Archive for January 31st, 2008

Lenyapnya Jalan Imam Syafi’i di Jember

January 31st, 2008

Suatu hari di tahun 90′an waktu masih kuliah di Surabaya, saya berkesempatan mudik ke Jember, biasa.. sowan orangtua (tapi alasan utamanya sih, kente’an duwit.. maklum anak kost dan waktu itu ATM belum ngetrend)

Setiba di Jember, saya kaget dua kali, Pertama : jalur jalur jalan utama yang seumur hidup udah familiar, tiba2 banyak yang berubah, terutama di seputaran bioskop Sampurna (dulu), Johar Plasa, dan kawasan Jompo. Yang Kedua: beberapa Jalan sudah “lenyap“, tentunya bukan karena dimakan Tsunami, tapi nama jalan ternyata banyak yang berubah, dan sebagian lagi dipakai oleh nama jalan yang lain …

Jl. Diponegoro/Imam Bonjol menjadi –> Jl. Gajahmada, Jl. Teuku Umar menjadi –> Jl Hayam Wuruk, Jl. Mangunsarkoro menjadi –> Jl Gatot Subroto, Jl. Imam Syafi’i menjadi –> Jl Diponegoro, Jl. Pattimura menjadi –> Jl.Melati, Jl. Melati menjadi Jl. Dr. Sutomo, Jl. Kenanga menjadi –> Jl. Wahid Hasyim, Jl Wahid Hasyim menjadi –> Jl. Kenanga (?), Jl. Agus Salim menjadi–> Jl. Kacapiring(?), Jl. Ronggowarsito menjadi–> Jl. Nusa Indah, Jl. Hasanuddin menjadi –> Jl. Bungur, Jl. Untung Surapati menjadi –> Jl. A Yani, Jl Bromo menjadi –> Jl. Dahlia, Jl. Pelita menjadi –> Jl. Jayanegara, Jl Yos Sudarso (depan sekolah kita) menjadi –> Jl. Mayjend Panjaitan, Jl. Mayjen Panjaitan menjadi –> Jl. KH Ahmad Dahlan, Jl. Khairil Anwar menjadi –> Letjend Soeprapto, Jl Setiakawan Asia Afrika menjadi –> Jl. WR Supratman (tadinya WR supratman disamping Johar Plasa), dan beberapa nama jalan lain yang saya tidak hafal perubahannya

Apa yang menjadi alasan Pemda Jember waktu itu untuk merubah2 nama jalan di atas, sampai sekarang belum jelas, ada yang bilang untuk memudahkan nama2 jalan tersebut dikelompokkan atas klasifikasi masing-masing, misalnya untuk kelompok nama bunga di daerah ngGebang dan sekitarnya, ada yang bilang untuk penataan kembali nama-nama jalan, ada yang bilang agar pak tukang pos lebih giat lagi belajar menghapal nama jalan, ada juga yang bilang agar pengusaha percetakan dan disain grafis kebanjiran order.. dsb.

Tapi yang menarik, ada alasan yang sedikit politis, karena Imam Syafi’i dan KH Wahid Hasyim adalah panutan warga Nahdliyin, maka pemda dan DPRD yang waktu itu didominasi orang-orang Muhammadiyah, berusaha me’lenyap’kan nama Imam Syafi’i, dan memindahkan KH Wahid Hasyim ke jalan yang lebih kecil, sambil memunculkan nama Jl.KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), tapi tentu alasan ini juga masih katanya anu, ..katanya ini, ..katanya itu…. jadi masih perlu dipertanyakan kebenarannya.

Mungkin temen2 disini ada yang tahu alasan sebenarnya?..

Wallahu a’lam bish showab..

Popularity: 17% [?]