Jember-Koe

January 11th, 2008 by ariek Leave a reply »

Tulisan dan photo K. Faiz mengenai Jember ditambah dgn artikel Kompas, Minggu, 6 Januari 2008, yang kebetulan mengulas sosok Dynand Fariz (DF) sebagai penggagas Jember Fashion Carnaval (JFC), ‘memaksa’ saya jadi belajar menulis. Sesuatu yang agak jarang ditemui dalam dunia kerja saya yang serba ‘koboi-koboian’ ini. Jadi jangan heran kalau tulisanku rodho ‘ngoboi’ alias ancur.Khusus mengenai DF, bukan JFC-nya yang menjadi fokus perhatian, tetapi pola pikir dari seorang DF yang menurut saya sangat menarik. Dan lebih menarik lagi kalau hal ini dikaitkan dengan perkembangan Jember saat ini, yang bagian kecilnya terlihat dari photo-photo K. Faiz. 

Paling tidak ada 3 poin yang bisa diambil dari pola pemikiran DF :

  1. Melihat dengan cara berbeda (dari kebanyakan orang)

Jujur saja, saya tidak pernah bisa membayangkan Jember akan menjadi pusat perhatian Mode/fashion (setidaknya itu yang bisa dilihat dari begitu banyaknya ulasan Media Dalam Negeri dan Luar Negeri mengenai JFC). Masyarakat Jember selama ini di kenal sebagai masyarakat agraris dengan kultur santri yang kuat khas masyarakat Tapal Kuda. Mungkin seorang Clifford Geertz-pun akan sedikit bingung melihat keunikan Jember ini, karena dia hanya mengelompokkan masyarakat Jawa dalam dikotomi Santri, Abangan dan Priyayi. Di Jember, ketiga komponen ini, nyaris tidak bisa dipisahkan dalam alur yang jelas, seperti masyarakat Jawa di Jawa Tengah. Dalam setiap studi yang berkaitan dengan masyarakat Jember, hampir selalu mengelompokkan kedudukan Jember di Jawa Timur dalam lingkup komunitas Santri Agraris, seperti halnya kota-kota  Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Lumajang sampai Pasuruan. Dengan pola pemikiran semacam ini, yang ada dalam benak kita adalah kalaupun Jember nantinya akan terkenal, pasti nggak jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan Pertanian, Perkebunan, Pondok Pesantren, Kyai/Ulama, Santri dan seterusnya.Tetapi DF melihat Jember dengan cara berbeda. Jember justru punya potensi dalam hal  Mode/Fashion ataupun segala sesuatu yang berbau hedonisme, yang selama ini hanya didominasi oleh kota-kota Besar. DF adalah produk asli Jember dengan penambahan ’bumbu’ ilmu pengetahuan dari luar Jember (bahkan dari luar negeri). Melihat background dia, rasanya kita bisa memaklumi mengapa dia mempunyai kemampuan seperti itu. Baru-baru ini ada suatu survey dari harian Jawa Pos (saya lupa tanggalnya), yang membandingkan performance Kabupaten/Kodya di Jawa Timur. Perbandingan itu menyangkut hampir semua sektor di masyarakat, seperti Pendidikan, Sosial Budaya, Ekonomi . Yang memprihatinkan, hampir disemua kategori, Jember sekarang relatif tertinggal dibandingkan kabupaten/kodya di Jawa Timur. Rasanya kalau tidak ada terobosan yang ’Progressif Revolusioner”(meminjam istilah Kamerad Ekos), Jember akan semakin ketinggalan. Mungkin kita harus berpikir seperti DF untuk membuat Jember lebih berkembang. Saya percaya ’bahan baku’ Jember adalah bukanlah sekedar ’bahan baku’ yang ecek-ecek. Persilangan 2 budaya Jawa dan Madura yang membuat Jember nyaris tidak punya Budaya Asli, justru akan menghasilkan masyarakat yang cenderung egaliter dgn etos kerja yang hebat. Mungkin kalau diminta menuliskan orang Jember yang ’sukses’ dibidangnya,kita perlu berlembar kertas . Orang-orang ini adalah modal dasar berharga untuk mendapatkan pemikiran yang berbeda (baca : kreatif), seperti halnya DF. Sekarang tinggal gimana caranya membuat wadah buat orang hebat Jember agar mereka mau menuangkan ’ide gilanya’ untuk kemajuan Jember. 

  1. Kemampuan menuangkan pemikiran ( ke dalam penerapan lapangan).

Pemikiran bagus tanpa implementasi yang bagus, juga akan mubazhir alias sia-sia. Implementasi bagus juga tidak stagnan pada hal-hal yang sudah menjadi common sense selama ini, selama itu masih dalam koridor konsep pemikiran, implementasi tidak akan kehilangan esensinya. Mungkin kalau DF hanya terpaku pada penerapan mode/fashion dalam bentuk fashion show atau pembukaan boutique, JFC tidak akan terkenal begitu cepat atau bahkan akan mati cepat. Dengan cerdik dia memlih konsep Carnaval, yang bahkan dikota-kota besar di Indonesia, belum diterapkan. Pilihan ini tentunya juga sudah mempertimbangkan segala hal yang berkaitan dengan Jember. Saya pernah membaca tulisan dari DR Ayu Sutarto, Budayawan dari Univ. Jember, salah satu ciri Masyarakat Kultur Pendalungan, seperti halnya masyarakat Jember, adalah terbuka dan mempunyai kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Ketika memilih cara menerapkan konsep pemikiran kita di Jember, kita tidak perlu takut akan terjadi penolakan besar-besaran dari masyarakat Jember, selama kita yakin hal ini akan membawa masyarakat Jember ke arah yang lebih baik. Contoh, dengan tanpa bermaksud mempertentangkan pembukaan Lapter Notohadinegoro, selama itu akan membuka keterisolasian Jember, terutama keterisolasian intelektual, kenapa hal ini tidak diteruskan saja. Apalagi duit yang sudah dikeluarkan Pemda juga tidak sedikit. Penerapan Bulan Berkunjung Jember (BBJ) di Agustus, lebih diletakkan pada koridor Pariwisata. Kenapa tidak dikembangkan sebagai bulan penggalian intelektual agar semua ’bahan baku’ berpartisipasi dalam pengembangan Jember. 

  1. Berani mengambil resiko (dari penerapan pemikiran tersebut).

Tidak banyak orang yang mempunyai keberanian mengambil resiko dari konsekuensi penerapan konsep pemikirannya. Apalagi melihat karakter masyarakat Jember yang cenderung keras, ekspresif dan sedikit temperamental (benar nggak sich……?). DF berani menerobos hal ini. Tentunya keberanian ini bukanlah keberanian membabi buta, tetapi keberanian dengan juga mempertimbangkan segala aspek. Pilihan tema dan busana yang dikenakan peserta Carnaval sebagai contoh, bukanlah hal-hal yang serba ’terbuka’, tetapi tetap mempertimbangkan kondisi psikologis masyarakat Jember yang berkultur santri. Sebenarnya bupati Jember sekarang (MZA Jalal), sudah menunjukkan ’nyali’, ketika berani merubah dengan ekstrim tampilan alun-alun dengan berbagai macam fasilitas olahraga dan juga memberikan nuansa padang pasir di depan Masjid Jami’ Al Baitul Amien (lihat hasil jepretan K.Faiz di Gallery). Meskipun terkesan norak dan dipaksakan, tapi toch pada akhirnya Jember punya sesuatu yang ’dibanggakan’. Nyali itu harus terus dikembangkan ke hal-hal yang langsung bersentuhan dengan  masyarakat. Kalau Jember dikenal dengan daerah dengan angka anak putus sekolah yang besar, mengapa tidak ada keberanian untuk membebaskan saja uang SPP sampai SMA. Masalahnya tinggal di kemauan dan penempatan prioritas program dari Pemda dan Muspida Jember. Jember juga mempunyai Universitas Negeri yang bisa ’dipaksa’ untuk lebih berkontribusi terhadap perkembangan Jember. Ketika banyak orang pintar di Universitas ini turut berpartisipasi dalam pengembangan daerah lain, kenapa hal yang sama tidak terjadi di Jember. Ketika banyak orang miskin mengeluhkan biaya pengobatan dan obat yang makin tinggi, kenapa Jember tidak mempelopori untuk membebaskan biaya pengobatan bagi masyarakatnya yang kebetulan belum beruntung dari sudut materi. Rasanya problemnya bukan di kemampuan financial, tetapi, sekali lagi, kemauan dan setting prioritas program kerja. 

Akhirnya Jember mau jadi bagus atau tidak, semuanya berpulang pada masyarakat, pemimpin dan juga kita sebagai salah satu ’civitas academica’. Kalau DF saja bisa membuat Jember ’berbeda’ dengan kabupaten lain, maka konco-koncoku alumni SMA 1 Jbr, sing terkenal pinter-pinter, mesthine bisa melakukan lebih dari sekedar ’berbeda’, alias berbeda yang hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Jember. Yok opo, rek……?. 

Wallahualam bissowab.

Advertisement

20 comments

  1. Rizal says:

    JFC sempat di 'ekspor' ke Kota Batu lho… Tulisane apik Cak… Nek ketemu arek-arek Jember ning Bandung (KMJB) sering aku takon, Rek kowe duwe pikiran arep balik ning Jember gak? Opo yo sing biso awak dewe lakokno nggo Jember… Jawabane sering gak jelas, termasuk jawabanku dewe.

    Hiks aku gak iso masuk galery potone, opo memang harus pake' login yang beda yo Cak Amal.. mohon pencerahannya (Cak Surya juga ngalami hal yang sama denganku).

  2. sevi says:

    Wiiiiih, top deh tulisanmu Rik, jeru..jeru..banget. Kalau aku sih bukan karena tidak mau kembali ke Jember. Tapi suamiku kerja di Sidoarjo jadi yo aku melu ae kemana ojob membawaku, selain itu juga karena 'sawahku' sudah kutanami di Sidoarjo. Dan juga, menurutku boleh2 saja ada keinginan berbuat yang lebih untuk kota Jember, tapi untuk berbuat baik dan menjadikan lebih maju bisa kita lakukan di mana saja kita tinggal, wong podho Indonesiane. Jadi kalau aku tinggal di Sidoarjo, ya aku berkarya di sini saja. Buat siapapun yang di Jember baik penduduk asli ataupun pendatang, berikan karya yang terbaik untuk Jember. Begitu mungkin dariku… (Rik, ojo kakehan merendah kowe iku, gak ilok…hehehe…)

  3. faiz says:

    Setuju, Bu Dokter. Contoh simpel cukup banyak. Yaitu generasi orang tua kita atau simbah-simbah kita. Mbah-ku Sodiq Mahmud terlahir di Pasuruan, bekerja dan berjuang di Jember sepanjang hidup beliau. Ayahku terlahir di Kudus, berkarya juga di Jember sepanjang hidup beliau.

    Nah, kita sebagai penerus mereka, selayaknya membawa semangat perjuangan mereka dimanapun kita berkarya. Sidoarjo, Surabaya, Wonosobo, Magelang, Kebumen, Cilacap, Purworejo dan sebagainya, hanyalah tambatan kita untuk saat ini. Ke depannya, mungkin saja kita akan berlabuh di tempat yang berbeda. Tapi, ketrampilan dan kemampuan yang kita miliki akan tetap bisa dimanfaatkan dimanapun kita berada. Bukankah kita harus bisa memberi manfaat untuk siapapun dan dimanapun ?

  4. ekoz-guevara says:

    Ini..ini…yang tak tunggu…tulisan dalem dengan muara yang sangat memaksa kita untuk berkontemplasi…. Gaya tulisan arik (juga Sevi) ini mirip dengan gaya Dahlan Iskan ( idolamu yo rik..) entrepreneur yang suka adventure (koyok arik ..cobak takokno dia..udah berapa perusahaan yang dia jajah..ha..ha..ha.. arik emang bernyali..)…mengalir tapi dengan data yang cukup kuat… beda dengan gaya tulisanku,faiz dan Rizal yang gleyengan mirip Umar Kayam style..grabak-grubuk…

    tapi intinya tulisan Arik adalah Top….

    yang menarik adalah soal isolasi intelektual…

    benar sekali bahwa itu adalah kendala besar sehingga UNEJ tidak cepat melesat…ketika mereka butuh nara sumber yang bisa mempercepat proses perubahan yang lebih radikal..tidak sekadar gradual kayak yang saya amati saat ini…banyak para narasumber "enggan" untuk menularkan ilmunya ke Jember karena adanya isolasi transportasi (apalagi setelah ada kasus Lapindo) butuh effort besar untuk mendatangkan para narasumber papan atas baik nasional maupun internasional…coba saja PEMDA membuat PD yang menyediakan angkutan Udara reguler ke Sby,MLG atau DPS (bali)…tentunya bukan hanya isolasi intelektual yang diterobos pariwisata,ekonomi,budaya juga..)… "isolasi intelektual" ini bukan cuman asumsi lho…itu yang keluar dari Alm.Prof.Dr. Umar Kayam saat tak tanya "pernah gak beliau ke UNED secara reguler"..beliau berkata…sulit menjangkau Jember secara cepat…padahal beliau ingin….bisa jadi itu juga yang terlintas di benak para narasumber dari bidang Ekonomi,Politik,kedokteran dll….beda dengan Jogja,Sby ato malang yang hampir setiap saat dapat dihadiri oleh para pakar yang akhirnya secara simultan menggerakkan roda kehidupan intelektual,ekonomi,pendidikan,dll…. jujur aja…setelah perusahaan-perusahaan perkebunan ternama kayak PTP XXVI,PTP XXVII,PTP XXIII, dll direduksi (dimerger) sehingga yang di Jember yang dulunya adalah Kantor Pusat …sekarang hanya sekadar Kantor Perwakilan…dan semua dikendalikan dari Surabaya…akhirnya gregetnya atao daya dorong ekonominya turun drastis…liat aja…sepinya Jl. Imam Bonjol atao Jelbuk saat ini….jadi mau tidak mau sukak tidak suka ..MAGNET utama dari kota JEMBER adalah UNED gak ada lagi laennya….

    sehingga yang terpenting mendorong dan mendongani agar Cak iwan taroena,Cak ida bagus,Ning Yunik utowo sing lainnya cepet dadi Rektor yang bisa mendirection arah perjalanan UNED tidak sekadar berubah gradual tapi Revolusioner dan menjadi kebanggaan daerah tapal kuda…..UNED besar..insyaallah Jember akan jadi besar juga….

    Kalo soal kontribusi …emang itu yang mesti dilakukan warga jember…di BNI saat ini ada 1 direktur dan 1 direktur Muda yang asalnya Jember ( ndilalah dua-duanya arek Patrang)..ketika ada rencana merger untuk Situbondo-Bondowoso-Jember jadi satu kantor cabang Utama…maka Jemberlah dijadikan pusatnya (exist)Situbondo-Bondowoso dadi cabang layanan aja…( dibawah komando Jember)…apakah pemilihan Jember semata karena sisi bisnis aja?…aku kok gak yakin..ada unsur balas budi dari beliau berdua agar Jember (kota kelahirannya) tetap ada cabang BNI utama ..sebagai salah satu komponen penggerak ekonomi….dan itu signifikan… nah sekarang ditunggu kontribusi alumni lainnya di sehgala aspek ….kita tunggu kontribusi Opick..Anang..Ali Maskur Moesa..Arik..surya..Omdhe..Rizal..sevi..amal…imil..jaka…Budi..afton..Aroen..de jaka,Budi,de el el…. sekecil apapun itu….minimal yen Riyoyo dan Idul Kurban ..ntransfer bapak ibu di Jember..kedah diluwihi tak iye…he..he..he….sehingga memutar ekonomi kota kita itu..sukur-sukur ada yang berinvestasi di jember….

    untuk Jember…untuk Kemajuan…Untuk Keadilan…

  5. Rizal says:

    Cak, Dynand Fariz angkatan tahun piro sih.. penasaran aku…

  6. ariek says:

    Suwun commentnnya, prens……! Kita memang mesti melakukan yang terbaik untuk kota dimana kita sekarang berdomisili. Bukankah 'dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung'. Jember bisa jadi sudah jadi sejarah masa lalu buat kita, tetapi sejarah pasti meninggalkan jejak yang tidak mudah terhapus. Jejak kita masih berbekas di jember dan sangat elok kalau bekas itu, kita bisa buat 'lukisan indah' buat jember. Kalau Kontribusi phisik susah diberikan, minimal pikiran kita bisa sumbangkan. Temen2 yang berdomisili di luar Jember harus bisa jadi partner yang seimbang buat temen2 di Jember. Minimal partner bertukar pikiran untuk kemajuan Jember. Bisa, khan…..?

    Mas Rizal, saya nggak tahu persis angkatan DF, tp kalau ngelihat tahun lahirnya, sepertinya dia angk. 80/81.

  7. Obrolan ini ada benarnya, saya sebagai salah satu, orang jember aneh, yang ada di Jakarta, sempat disejajarkan beliau, sebanding dengan Dewi Persik, Anang, Opick yang tiba – tiba mengambil langkah lateral untu mendobrak sesuatu. hmm pemikiran yang menarik

  8. Jaka says:

    Wah saya disinggung ma om eko. Inggih om, saya juga ada rencana pengen mbikin usaha sendiri di jember(kalo modalnya ada) biar bisa nambah mengangkat roda perekonomian jember. Ngga' mau kalah ama bapak saya dan temennya Ali masykur musa ato saudaranya Ali Maschan Musa juga ma Mas Anang(bukannya anang alumni sma 2?). Moga-moga impian saya tewujud. Amien

  9. ekoz-guevara says:

    Bagi kita kan sederhana to Jak….yang penting wong Jember bisa mengangkat nama kota Kita…emang Anang anak SMA2 JBR…tapi pada jamanku…anak SMA1 dan SMA2 itu ngeposnya sama…di Rambo cafe ..belakang sekolah…apalagi pas konser musik yang maen Lavilla (band legendaris pada 1985-1990an…anak SMA1 dan SMA2 pasti bersatu…karena Band spesialis Art Rock ini…digawangi pelajar dari 2 SMA itu…Louis (Bassist) dan Nyoman (Keyboardist) dari SMA1…lalu Anang(vocals),Witjack (lead guitarist) dan Doddy gimbal (drum) dari SMA 2….adiknya Anang dan adiknya Witjack yang kerap dadi crew panggung juga anak SMA1….so saat itu kita lebur banget…. apalagi yen diurut-urut..maksudnya..ditelusuri…minimal banyak yang temen SD ato SMP sebelum pisah SMA…

    Awakmu keluarga besar Nahdliyin juga to jak…wah..wah…beneran asli Jember anak ini..he.he..

    BTW intinya adalah ada kewajiban moral rek-arek Jember untuk ikut membesarkan kota cantik itu tak iye?..

  10. ekoz-guevara says:

    Betul

  11. Ivan says:

    Wis..wis.. ngene iku lho si Ariek nek kadung pegel, nulise dadi sak top top-e tulisan.. gak onok sing iso ngalahno.. tulisane iki wis layak tampil nang halaman 4 harian Kompas kudune..ha..ha..

    top markotop..

  12. sevi says:

    Cocok, setuju 1000 persen!!!

  13. ariek says:

    Rek-rek, nek ngenyek ojo nemen2 po'o…..!!. Nek gak eling iki lagi nge-blog ngono, aku wis misah misuh kawit mau….! he…he…!. Sing penting message tulisanku wis nyampe. Masalah gaya penulisan, pilihan kata dan prithal-prithil lainnya, aku kudu banyak belajar marang panjenengan kabeh. Suwun.

  14. Jaka says:

    Awakmu keluarga besar Nahdliyin juga to jak…wah..wah…beneran asli Jember anak ini..he.he..

    Iya mas, riwayat saya: TK – Al Amien SD Al-Furqan Jember SMPN 2 jember SMAN 1 Jember Teknik Mesin UNEJ (1 tahun saja) POLTEK ELEKTRO ITS sampai sekarang

    asli dr jember..

    bapak saya juga bisa dikatakan asli jember meskipun lahir di sampang. Beliau Ketua OSIS SMP 2 Jember lulusan 73, Ketua OSIS SMA 1 jember lulusan 1977. jade JEMBER BANGET

    Hidup Jember

  15. faiz says:

    Jak, Nek ngono awakmu tau dadi murid-e Bulik-ku, Bu Tin Kepala Sekolahe Al-Amien.. Adik kelase Dewi Persik yo, Jak..

  16. Jaka says:

    Iya Ibu Tin kepala sekolah TK ku, kalo Dewi Persik a.k.a Dewi Murya Agung iku Seangkatan ama saya, cuman dulu SMP 1 dan SMA nya saya ngga tau.

  17. parikesit says:

    omong-omong kuto jember,menata kota bangun desa, kudune ebes jalal sewa ahli insinyur tata kota suko ITB apo negoro tangga singapure apo jepang sing ditugasi nyambung kuta baru, syukur2 sembah demang iso nyambung nyampek slawu

  18. iyan says:

    belajar dari pengalaman nanging ojo lali ambek gurune. sing paling utomo karo Sing GAWE Urip

  19. leopard trevalius says:

    senior… aq SISPENA A2 XXV, angkatan perak bos. ada yg masih care ma jember rupanya…

  20. Satrio BA says:

    Saiki ngono jember wis terkenal rek, ya karena UNEJ, dewi persik, anang , opick, dinan fariz , cuman sayang podo takon sing paling cepet numpak opo neng jember ? kapal terbang? lho wong lapangan kecil yang ngeri naik pesawat kecil

Leave a Reply