Jember Trip 2008

January 10th, 2008 by faiz_sahly Leave a reply »

Menjelang tanggal 31 Desember 2007, aku sedikit was-was. Rencana ke Jember untuk sowan orang tua dan njemput anak terancam gagal sebagai akibat banjir yang melanda wilayah Jateng dan Jatim. Luapan air Bengawan Solo yang makin menyebar, membuat jasa transportasi antar kota terganggu. Setelah cari info sana-sini, akhirnya tak tekati mabur dari Jogja ke Surabaya.

Senin jam 13.15 waktu Surabaya. Angin sejuk menerpa, sedikit mendung membuat suasana kota Surabaya terasa nyaman. Nggak seperti biasanya.. puanass. Aku nelpon Dr. Sevi dan Cak Ariek untuk melaporkan kehadiranku di Jawa Timur setelah hampir 2 tahun meninggalkannya. Tepat jam 2 siang, Bis Patas TJIPTO mengantarkan aku dan istri melalui kota “setengah mati” PORONG.

Miris rasanya melihat Porong yang dulu gegap gempita dengan beragam aktivitas sosial ekonominya. Kini sebagian sudah dibiarkan terbengkalai oleh penghuninya dan entah kapan mereka akan kembali membangunnya. Debu tebal menempel di tembok-tembok toko atau rumah di tepian jalan raya Porong. Semakin menguatkan isyarat “kematian” akan datang ke kota ini.

Selepas dari Gempol, perjalanan lancar-lancar saja. Menjelang jam 7 tepat, kami menapakkan kaki di Terminal Tawang Alun Jember. Yang terpikir, sesaat setelah masuk mobil adalah perut belum diisi. Wah enaknya beli Martabak Malabar di Jalan Trunojoyo. Kami mampir untuk beli Martabak Legendaris ini, yang konon punya “konstruksi” berbeda dibanding martabak lainnya.

Biasanya martabak dibuat dengan kulit yang cukup lebar sebagai bungkusnya dan diisi adonan telur daging didalamnya. Martabak semacam ini, akan keras bila digoreng atau dipanaskan kembali. Tapi Martabak Malabar tersusun dari kulit di tengah dan diapit oleh adonan telur daging tersebut. Tebal dan menggugah selera.. Bila dipanaskan kembali, nggak mengeras karena kulitnya di tengah. Bisa dibilang inovatif.

Sembari menunggu Martabak selesai, hujan deras mulai mengguyur. Aku kembali teringat daerah Porong. Jebolkah tanggulnya kalau hujan begini derasnya ? Bagaimana di Bojonegoro? Tuban, Gresik atau longsorkah di Wadaslintang ? Malam Tahun Baru kali ini betul-2 diliputi perasaan was-was dalam hati. Berita Tivi yang memaparkan kondisi terkini di daerah bencana, masih belum menunjukkan kemajuan yang berarti buat para pengungsi.. Air..air.. air dimana-mana, menggenangi dan menenggelamkan harapan sebagian saudara kita… Detik-detik peralihan Tahun kulewatkan dengan tidur lelap.. capek dan penat.. setelah perjalanan panjang tadi siang.

Selasa malam esoknya, aku janji mau ke Rumah Yusi dan Yennie, tapi sebelumnya aku sempatkan dulu cari makanan lawas yang telah lama tidak aku nikmati. Kupang Lontong dan Sate Kerang di sebelah selatan BRI Alun-alun dalam sekejap pindah ke perutku. Ketika lewat depan alun-alun tampak banyak orang sedang mempersiapkan sebuah acara. Ternyata Kota Jember akan di-Ulang Tahuni ke-79. Alun-alun Jember sekarang tampak lebih terawat. Lebih cantik atau tidak, tergantung yang nyawang. Deretan Pohon Kelapa yang tertanam rapi di sebelah utara alun-alun bermandikan cahaya lampu, menambah gemerlapnya suasana malam di alun-alun.. (Omong-2.. Tagihan Listrik Pemda mestinya melonjak juga nih.. Lha Listriknya dipanjer terus..)

kantor-pemda.JPG

Sekitar 2 jam aku ngobrol dengan Yusi dan Yenie. Ragam cerita tentang nasib baik dan tidak baik kawan-kawan lama meluncur dari mereka. Melu bungah kanggo sing kasil.. Melu prihatin kanggo sing nandhang sungkowo.. Sepulang dari Tegal Besar, aku jeprat-jepret foto di Pasar Tanjung, Jembatan Kali Jompo, Al Baitul Amien dan Jembatan Semanggi. Semua padhangdan terang oleh gemerlap lampu kota.. Aku nggak bisa ngomong apa-2 selain menikmati suasana malam dari sadel motor..Keinginan untuk makan Ketan Ayu di Cokroaminoto nggak kelakon, kalah dengan pesona nostalgia Jember In The Night.

baitul-amin.JPG

Rabu pagi diajak ayah ke Situbondo. Pulangnya beli Soto Madura Asli di Panji. Ambune.. wuahhhh.. nggregesi, Cak. Di desa Traktakan Bondowoso beli Wader Goreng. Waduh sing iki yo marai ngiler tenan wiss.. Acara malam kulewatkan dengan menikmati soto dan wader yang dibeli siang tadi. Weteng dadi seseg mergane wareg.. terus keturon.. Dalam tidurku, aku mimpi datang ke SMA 1 Jember.. ketemu para guru dan kawan-2.. Ehh, tahu-2 adzan subuh terdengar.. Mak gragap.. tangi ndang adus. Dandan rapi, trus mangkat nang sekolahan.. Sebelum ke sekolah, aku mampir beli karcis untuk pulang. Tiket Mutiara Siang sudah kugenggam. Pinginnya sih mau motret Stasiun Jember, mumpung sudah di sana. Tapi kok nek disawang-sawang, Stasiune norak banget, nggak serasi dengan lingkungan sekitarnya.. Maunya pilih cat yang bergaya posmo, eh.. kok malah kebablasen. Kesan lawas dan elegan menjadi hilang. Akhirnya kubatalkan niat untuk memotret Stasiun Kereta Api di Jember itu.. Gak sreg blass.Mass Destructionnnn….

Beberapa menit kemudian, sampailah aku di SMA 1 Jember. Aku melewati kawasan Gunung Batu Permai. Jepret.jepret.. dapat 2 gambar proses penghancuran bukit batu di jalan Karimata tersebut. Mungkin 1 – 2 tahun lagi, ketika melintas disitu, aku sudah nggak bisa menemukan bukit itu lagi. Lha wong tiap hari digali dan dikepras untuk pembangunan kota.. Semoga saja nggak ada yang punya (duit dan) ide gila untuk mengepras Gumuk Kerang untuk dijadikan area penambangan galian tipe C. Bisa semakin hilang “Trade Mark” kota Jember pada tahun-tahun mendatang.

sma-1-jember.JPG

Setiba di SMA 1 Jember, disambut oleh Satpam. Sesaat aku perhatikan deretan depan bangunan tua SMA 1 ini. Secara fisik tidak dirubah, hanya cat-nya berganti warna biru. Fungsi ruang pun juga berganti. Mulai dari barat, yang dulunya kelas 2 Biologi 1 (dekat WC), sekarang diubah menjadi Ruang Bimbingan dan Konseling. Pak A.A. Rasyid yang bermarkas di sana. Sebelahnya, yang dulu Ruang BP dan Kepala Sekolah, difungsikan sebagai Ruang Tata Usaha yang dikomandani oleh Bu Titik. Sebelah pintu masuk, sekarang menjadi Ruang Kepala Sekolah (d/h 2 Biologi 2) dan eks 2 Biologi 3 menjadi Ruang Wakil Kepala Sekolah. Sementara yang di pojok (eks 2 Biologi 4) nggak begitu jelas untuk apa.. Soale gak tak inguk.

Yang pertama kutemui adalah Pak Dja’i dan ternyata beliau belum lupa dengan wajahku. Kebetulan juga Bu Nunik ada sikelas-3-bio-1.JPG samping beliau. Saat melihat Kostum yang kukenakan, Bu Nunik berujar ” Wah, apik kaose..” Aku mengutarakan niatku datang ke sekolah adalah untuk mencari data lama angkatan 88. Karena saat itu masih ada tamu, Pak Dja’i menyarankan aku untuk menghadap pak Rasyid. Kami saling bertukar cerita. Dari pak Rasyid, sudah banyak guru-2 kita yang telah memasuki masa pensiun. Antara lain Pak Imam, Pak Dzulkifli, Bu Prang, Pak Ramli. Pak Turasman sekarang sudah menjabat sebagai Kepala Sekolah. Di mana tepatnya aku nggak tanya. Sementara itu, Pak Jono Biologi dan Pak Mulyani Matematika sudah wafat. Pak Rasyid sendiri menyatakan akan pensiun tahun 2009 nanti. Beliau tampak senang dengan kehadiran murid-murid angkatan lama ke SMA 1 ini Aku melanjutkan melihat-lihat situasi sekolah dulu. Lapangan tanah yang biasa untuk upacara bendera, sekarang telah dirapikan dengan pemasangan Paving Blok. Sehingga bisa juga berfungsi sebagai lapangan Basket.

terasnya-3-bio-4.JPG

Secara umum, gedung bagian depan sampai belakang (deretan kelas 3 Biologi 3 sampai 3 Sosial 2) masih sama. Yang banyak berubah adalah deretan Lab. Fisika, Lab. Bahasa, Perpustakaan dan Rumah Dinas Kepala Sekolah dulu. Semua sudah jadi gedung berlantai 2. Bagian bawah berfungsi sebagi ruang kelas dan ruang kegiatan macem-2.

Parkiran masih berfungsi sama, hanya nggak ada lagi pohon Apukat rindang yang menaungi motor-2 disitu. Sebelum pulang, aku tengok lagi deretan depan kelas 3 Fisika 1 dulu. Kebetulan ada Bu Kartini sedang mengajar. Kami ngobrol sejenak dan berfoto di depan kelas (foto-foto lainnya aku pajang di Gallery).

lorong-gelap-2-f1.JPG

Akhirnya aku masuk ke Ruang TU untuk mendapatkan data angkatan 88. Saat disodori buku Induk Siswa, aku jadi tersenyum memandang wajah-2 lama teman kelas 1-1. Segera saja aku salin ke dalam kamera digital. Melihat begitu tebalnya buku induk, wah.. rasanya perlu waktu 1-2 hari untuk menyalin semua berkas itu. Aku hanya sempat menyimpan data lengkap kelas 1-1. Sementara data siswa 88 kudapatkan dari daftar pengambilan STTB. Nah justru ini yang kita cari.. Daftar seluruh siswa angkatan 88 berdasarkan kelas masing-2… Aku pulang dengan perasaan puas.

Malam harinya, aku ketemu Cak Roen di Alfa. Kuceritakan kalau aku habis dari sekolahan. Saat aku katakan kalau data lengkap angkatan 88 ada dalam buku induk yang cukup tebal, Cak Roen berencana (semoga kelakon) untuk meng-kopi semua data dari buku induk tersebut.

Jumat pagi aku bersiap pulang ke Magelang. Hujan mengguyur kota Jember sejak pagi. Pukul 11 siang tiba di Stasiun dan dari jauh tampak sepi-2 saja. Nggak tahunya, Kereta Api cuma bisa jalan sampai Bangil, karena rel-nya terendam air bercampur lumpur sebagi akibat jebolnya tanggul di daerah Porong. Waduh.. mumet jadinya. Setelah berembug dengan keluarga di rumah, aku sekeluarga diantar naik mobil ke Surabaya. Dari Arik, aku dapat kabar kalau kawasan Krian-Mojosari siang itu macet total. Dalam hati aku berharap agar genangan air sudah mulai surut setiba di kawasan Porong nanti.

Alhamdulillah, meski merambat saat memasuki jalan alternatif di desa Prambon, kami sampai juga di penginapan pada pukul 22 WIB (Terima kasih buat Om Marbaie dan Cak Heri yang telah mengantar kami).

Pukul 7.15 WIB kami sudah siap di Stasiun Gubeng menanti Kereta diberangkatkan. Cuaca hari Sabtu pagi cerah sekali. Langit tampak biru dan angin sepoi-2 siap menemani perjalan pulang kali ini. Magelang .. kami pulang..

two-towers-madiun.JPGstasiun-gubeng.JPG

Ahh.. meski diwarnai keraguan, akhirnya perjalanan pulang ke Jember benar-2 menyenangkan. Semoga di Idul Fitri Oktober nanti, kami bisa kembali.. Jember, sambutlah kami kembali.

Popularity: 35% [?]

Advertisement

Leave a Reply