Pernah lihat acara Lemon Tea di SCTV tiap sore? Itu loh acara “arek cilik2″ jaman sekarang. Ada yang namanya Cinta Monyet, Pacar Pertama, CLBK, deelel. Satu hal yang menarik di acara tsb- yang mengingatkan aku akan cerita masa kecil, adalah permen. Di acara Lemon Tea itu, di akhir acara biasanya cewek atau cowok yang dipilih diberi permen Kiss, dan di bungkus permen itu ada macam2 tulisan yang menggambarkan jawaban dari “lakon”nya. Unik dan lucu2 tulisannya, misalnya capeee deh, I love you, cute abizzzz, forever love, temenan aja…..etc. Ini gaya komunikasi anak sekarang, menurutku asik juga lo. Tinggal beli satu bungkus permen Kiss, tinggal pilih tulisan apa yang ingin kita sampaikan pada teman atau ojob, itulah ungkapan hati kita. Tak pikir sah-sah saja kalau ingin memberikan suatu kejutan yang manis buat pasangan kita. Aku sih pengennya, ojobku memberikan permen Kiss yang bertuliskan “Cute abizzz” hehehe….(dasar narsis…)
Duluuuuu, jaman aku masih SD sekitar th 70an, aku suka sekali beli permen cecek dan permen bubuk. Yang namanya permen cecek itu, sebenarnya kedelai yang dilapisi gula2 warna warni. Satu bungkus sebesar jari kelingking, isinya sekitar 10-15 butir, harganya mungkin Rp. 5 – 10an. Nah, kalau permen bubuk itu, sebenarnya hanyalah gula bubuk yang diwarnai saja, kemudian direntengi dalam plastik kecil2 dan dilengkapi dengan sendok plastik yang imut banget. Jenenge arek cilik, barang legi yo mesti enak ae.
Selain yang manis-manis, aku juga suka sekali manisan mangga dan cerme. Kalau manisan mangga, sepertinya masih ada dijual di toko2 makanan, tapi rasanya gak ada yang mengalahkan permen manggaku jaman kecil dulu. Oh iya, permen mangga itu dulu tak arani juga permen upil, karena secara morfologis tidak beda jauh, hanya ukurannya lebih gede…Kalau permen cerme, dikemas dalam kotak2 kecil warna kuning, wis enak tenan rek.
Kalau permen atau manisan atau gula2 yang dijual di sekolah waktu SD, beda lagi. Ada yang namanya gelali. Biasanya ditaruh diatas baki kayu, warnanya seperti gula gosong atau karamel, trus diatasnya ditaburi wijen. Kalau kita beli, satu porsinya hanya seukuran kotak korek api, ditaruh di atas kertas. Boleh langsung dimakan, atau kalau pengen dimakan nanti2 bisa disimpan dan gulanya jadi mengeras serta warnanya berubah menjadi coklat pucat. Rasanya? Tetep enak….Kalau pengen makan permen sambil main seruling bisa juga. Manisan ini, warnanya orange menyala, ditaruh dalam wajan. Kita bisa beli manisan tsb dengan macam2 cetakan yang tersedia. Ada bentuk burung yang bisa ditiup seperti suling, bunga, binatang dan lain2. Rasanya lebih enak daripada gelali.
Permen memang selalu enak untuk dinikmati, paling tidak buatku. Permen karet juga menjadi salah satu favoritku juga. Masih TK, aku suka permen karet Pusan. Selain karena permennya empuk, enak dan gampang ditiup, juga karena dibungkus bagian dalamnya ada tatoo air. Tinggal basahi tangan pake ludah, tempel bungkus Pusan, ditekan2 sebentar…taraaaaa…!!! jadilah gambar tatoo di tangan. Asiiik kan?
Permen karet memang melegenda. Waktu SMA tahun 80an, di majalah HAI booming serial Lupus yang identik dengan jahil, slebor, cuek dan PERMEN KARET!! Sampai2 ikon Lupus digambarkan sedang meniup permen karet sampai guede. Aku gak tahu apakah kita2 waktu itu juga tergila-gila sama permen karet karena ngefans sama Lupus. Permen karet sekarang ini sudah banyak macamnya, baik rasa, kemasan, manfaat dan kandungan di dalamnya, tinggal pilih yang kita mau.
Ada satu peristiwa masa SMA yang masih tak ingat betul. Kala itu aku di kelas 2 Bio 3, dan lagi seru2nya Beng-beng beriklan di televisi dengan iklan yang menggoda, yaitu 1 batang Beng-beng digigit di masing2 ujungnya oleh cewe dan cowo. Wiih, tentu saja adegan yang bikin seeer buat anak SMA. Karena godaan iklan, dan termasuk permen jenis baru masa itu, wah yang namanya Beng-beng laris manis di koperasi OSIS. Sepertinya ketinggalan jaman deh kalau belum makan Beng-beng. Karena tahu begitu tingginya animo beli dan makan Beng-beng, si Ekos sampai2 rela menawarkan diri untuk mentraktir teman2 cewek beli Beng-beng, dengan syarat makan Beng-bengnya harus seperti di iklan TV. Sayangnya, penawaran Ekos yang luar biasa ini tidak mendapatkan sambutan hangat dari cewek2 di kelasku, termasuk aku…..hiks…hiks…Sori Kos.
Permen tak selamanya manis. Karena gara-gara permen juga, saat ujian EBTANAS SMP aku harus belajar di ruang tunggu dokter gigi karena mesti antre untuk menambal gigiku. Gak enak tenan sakit gigi itu, pengennya marah kalau dengar orang ngobrol atau ada suara2 keras, pokoke gak enak blas!!! Mungkin pencipta lagu “……lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati….” (opo judul lagune ?) gak tahu ngrasakno loro untu rek!
Karena aku suka permen yang rasanya manis, legit dan nyam nyam itu , makanya aku tetap maniezzzz sampai sekarang. Oops…….glodhaaag!…….praaaaang!!!…….buuuuugg!!!! hahaha…(Hidup narsis…!!!)
Salam manis….
Popularity: 19% [?]
