deret ukur, dapat dibuatkan programnya dengan menyenangkan.

Buku hitam tersebut saya baca berkali-kali karena memang hanya itu “fantasi” yang dapat saya bayangkan tentang komputer.

Jika penjurusan fisika (A1) di SMA adalah salah satu berkah yang saya anggap sebagai kemujuran saat mulai masuk sekolah lanjutan atas, pemrograman seperti “pintu berikutnya” yang memudahkan saya memilih bidang studi antara mata pelajaran matematika dan “kerekayasaan” (impian anak-anak pada masa itu menyebutnya sebagai, “menjadi insinyur”).

Tentu saja di awal masuk SMA saya sama sekali belum membayangkan ada “sekolah khusus komputer” di perguruan tinggi, saya pikir paling bagian dari matematika karena kedekatan bagian-bagiannya. Barulah setelah mulai diperkenalkan dengan PMDK dan persiapan Sipenmaru, saya mendengar nama yang lebih pas: Teknik Informatika.

Jurusan teknik yang “masih asing” saat itu. Salah satu anggota keluarga saya yang menjadi dosen di Unej bertanya balik: apa informatika itu? Menjadi juru penerang informasi? Soalnya Departemen Penerangan sudah punya kantor juru informasi di Jalan Jawa.

Yang menyenangkan pula: saya angkatan pertama dari SMA 1 Jember yang memilih jurusan Teknik Informatika. Entah alasannya, setelah itu jurusan ini selalu dipilih oleh adik kelas hingga — sepengetahuan saya — angkatan masuk kuliah 1991.

Demikianlah kisah sebuah buku hitam BASIC…

Popularity: 18% [?]

Advertisement

Leave a Reply