Mau tinggal di mana kita?

05 January 2008 by sevi Perjalanan

Dalam perjalanan menuju Dinkes dengan seorang kolega kemarin pagi, di tengah angin kencang dan hujan deras yang mengguyur Sidoarjo, kami sempat terlibat pembicaraan ringan tentang bencana alam yang terjadi di negeri ini, terutama di Jawa Timur. Sekarang ini, dimanapun kita tinggal rasanya semua punya potensi untuk terkena bencana alam.

Dulu, kupikir tinggal di daerah dataran tinggi, semisal Malang akan menyenangkan sekali. Sudah hawanya sejuk, panorama alam indah, tanaman mudah tumbuh dan air yang selalu segar. Tapi tampaknya keadaan tsb. tidak selalu demikian adanya. Sekarang ini, tinggal di daerah tinggi, justru ancaman tanah longsor mengintai sewaktu-waktu, terutama saat musim hujan tiba.

Di daerah pesisirpun, sebenarnya menyenangkan juga. Sekalipun hawanya relatif lebih panas. Tetapi kita bisa dekat dengan laut, bisa melihat cakrawala luas, melihat matahari tenggelam atau terbit, asik juga. Tapi, kalau mengingat bahwa tiap saat tsunami bisa datang dengan tiba-tiba, banjir pasang air laut dan badai yang memporak porandakan semua yang ada di pesisir, tentu ada perasaan takut juga. Sangat manusiawi.

Bagaimana dengan di perkotaan? Wah, tentu saja enak sekali. Secara fasilitas, semua ada dan lengkap, tinggal pilih saja yang penting ada uang. Tapi, karena biasanya penduduk lebih padat, tentu saja kawasan pemukiman jadi lebih rapat, daerah resapan air berkurang karena banyaknya bangunan2, belum lagi perilaku masyarakat yang tidak disiplin menjaga kebersihan, sistem drainase yang asal saja, perencanaan tata ruang kota yang tidak holistik. Membuat permasalahan di kota lebih kompleks. Akibatnya, ketika musim kemarau, air susah didapat dan kadang berbau serta kotor. Sedangkan saat musim hujan, air cepat sekali meluap sekalipun hanya diguyur hujan deras 1-2 jam saja.

Bagaimana jika tinggal di daerah sekitar aliran sungai? Kalau melihat betapa hebatnya sungai Bengawan Solo menenggelamkan kota2 di sepanjang alirannya dan menghancurkan semuanya, aku ngeri juga membayangkan. Padahal di Jember saat kecil dulu, keluargaku tinggal di pinggir sungai Bedadung. Sampai kelas 4 SD, rumahku di daerah Tembaan (d/h jl. Untung Suropati), masuk gang, dan rumahnya berjarak 50 meter dari tepi sungai. Ketika musim panas menyenangkan sekali bermain di sungai. Berenang, cari ikan, atau sekedar duduk2 di bebatuan yang besar sambil menikmati sensasi kaki yang digigiti ikan kecil-kecil. Airnya masih jernih kala itu, ikan-ikan yang berenang tampak jelas, wah asik dah! Tapi jangan tanya kalau pas musim hujan. Air sungai Bedadung yang tadinya jernih, bisa berubah jadi coklat, lebar sungai jadi 2 kali lipat, permukaan air meninggi, belum lagi suaranya yang gemuruh. Serem! Hanya karena posisi sungainya yang dalam, kekhawatiran karena banjir tidak pernah ada. Entah sekarang, bagaimana kabar si Bedadung?

Lantas, dimana sebaiknya kita tinggal? Yah…, dimanapun kita tinggal kini, apapun dan bagaimanapun keadaannya, itulah tempat kita yang terbaik. Asal kita bisa menjaga, merawat dan mencintai lingkungan sekitar dan rumah kita, tentu akan menjadi tempat yang sehat, indah, nyaman dan menjadi tempat yang paling dirindukan saat kita pergi.

Tak terasa, percakapan pagi itu harus diakhiri karena sudah sampai di tujuan. Hujan masih deras, angin sudah berkurang kecepatannya, jalan raya Porong hari itu ditutup total karena tanggul jebol dan membanjiri jalan raya sampai setinggi dada. Benar-benar pagi yang suram, tapi banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dan renungan.

Aku jadi ingat pertanyaan yang dilontarkan anak sulungku kepada ayahnya. “Pa, orang Amerika sekarang sudah merencanakan untuk tinggal di bulan, jika tanah di bumi sudah habis. Lalu kita orang Indonesia mau tinggal di mana?” Apakah kecemasan dan kekhawatiran yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kita? Kuharap tentu tidak.

Popularity: 17% [?]

Print This Post Print This Post

18 Responses

  1. Tinggal di Jember…..
    kayaknya di kota Jember adalah tempat yang cozy untuk tinggal…daerah dataran rata dengan sungai yang dalam…sangat dalam bahkan…S. Bedadung,,S Jompo..gak pernah terdengar gak mampu menahan luapan air seberapapun tercurah dari langit…aku pengen punya rumah di daerah Gebang di Jl. baru yang tembus ke Kreyongan..tanah menghadap Gn. Argopuro kayaknya asyik punya….tapi kalo soal bencana …kuasa Allah SWt tidak memungkinkan kita untuk bisa menyatakan suatu tempat 100% secure….jadi Jemberpun gak akan luput juga jika Allah menghendaki…
    tetapi dari sisi kerusakan daya dukung alamnya untuk kota Jember ( di Gebang terutama) kayaknya gak parah amat….dengan model pengelolaan kebersihan dan ketertiban kota yang disiplin dan sustainable…kayaknya jember akan jadi pilihan terbaik untuk alumni SMA 1 Jember..he..he..he..

    btw..kalopun mesti pensiun di jogjakarta sih…gak pa pa juga…he..he..he..

    06. January 2008 - ekoz-guevara
  2. aduh, aku membaca tulisan sampeyan itu aku ikut sedih mas sevi. iya, ya di mana kita harus tinggal dengan keamanan yang sangat tinggi, kayaknya ga ada ya. seperti yang dikatakan mas eko ga ada suatu tempat 100% secure… , kalau Allah sdh menghendaki apalah arti semuanya. ah, mudah-mudahan Allah menjauhkan itu semuanya dari kita, juga seluruh wilayah Indonesia. Amien.

    sbg tindakan kewaspadaan mungkin ga ada salahnya kita mengetahui sejak dini prakiraan cuaca melalui laporan citra satelit yg. selalu diupdate tiap jam. informasi ini dapat sampeyan liat di multiply-ku bagian link. semoga bermanfaat.

    06. January 2008 - omdhe
  3. He..he.. kok jadi Mas Sevi, kalo guyon Omdhe kadang agak kebangeten he..he…
    Aku mo tinggal dimana nanti ya? Kayaknya gak mungkin balik ke Jmeber, pasti diprotes Istri yang orang Semarang. Tinggal di Semarang? panas banget, gak kuat aku. Balik ke Semawung, Ngandong Boyolali tempat Nenek Moyang Istriku? wah gak kebayang.. Adoh lor adoh kulon…
    RAsanya di Bale Endah nan permah, di Selatan Bandung yang Indah di kelilingi perbukitan di tepi aliran sungai Cisangkuy sampai saat ini tetep jadi pilihanku….

    07. January 2008 - Rizal
  4. 07. January 2008 - omdhe
  5. maksudnya, sorry………….

    07. January 2008 - omdhe
  6. sangat menarik tulisan dr sevi kali ini, memang seharusnya kita tidak boleh punya perasaan “sudah merasa aman” tinggal di daerah tertentu yg menurut perhitungan, pertimbangan dan penerawangan kita sudah ‘the best place’, semua gusti Allah yg ngatur, selama kita masih berkeyakinan Allah masih melindungi kita, insya Allah kita akan terselamatkan.
    contohnya Jember, siapa yang nyangka kota yang kita diami sejak ‘lahir procot’, sd, smp, sma pada masa2 kita sekolah kayaknya adem ayem aja,tidak pernah keduman bencana alam, lha kok ujug2 kira2 3 th lalu dapet banjir di daerah sukorambi, panti dan imbasnya sampai kali bedadung di kaliwates
    yakinlah, bahwa tinggal dimanapun kita tidak mungkin 100% terlepas dari kemungkinan bahaya, baik bencana alam atau yang lainnya.
    bahkan kita tidak akan pernah tahu, kalau saat kita tidur nyenyak dalam kamar kita yang mewah ber AC, sambil mangap2,.. tiba tiba ketiban genteng.. hehe

    07. January 2008 - afton
  7. Sebagai tambahan ,memang sih hidup kita di tangan Allah, tapi mungkin kita perlu introspeksi juga bahwa bencana yang terjadi akhir2 ini karena ulah manusia (termasuk kita2 ini). Jadi alangkah baiknya kalau mulai saat ini kita menanamkan sejak dini ke anak2 kita untuk lebih menjaga, memelihara dan mencintai lingkungan sekitar. Menanamkan disiplin dalam perilaku sehari-hari, menghargai orang lain dan yang paling penting kita sebagai ortu memberi teladan juga buat anak2, karena kita adalah model bagi mereka. Begitu mungkin tan tretan…Mas Omdhe, ga weruh tah lek aku wedhok…hehehe

    07. January 2008 - sevi
  8. Insya Allah, kalo sudah sukses saya kepingin bikin rumah sendiri di Jember. Tidak ada yang senyaman “Home Sweet Home” Jember. Mudah-mudahan sempat beli tanah buat bangun rumah sebelum jember jade kota metropolitan.
    O ya, sekalian memberikan info buat kakak-kakak alumni smu 1 jember yang ad di situs ini. Kami mengundang kakak semua untuk bergabung dalam http://alumnismusa.com
    dimana dalam tahun baru ini kami sengaja mengubah format forum kami yang memungkinkan kakak semua bergabung tanpa merasa canggung dengan topic yang ada. Kami sengaja membuat forum khusus tiap angkatan seperti angkatan 1988 yang dimana kami menunjuk mas eko(ekos_guevara) sebagai administratornya, selain itu kami juga membuat forum angkatan 1998 , 2003 dll. Selain forum angkatan, kami juga membuat forum global dimana kita semua dapat bebas berekspresi, juga forum event seperti Kirana dan nuansa biru, forum ekspert seperti dunia IT, kesehatan dan medis (mungkin dokter sevi berminat). Sebelumnya saya ingin menjelaskan bahwa forum alumnismusa.com bukan merupakan forum yang dibuat khusus untuk suatu ankatan tertentu, juga bukan dibuat sebagai tandingan situs/forum alumni yang sudah ada. Kami hanya ingin alumni sma 1 jember angkatan berapapun dapat saling bersilaturahmi dan mengajak para alumni berperan serta memajukan kader-kader sma 1 jember baik yang masih di bangku sekolah maupun yang sudah menyelesaikan sekolah.
    Kami sengaja membuat forum tiap angkatan diluar forum global dan lainnya bukan bertujuan untuk “mengkotak-kotak” alumni sma 1 jember, tetapi hanya bertujuan agar alumni merasa nyaman. Karena beda jaman mungkin ada sedikit perbedaan minat terhadap suatu topic yang dibahas misalnya alumni ayah saya yang lulusan 1977 tentu beda minatnya dengan saya yang alumni 2003. Hal ini juga lantas tidak membuat membuat suatu forum angkatan tertentu menjadi “forbidden” untuk diikuti oleh angkatan lainnya, bukan tidak mungkin teman-teman dari angkatan 2000 an seperti saya ingin melihat bagaimana hiruk pikuk jember di tahun 80 an, tentu saja dengan merujuk ke forum alumni 80 an saya dapat merasakan “soul” jember d era 80 an.
    Akhir kata(alah… ko’ kaya’ ceramah saja saya ini)Kritik dan saran kakak kakak semua sangat dibutuhkan untuk pengembangan situs ini.
    Besar harapan kami agar kakak bergabung karena kami, adik-adikmu yang masih hijau, yang sedikit lagi akan meninggalkan bangku pendidikan(perkuliahan), yang sebentar lagi harus melakukan transisi menuju “kehidupan yang sebenarnya” tentu membutuhkan bimbingan.

    PS: mas eko kami pilih sebagai moderator karena saat ini hanya beliau yang bergabung.

    08. January 2008 - Jaka
  9. He..he..he..
    Gaya takone bu Sevi metu njembere….
    Ngomong, ngomong soal tempat tinggal yoopo le’e awak dhewe kabeh iki tonggoan ae, dadi iso ngobrol sa’ kate’e ….

    08. January 2008 - omdhe
  10. Cak Dhe,
    Nek tonggo-an, durung mesthi iso ngobrol enak koyo nang blog. Mergane ben dina ketemu, topik sing dirembug wis padha dingerteni. Dadine gak seger blas.

    Mulane awak dewe iso ngobrol gayeng nang blog, merga ana jarak antarane kabeh penghuni blog. Iso crita werna-werna sing ora dialami karo kanca liyane.
    Kados pundhi, sedherek ?

    09. January 2008 - Faiz Sahly
  11. Banjir memang musibah. Kadang-kadang ngak bisa dihindarin. Tapi banyak juga loh banjir yg disebabkan oleh keteledoran-keteledoran kita. Kadang-kadang masalah banjir lebih ke masalah sosial, ekonomi, politik dan hukum, ketimbang dari segi teknologinya.

    Misal banjir yg disebabkan oleh penyalah-gunaan daerah aliran sungai sebagai pemukiman atau tempat kerja. Penegakan hukum kurang sekali. Terus mengenai buang sampah sembarangan. Ada juga yg mencebol bendungan atau aliran sungai yang macet..

    Dulu, saya juga membuang sampah sembarangan, apalagi kalau musim hujan, buang sampah tinggal dikintikan di kali kecil dekat rumah yg menuju ke sungai jompo.

    Sekarang ora wanni, buang sampah sembarangan, bisa-bisa di cell atau di denda. Daripada di denda, uangnya lebih baik dipakai nonton Arsenal di stadium Emirates.

    09. January 2008 - surya
  12. Rizal..rizal…yen awaknya peno pasti pilih mBandung sebagai homebase pensiun dibanding Semarang…padahal kota lumia itu juga top markotop untuk dadi pilihan empat tiggal ..( Cak afton iku bojone yo wong semarang lho?…)

    kalo Faiz….kayaknya dia gak mungkin jauh dari blumbang utowo Waduk..mangkane Jember gak masup kriteria tujuan pengsion…dia dah asyik masyuk di kaki Gn. Tidar kayaknya….

    kalo Aku…he..he..he…..

    kalo Dr.Sevi..kayaknya jadi wong Maksassar mie? bikin rumah di sana kah?…Pannakukan…atau…dekat Karebosi?…

    09. January 2008 - Ekoz Guevara
  13. For Ca Surya…
    tinggal di Matt Busby Avenue kayaknya jauh lebih keren eh…daripada deket-deket Emirates….

    hua..ha..ha..ha…
    MU still rule the Britton….

    09. January 2008 - Ekoz Guevara
  14. Polemik siapa yang paling bertanggung jawab bila terjadi bencana alam lokal sebenarnya ada di pundak PEMDA masing-2 kota. Ibarat orang punya rumah, sebenarnya PEMDA-lah yang paling punya kuasa mengelola wilayahnya. Mau dihancurkan atau dilestarikan, itu hak prerogatif mereka.

    Kalau pun ada intervensi dari pihak luar (Propinsi atau Jakarta), andai dipikir mendalam tentang manfaat dan mudharat-nya untuk warga lokal dan sekitarnya, tentunya akan pilih membela tempat hidupnya.
    Siapa lagi yang harus membela dan mengelola lahan hidup kalau bukan masing-2 dari kita ?

    09. January 2008 - Faiz Sahly
  15. mau tinggal di mana ?
    yah, di rumah yang sekarang aja, dinikmati aja…
    itu sudah pilihan yang kuasa…
    asal tetep waspada ..
    gitu kan, daripada bingung mikirin cari tempat tinggal lagi..
    gimana pekerjaan kita, gimana sekolah anak kita…
    aku aja yang tinggal di kaki gunung semeru yah, kunikmati aja, sambil terus berdoa mudah-mudahan gak mbeldos…

    09. January 2008 - omdhe
  16. Siiip, setuju. Itu inti pesan moral dari tulisanku kali ini, sekalipun aku dewe yo agak ketar ketir karena lumpur di Porong itu. Tunggu tulisanku berikutnya, salam sayang buat keluarga yang di rumah semuanya ….

    09. January 2008 - sevi
  17. For Jaka….
    apa yang sudah angkatan 2003 bikin dengan alumnismusa.com adalah ikhtiar positif yang luarbiasa…so..keberadaannya..juga blog ini ato group diskusi di alumni SMAN 1 JEMBER adalah saling melengkapi..Klompencapir…eh..Komplementer so teruskan aja semua…kan Fastabiqhul Khoirot….

    untuk teman alumni yang belum punya gardu/pos untuk pul kumpul gak rugi terima ajakan si Jaka…untuk 1987 (gimana the three musketers Cak Omdhe-Cak Afton-cak surya)…ato angkatannya Rizal…ato Budi angkatan 1990….boleh tuh….

    kalo angkatan 1988…kebetulan dah punya milis di yahoogroups …sehingga mohon maaf kalo jarang posting ndeksana..btw..Tks apresiasinya untuk kita-kita…
    untuk bu dokter sorry iki OOT banget…

    15. January 2008 - ekoz-guevara
  18. Bulan Agustus tahun ini rencananya kantor pusat kantorku, pindah ke jakarta dan berarti aku juga wajib berangkat. Masalahnya, ngeri banget lihat banjir yang sering melanda jakarta. Meski surabaya relatif dekat dengan lumpur lapindo, rasanya saat pensiun kelak, meding balik lagi ke surabaya. soalnya dah terlanjur kerasan dan deket ama keluarga besarku. he3

    03. March 2008 - triani (wiwid)

Leave a Reply