Archive for January, 2008

Lenyapnya Jalan Imam Syafi’i di Jember

January 31st, 2008

Suatu hari di tahun 90′an waktu masih kuliah di Surabaya, saya berkesempatan mudik ke Jember, biasa.. sowan orangtua (tapi alasan utamanya sih, kente’an duwit.. maklum anak kost dan waktu itu ATM belum ngetrend)

Setiba di Jember, saya kaget dua kali, Pertama : jalur jalur jalan utama yang seumur hidup udah familiar, tiba2 banyak yang berubah, terutama di seputaran bioskop Sampurna (dulu), Johar Plasa, dan kawasan Jompo. Yang Kedua: beberapa Jalan sudah “lenyap“, tentunya bukan karena dimakan Tsunami, tapi nama jalan ternyata banyak yang berubah, dan sebagian lagi dipakai oleh nama jalan yang lain …

Jl. Diponegoro/Imam Bonjol menjadi –> Jl. Gajahmada, Jl. Teuku Umar menjadi –> Jl Hayam Wuruk, Jl. Mangunsarkoro menjadi –> Jl Gatot Subroto, Jl. Imam Syafi’i menjadi –> Jl Diponegoro, Jl. Pattimura menjadi –> Jl.Melati, Jl. Melati menjadi Jl. Dr. Sutomo, Jl. Kenanga menjadi –> Jl. Wahid Hasyim, Jl Wahid Hasyim menjadi –> Jl. Kenanga (?), Jl. Agus Salim menjadi–> Jl. Kacapiring(?), Jl. Ronggowarsito menjadi–> Jl. Nusa Indah, Jl. Hasanuddin menjadi –> Jl. Bungur, Jl. Untung Surapati menjadi –> Jl. A Yani, Jl Bromo menjadi –> Jl. Dahlia, Jl. Pelita menjadi –> Jl. Jayanegara, Jl Yos Sudarso (depan sekolah kita) menjadi –> Jl. Mayjend Panjaitan, Jl. Mayjen Panjaitan menjadi –> Jl. KH Ahmad Dahlan, Jl. Khairil Anwar menjadi –> Letjend Soeprapto, Jl Setiakawan Asia Afrika menjadi –> Jl. WR Supratman (tadinya WR supratman disamping Johar Plasa), dan beberapa nama jalan lain yang saya tidak hafal perubahannya

Apa yang menjadi alasan Pemda Jember waktu itu untuk merubah2 nama jalan di atas, sampai sekarang belum jelas, ada yang bilang untuk memudahkan nama2 jalan tersebut dikelompokkan atas klasifikasi masing-masing, misalnya untuk kelompok nama bunga di daerah ngGebang dan sekitarnya, ada yang bilang untuk penataan kembali nama-nama jalan, ada yang bilang agar pak tukang pos lebih giat lagi belajar menghapal nama jalan, ada juga yang bilang agar pengusaha percetakan dan disain grafis kebanjiran order.. dsb.

Tapi yang menarik, ada alasan yang sedikit politis, karena Imam Syafi’i dan KH Wahid Hasyim adalah panutan warga Nahdliyin, maka pemda dan DPRD yang waktu itu didominasi orang-orang Muhammadiyah, berusaha me’lenyap’kan nama Imam Syafi’i, dan memindahkan KH Wahid Hasyim ke jalan yang lebih kecil, sambil memunculkan nama Jl.KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), tapi tentu alasan ini juga masih katanya anu, ..katanya ini, ..katanya itu…. jadi masih perlu dipertanyakan kebenarannya.

Mungkin temen2 disini ada yang tahu alasan sebenarnya?..

Wallahu a’lam bish showab..

Popularity: 17% [?]

Permen dari masa ke masa

January 22nd, 2008

Pernah lihat acara Lemon Tea di SCTV tiap sore? Itu loh acara “arek cilik2″ jaman sekarang. Ada yang namanya Cinta Monyet, Pacar Pertama, CLBK, deelel. Satu hal yang menarik di acara tsb- yang mengingatkan aku akan cerita masa kecil, adalah permen. Di acara Lemon Tea itu, di akhir acara biasanya cewek atau cowok yang dipilih diberi permen Kiss, dan di bungkus permen itu ada macam2 tulisan yang menggambarkan jawaban dari “lakon”nya. Unik dan lucu2 tulisannya, misalnya capeee deh, I love you, cute abizzzz, forever love, temenan aja…..etc. Ini gaya komunikasi anak sekarang, menurutku asik juga lo. Tinggal beli satu bungkus permen Kiss, tinggal pilih tulisan apa yang ingin kita sampaikan pada teman atau ojob, itulah ungkapan hati kita. Tak pikir sah-sah saja kalau ingin memberikan suatu kejutan yang manis buat pasangan kita. Aku sih pengennya, ojobku memberikan permen Kiss yang bertuliskan “Cute abizzz” hehehe….(dasar narsis…)

Duluuuuu, jaman aku masih SD sekitar th 70an, aku suka sekali beli permen cecek dan permen bubuk. Yang namanya permen cecek itu, sebenarnya kedelai yang dilapisi gula2 warna warni. Satu bungkus sebesar jari kelingking, isinya sekitar 10-15 butir, harganya mungkin Rp. 5 – 10an. Nah, kalau permen bubuk itu, sebenarnya hanyalah gula bubuk yang diwarnai saja, kemudian direntengi dalam plastik kecil2 dan dilengkapi dengan sendok plastik yang imut banget. Jenenge arek cilik, barang legi yo mesti enak ae.

Selain yang manis-manis, aku juga suka sekali manisan mangga dan cerme. Kalau manisan mangga, sepertinya masih ada dijual di toko2 makanan, tapi rasanya gak ada yang mengalahkan permen manggaku jaman kecil dulu. Oh iya, permen mangga itu dulu tak arani juga permen upil, karena secara morfologis tidak beda jauh, hanya ukurannya lebih gede…Kalau permen cerme, dikemas dalam kotak2 kecil warna kuning, wis enak tenan rek.

Kalau permen atau manisan atau gula2 yang dijual di sekolah waktu SD, beda lagi. Ada yang namanya gelali. Biasanya ditaruh diatas baki kayu, warnanya seperti gula gosong atau karamel, trus diatasnya ditaburi wijen. Kalau kita beli, satu porsinya hanya seukuran kotak korek api, ditaruh di atas kertas. Boleh langsung dimakan, atau kalau pengen dimakan nanti2 bisa disimpan dan gulanya jadi mengeras serta warnanya berubah menjadi coklat pucat. Rasanya? Tetep enak….Kalau pengen makan permen sambil main seruling bisa juga. Manisan ini, warnanya orange menyala, ditaruh dalam wajan. Kita bisa beli manisan tsb dengan macam2 cetakan yang tersedia. Ada bentuk burung yang bisa ditiup seperti suling, bunga, binatang dan lain2. Rasanya lebih enak daripada gelali.

Permen memang selalu enak untuk dinikmati, paling tidak buatku. Permen karet juga menjadi salah satu favoritku juga. Masih TK, aku suka permen karet Pusan. Selain karena permennya empuk, enak dan gampang ditiup, juga karena dibungkus bagian dalamnya ada tatoo air. Tinggal basahi tangan pake ludah, tempel bungkus Pusan, ditekan2 sebentar…taraaaaa…!!! jadilah gambar tatoo di tangan. Asiiik kan?

Permen karet memang melegenda. Waktu SMA tahun 80an, di majalah HAI booming serial Lupus yang identik dengan jahil, slebor, cuek dan PERMEN KARET!! Sampai2 ikon Lupus digambarkan sedang meniup permen karet sampai guede. Aku gak tahu apakah kita2 waktu itu juga tergila-gila sama permen karet karena ngefans sama Lupus. Permen karet sekarang ini sudah banyak macamnya, baik rasa, kemasan, manfaat dan kandungan di dalamnya, tinggal pilih yang kita mau.

Ada satu peristiwa masa SMA yang masih tak ingat betul. Kala itu aku di kelas 2 Bio 3, dan lagi seru2nya Beng-beng beriklan di televisi dengan iklan yang menggoda, yaitu 1 batang Beng-beng digigit di masing2 ujungnya oleh cewe dan cowo. Wiih, tentu saja adegan yang bikin seeer buat anak SMA. Karena godaan iklan, dan  termasuk permen jenis baru masa itu, wah yang namanya Beng-beng laris manis di koperasi OSIS. Sepertinya ketinggalan jaman deh kalau belum makan Beng-beng. Karena tahu begitu tingginya animo beli dan makan Beng-beng, si Ekos sampai2 rela menawarkan diri untuk mentraktir teman2 cewek beli Beng-beng, dengan syarat makan Beng-bengnya harus seperti di iklan TV. Sayangnya, penawaran Ekos yang luar biasa ini tidak mendapatkan sambutan hangat dari cewek2 di kelasku, termasuk aku…..hiks…hiks…Sori Kos.

Permen tak selamanya manis. Karena gara-gara permen juga, saat ujian EBTANAS SMP aku harus belajar di ruang tunggu dokter gigi karena mesti antre untuk menambal gigiku. Gak enak tenan sakit gigi itu, pengennya marah kalau dengar orang ngobrol atau ada suara2 keras, pokoke gak enak blas!!! Mungkin pencipta lagu “……lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati….” (opo judul lagune ?) gak tahu ngrasakno loro untu rek!

Karena aku suka permen yang rasanya manis, legit dan nyam nyam itu , makanya aku tetap maniezzzz sampai sekarang.  Oops…….glodhaaag!…….praaaaang!!!…….buuuuugg!!!! hahaha…(Hidup narsis…!!!)

Salam manis….

Popularity: 19% [?]

Tiga tahun lalu, tsunami….

January 17th, 2008

..Tulisan berikut ini adalah pengalaman sejati alumni SMAN 1 JEMBER yang mengalami kedahsyatan Tsunami…pernah dipost di milis angkatan 88…mengingat begitu banyak ibrah yang bisa dipetik..maka atas persetujuan dan jasa baik Taufiq Maulana Hamzah aka Fikik 88..tulisan ini di posting ulang di blog ini….bisa jadi ada juga alumni kita yang pada saat kejadian juga berada di Aceh ato Nias…semoga tergerak untuk berbagi cerita disini...(ekoz guevara)

Ass, Wr. Wb mengenang 26 desember 2004,,iki rek pengalaman pribadiku,, Pagi 26 Desember 2007, sebagai ketua panitia, aku kudu ke kantor tuk mimpin rapat persiapan RAKER. Berat terasa kaki melangkah, bukannya karena hari itu hari libur, tapi sedang terbayang kembali kisah tiga tahun yang lalu,tsunami… Bakda subuh 26 desember 2004, aku dan dua temen berangkat ke bandara Sultan iskandar muda (SIM). Jemput pemateri dari Jakarta. Rencananya jam 9 pagi, kami punya gawe ‘Leadership training’ selama 2 hari.

Sampai di SIM, selama -+10 menit aceh dikocok gempa. Awalnya, gerakan gempa horisontal terasa seperti naik kereta api, berikutnya berubah jadi gerakan vertikal. Kulihat hampir semua orang nggak sanggup lagi berdiri. Ingat rumah dinas yang berumur tidak muda lagi, membuatku khawatir dengan keselamatan istri dan anak-anakku. Namun, apa daya HP udah nggak fungsi lagi. Aku hanya bisa tawakkal menyerahkan semuanya kapada Allah. Kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

Sepanjang perjalanan menuju kota, kulihat beberapa bangunan nampak roboh, anehnya didominasi oleh bangunan- bangunan baru. Diperempatan jambo tape, kami singgah sarapan. Beberapa kali gempa susulan mengganggu nikmatnya sarapan, sebanyak itu pula, kami berlarian keluar ruko. Puncaknya, ketika terdengar bunyi sirine yang begitu kuat, diikuti banyaknya orang berlarian dari arah pantai, ‘ie lut ka ik’ (air laut udah naik). Sontak semua berlarian, termasuk penjual nasi. Alhamdulillah dalam kondisi panik, kami masih sempat bayar walaupun si penjual udah ngak konsen untuk menghitung berapa biaya makanan kami.

‘akh taufik, lupakan acara, kita jemput keluarga antum dulu’ usul salah seorang tamuku. Rombongan bergerak menuju tempat tinggalku di daerah Peurada kurang lebih 2,5 km dari jambo tape. Namun, mendekati jembatan dekat kantor gubernur, kulihat air udah naik melewati jembatan. Membuat kami harus putar kendaraan. Kubersyukur kepada Allah, seandainya kami telah melewati jembatan, bisa jadi aku nggak nulis kisah ini. Setelah menitipkan tamu-tamuku di rumah teman, kumulai mencari jalan menuju rumah. Tidak ada pilihan lain, kami harus mencari jalan memutar yang cukup jauh. Sampai di daerah ie masin kayee adang (2 km dari rumahku), air sisa tsunami masih menggenang. Kami turun dan mulai jalan kaki. Entah kekuatan apa yang muncul membuat aku jauh meninggalkan dua rekanku. Padahal usia mereka 10 th lebih muda dariku. Bahkan salah seoarang diantaranya, belakangan jadi guru kempo di kantorku.

Air yang mulanya hanya setapak kaki, sampai dirumahku setinggi dada. Kulihat rumahku dalam posisi terkunci. Rumah masih utuh walaupun isi dalamnya udah pada jebol dan berantakan. Tetangga pada geleng kepala ketika kutanyakan tentang keluargaku. Ya Allah selamatkanlah istri dan anak-anakku. Rasanya aku belum siap dipisahkan dengan mereka. Betapa aku mencintai mereka…kemudian aku mulai bergerak mencari keluargaku, setiap rumah yang berlantai dua kumasuki dan kutanyakan, adakah istri dan anak-anakku?…rata-rata mereka gelengkan kepala,’nggak ada pak. Sumayyah dan adik-adiknya ngak ada disini’..aku terus melangkah menuju masjid. Begitu banyak orang berkumpul, salah seorang remaja masjid berbisik, ‘di lantai dua udah terkumpul kurang lebih 40 syuhada, lihat aja siapa tahu ada salah seorang anggota keluarga bapak’..Setengah berlari aku naik ke lantai dua, kulihat jajaran mayat memenuhi sektor utara, sementara sektor selatan dipenuhi dengan orang yang cidera. Suara isak tangis cukup membuat diriku merinding… Satu persatu mulai kubuka kain penutup para syuhada,, alhamdulillah tak seorangpun anggota keluargaku terbaringada disitu. Walaupun terhadap beberapa jenazah, ada kemiripan dengan anakku..

Pencarian terus kulakukan, di masjid kedua belum juga kutemukan. Dekat sekolah TK anakku, kulihat mayat seorang perempuan telanjang dalam posisi telungkup, tidak seberapa jauh dari situ, kulihat mayat seorang anak kecil, yang mirip dengan anakku kelima. Gemuknya dan warna kulitnya, mirip sekali dengan Tholhah anakku. Tanda luka dikakinya terkelupas, sehingga timbulkan tanya, apakah betul ini anakku? Seandainya dia anakku, jangan-jangan mayat yang disana adalah mayat istriku.. kalau dia mayat istriku..kenapa dia telanjang? Ya Allah bukankah selama ini istriku selalu menutup aurat, kenapa diakhir hayatnya mesti telanjang? Aku tidak memiliki keberanian membalik mayat perempuan itu, aku khawatir auratnya akan kelihatan oleh orang banyak..sesuatu yang udah ditutup oleh Allah, aku tidak berani membukanya. Benarkah dia istri dan anakku? Terus anak-anakku yang lain mana? ?? air setinggi dada, menyulitkan aku mencari petunjuk lain. Keretaku (sepeda motor) tidak nampak disekitar itu. Kuputuskan, untuk terus mencari, mudah-mudahan mereka bukan anggota keluargaku.

Setibanya di masjid yang ketiga, terdengar suara adzan. Begitu menyejukkan ditengah galaunya hati. Waktu yang tepat untuk mengadu kepada Allah. Keluargaku hilang, adakah mereka selamat? Bila tidak, dimanakah jenazahnya? Ya Allah berilah aku kesempatan untuk bersama keluargaku lagi… saat ambil air wudlu, aku bertemu sahabatku, seorang ustadz yang juga anggota dewan, kami berpelukan dan kusampaikan keluargaku hilang, setengah berbisik dia berkata : “akhi, keluarga antum ada di lantai 2″. ..alhamdulillah, betapa Allah telah mengabulkan doaku. Aku masih diberi kesempatan tuk berkumpul dengan keluarga. “bi, ngak jadi rapatnya?”. suara istri, membuyarkan ingatanku.. terima kasih Ya Allah, hamba ingin menjadi orang yang bersyukur, senantiasa menyayangi istri dan anak-anakku…istriku, anak-anakku, maafkan bila setelah tiga tahun tsunami berlalu, abi belum bisa memberikan yang terbaik buat kalian… Istriku, Andi qadriah shiam, aku selalu mencintaimu Anak-anakku,

Sumayyah Ula Syahidah Dini Khairu Zadi M. Gazie Shawwaf M. Hanzhalah Gasielul Malaikah M. Tholhah Syahid Al Hayah Syahidah Nida Amani

doaku selalu bersamamu, jadilah orang-orang kuat, sekuat kalian berlari meninggalkan gelombang tsunami

Banda aceh, 26 desember 2007

maaf yo rek, kepanjangan, belum diedit…Taufik Maulana hamzah

Popularity: 24% [?]

Garut, Kota Wisata di Jawa Barat.

January 17th, 2008

Akhir tahun 2007 penuh dengan cuti bersama, sekalipun sebenarnya gak ngaruh buatku karena tuntutan profesiku (libur gak libur diatur sendiri he..he..) tapi lumayan buat refreshing buat menyegarkan pikiran. Dari awal bulan Desember rencana disusun. Target ditetapkan Cipanas, Garut. Sekalian Bapak-Ibu mertua akan didatangkan dari Semarang supaya bisa ikut bersantai sejenak. Beberapa hotel di telepon, untuk  booking bungalow. Eh… ternyata pada penuh sampai 1 Januari….. Untung masih dapat 1 bungalow di Hotel Cipanas Indah (asli masih blank..gak tahu  itu hotel bagus apa gak…soalnya biasa di Kampung Sumber Alam).  Kamar didapat, DP ditransfer, dan dikonfirmasi. Siap untuk tanggal 29-30 Desember. 

Pada hari H, semua dipersiapkan. Bapak-Ibu mertua  datang pagi-pagi naik KA Harina, so pas subuh harus cabut dulu ke Stasiun Hall, Bandung. Jam 9 pagi kita cabut, rencana lewat jalan Cijapati, lewat daerah perkebunan sambil cuci mata lihat pemandangan…Eh salah jalan, akhirnya lewat jalan biasa, Rancaekek, Nagrek terus Garut. Nah…yang mengejutkan.. ditengah jalan.. Gus Faiz  nelpon  sambil berfatwa..”Zal, CD Mp3 Kartolomu wis siap, saiki lagi tak kirim nganggo Kilat Khusus bil Khusus…”. Alhamdulillah, tambah seneng atiku, jalan-jalan, ditelpon Gus Faiz pisan..he..he.. danau-dariza.JPG

Nah saiki cerito soal Garut dan ojek wisatanya. Tempat wisata paporit (soalnya yang cerito wong sundo he..he..) di Kab. Garut (+/- 65 km Tenggara Bandung) adalah Cipanas. Daerah ini di kaki gunung Guntur, dan memiliki banyak sekali pemandian air panas. Kalo ditempat lain paling hanya ada 1 sumber /kolam air panas (misal, Ciater-Subang,  Ciwalini-Ciwidey Bandung) maka kalo di Cipanas, kolam renang air panasnya saambreg, akeh banget. Tinggal pilih, di hotel kelas melati (ato bahkan kelas kembang tembelek-tembelekan..he..he..) ato di Hotel kelas bintang 3. Pokok sak kuat kantong panjenengan. Dari yang bentuknya losmen, sampai bungalow (spt Kampung Sumber Alam), atau kamar-kamar di atas danau (Danau Dariza), ada, pokok komplit. Untuk sarana rekreasi selain berenang biasa, masih ada water boom, sepeda air, flyng fox dll. 

Cuma itu tempat wisatanya…. Eit sabar dulu… Selain Cipanas, Garut punya tempat wisata yang lain. Mulai dari Gunung, Danau, Kebun teh, Candi sampai pantai. Untuk gunung, sebut saja Gunung Papandayan, dengan naik mobil kita bisa sampai di dekat puncak/kawah Papandayan. Jaraknya sekitar 27 Km dari kota Garut, tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Soal pemandangan, gak kalah dengan Tangkuban Perahu yang kondang itu. Kawah Derajat, Cuma 16-17 Km dari Garut, tempat explorasi panas bumi PT Chevron, juga ada Kampung Sampireuen yang terkenal itu. Danau, Garut punya Situ Cangkuang (terkenal dengan Candi Cangkuang dan Kampung Pulo, kampung adat seperti Kampung Naga di Tasikmalaya),  Situ Bagendit dan situ-situ lainnya (disini Danau atau Ranu disebut dengan Situ). 

Pantai di Garut juga indah, emang tidak seterkenal Pangandaran, Carita dll, tapi cukup bagus dijadikan tujuan wisata, misalnya pantai Ranca Buaya, Pameungpeuk, Leuweng Sancang, pantai Santolo dan lain-lain. 

Untuk informasi lebih lengkapnya mungkin tidak ada salahnya buka di www.garut.go.id . Informasinya jauh lebih lengkap dibandingkan pemkabjember.go.id yang menurutku lebih banyak nampilin wajah pejabatnya.. Ada yang berminat melancong ke Garut, sekalian  mensukseskan Tahun Kunjungan Wisata 2008 he..he.. Pokok mau pantai, gunung, hutan, semua ada di Garut. Perlu pemandu, silahkan kontak diriku.(Wis dulu, kepalaku gatel, mau tak garut dulu eh..digaruk dhink….) 

Popularity: 38% [?]

Perkenalan

January 15th, 2008

foto004.jpg

Wah..sungguh sangat disayangkan bulan Agustus 2007 terlewatkan acara di Jakarta, padahal waktu itu aku berdomisili di Jakarta, setelah sebelumnya selama 4 tahun bertugas di daerah konflik Poso. Kenapa bisa terlewatkan ya

Memang waktu itu aku belum ketemu dengan yang namanya Alumni SMA 1 ini, padahal si Mirza al Kordut tahun 1997 pernah sama-sama aku Diklat Prajabatan di Rindam Jaya.

Setelah itu, aku terus berkelana ke penjuru Nusantara mulai dari Sulawesi, Kalimantan sampai ke Papua. Jadi ngaak ketemu lagi sama si Mirza. sempat aku dengan Yanar ada di Gorontalo aku cari tapi nggak ketemu.

Namaku Achmad Soedjajanto, alumni 88 Biologi 2, cuma ilmu itu nggak kepake karena kemudian aku masuk Fak. Hukum Unej dan sekarang Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Tolitoli Sulawesi Tengah.

Kalau ada acara lagi kumpul bareng undang aku ya?

Popularity: 27% [?]

Jember-Koe

January 11th, 2008

Tulisan dan photo K. Faiz mengenai Jember ditambah dgn artikel Kompas, Minggu, 6 Januari 2008, yang kebetulan mengulas sosok Dynand Fariz (DF) sebagai penggagas Jember Fashion Carnaval (JFC), ‘memaksa’ saya jadi belajar menulis. Sesuatu yang agak jarang ditemui dalam dunia kerja saya yang serba ‘koboi-koboian’ ini. Jadi jangan heran kalau tulisanku rodho ‘ngoboi’ alias ancur.Khusus mengenai DF, bukan JFC-nya yang menjadi fokus perhatian, tetapi pola pikir dari seorang DF yang menurut saya sangat menarik. Dan lebih menarik lagi kalau hal ini dikaitkan dengan perkembangan Jember saat ini, yang bagian kecilnya terlihat dari photo-photo K. Faiz. 

Paling tidak ada 3 poin yang bisa diambil dari pola pemikiran DF :

  1. Melihat dengan cara berbeda (dari kebanyakan orang)

Jujur saja, saya tidak pernah bisa membayangkan Jember akan menjadi pusat perhatian Mode/fashion (setidaknya itu yang bisa dilihat dari begitu banyaknya ulasan Media Dalam Negeri dan Luar Negeri mengenai JFC). Masyarakat Jember selama ini di kenal sebagai masyarakat agraris dengan kultur santri yang kuat khas masyarakat Tapal Kuda. Mungkin seorang Clifford Geertz-pun akan sedikit bingung melihat keunikan Jember ini, karena dia hanya mengelompokkan masyarakat Jawa dalam dikotomi Santri, Abangan dan Priyayi. Di Jember, ketiga komponen ini, nyaris tidak bisa dipisahkan dalam alur yang jelas, seperti masyarakat Jawa di Jawa Tengah. Dalam setiap studi yang berkaitan dengan masyarakat Jember, hampir selalu mengelompokkan kedudukan Jember di Jawa Timur dalam lingkup komunitas Santri Agraris, seperti halnya kota-kota  Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Lumajang sampai Pasuruan. Dengan pola pemikiran semacam ini, yang ada dalam benak kita adalah kalaupun Jember nantinya akan terkenal, pasti nggak jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan Pertanian, Perkebunan, Pondok Pesantren, Kyai/Ulama, Santri dan seterusnya.Tetapi DF melihat Jember dengan cara berbeda. Jember justru punya potensi dalam hal  Mode/Fashion ataupun segala sesuatu yang berbau hedonisme, yang selama ini hanya didominasi oleh kota-kota Besar. DF adalah produk asli Jember dengan penambahan ’bumbu’ ilmu pengetahuan dari luar Jember (bahkan dari luar negeri). Melihat background dia, rasanya kita bisa memaklumi mengapa dia mempunyai kemampuan seperti itu. Baru-baru ini ada suatu survey dari harian Jawa Pos (saya lupa tanggalnya), yang membandingkan performance Kabupaten/Kodya di Jawa Timur. Perbandingan itu menyangkut hampir semua sektor di masyarakat, seperti Pendidikan, Sosial Budaya, Ekonomi . Yang memprihatinkan, hampir disemua kategori, Jember sekarang relatif tertinggal dibandingkan kabupaten/kodya di Jawa Timur. Rasanya kalau tidak ada terobosan yang ’Progressif Revolusioner”(meminjam istilah Kamerad Ekos), Jember akan semakin ketinggalan. Mungkin kita harus berpikir seperti DF untuk membuat Jember lebih berkembang. Saya percaya ’bahan baku’ Jember adalah bukanlah sekedar ’bahan baku’ yang ecek-ecek. Persilangan 2 budaya Jawa dan Madura yang membuat Jember nyaris tidak punya Budaya Asli, justru akan menghasilkan masyarakat yang cenderung egaliter dgn etos kerja yang hebat. Mungkin kalau diminta menuliskan orang Jember yang ’sukses’ dibidangnya,kita perlu berlembar kertas . Orang-orang ini adalah modal dasar berharga untuk mendapatkan pemikiran yang berbeda (baca : kreatif), seperti halnya DF. Sekarang tinggal gimana caranya membuat wadah buat orang hebat Jember agar mereka mau menuangkan ’ide gilanya’ untuk kemajuan Jember. 

  1. Kemampuan menuangkan pemikiran ( ke dalam penerapan lapangan).

Pemikiran bagus tanpa implementasi yang bagus, juga akan mubazhir alias sia-sia. Implementasi bagus juga tidak stagnan pada hal-hal yang sudah menjadi common sense selama ini, selama itu masih dalam koridor konsep pemikiran, implementasi tidak akan kehilangan esensinya. Mungkin kalau DF hanya terpaku pada penerapan mode/fashion dalam bentuk fashion show atau pembukaan boutique, JFC tidak akan terkenal begitu cepat atau bahkan akan mati cepat. Dengan cerdik dia memlih konsep Carnaval, yang bahkan dikota-kota besar di Indonesia, belum diterapkan. Pilihan ini tentunya juga sudah mempertimbangkan segala hal yang berkaitan dengan Jember. Saya pernah membaca tulisan dari DR Ayu Sutarto, Budayawan dari Univ. Jember, salah satu ciri Masyarakat Kultur Pendalungan, seperti halnya masyarakat Jember, adalah terbuka dan mempunyai kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Ketika memilih cara menerapkan konsep pemikiran kita di Jember, kita tidak perlu takut akan terjadi penolakan besar-besaran dari masyarakat Jember, selama kita yakin hal ini akan membawa masyarakat Jember ke arah yang lebih baik. Contoh, dengan tanpa bermaksud mempertentangkan pembukaan Lapter Notohadinegoro, selama itu akan membuka keterisolasian Jember, terutama keterisolasian intelektual, kenapa hal ini tidak diteruskan saja. Apalagi duit yang sudah dikeluarkan Pemda juga tidak sedikit. Penerapan Bulan Berkunjung Jember (BBJ) di Agustus, lebih diletakkan pada koridor Pariwisata. Kenapa tidak dikembangkan sebagai bulan penggalian intelektual agar semua ’bahan baku’ berpartisipasi dalam pengembangan Jember. 

  1. Berani mengambil resiko (dari penerapan pemikiran tersebut).

Tidak banyak orang yang mempunyai keberanian mengambil resiko dari konsekuensi penerapan konsep pemikirannya. Apalagi melihat karakter masyarakat Jember yang cenderung keras, ekspresif dan sedikit temperamental (benar nggak sich……?). DF berani menerobos hal ini. Tentunya keberanian ini bukanlah keberanian membabi buta, tetapi keberanian dengan juga mempertimbangkan segala aspek. Pilihan tema dan busana yang dikenakan peserta Carnaval sebagai contoh, bukanlah hal-hal yang serba ’terbuka’, tetapi tetap mempertimbangkan kondisi psikologis masyarakat Jember yang berkultur santri. Sebenarnya bupati Jember sekarang (MZA Jalal), sudah menunjukkan ’nyali’, ketika berani merubah dengan ekstrim tampilan alun-alun dengan berbagai macam fasilitas olahraga dan juga memberikan nuansa padang pasir di depan Masjid Jami’ Al Baitul Amien (lihat hasil jepretan K.Faiz di Gallery). Meskipun terkesan norak dan dipaksakan, tapi toch pada akhirnya Jember punya sesuatu yang ’dibanggakan’. Nyali itu harus terus dikembangkan ke hal-hal yang langsung bersentuhan dengan  masyarakat. Kalau Jember dikenal dengan daerah dengan angka anak putus sekolah yang besar, mengapa tidak ada keberanian untuk membebaskan saja uang SPP sampai SMA. Masalahnya tinggal di kemauan dan penempatan prioritas program dari Pemda dan Muspida Jember. Jember juga mempunyai Universitas Negeri yang bisa ’dipaksa’ untuk lebih berkontribusi terhadap perkembangan Jember. Ketika banyak orang pintar di Universitas ini turut berpartisipasi dalam pengembangan daerah lain, kenapa hal yang sama tidak terjadi di Jember. Ketika banyak orang miskin mengeluhkan biaya pengobatan dan obat yang makin tinggi, kenapa Jember tidak mempelopori untuk membebaskan biaya pengobatan bagi masyarakatnya yang kebetulan belum beruntung dari sudut materi. Rasanya problemnya bukan di kemampuan financial, tetapi, sekali lagi, kemauan dan setting prioritas program kerja. 

Akhirnya Jember mau jadi bagus atau tidak, semuanya berpulang pada masyarakat, pemimpin dan juga kita sebagai salah satu ’civitas academica’. Kalau DF saja bisa membuat Jember ’berbeda’ dengan kabupaten lain, maka konco-koncoku alumni SMA 1 Jbr, sing terkenal pinter-pinter, mesthine bisa melakukan lebih dari sekedar ’berbeda’, alias berbeda yang hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Jember. Yok opo, rek……?. 

Wallahualam bissowab.

Popularity: 19% [?]

Jember Trip 2008

January 10th, 2008

Menjelang tanggal 31 Desember 2007, aku sedikit was-was. Rencana ke Jember untuk sowan orang tua dan njemput anak terancam gagal sebagai akibat banjir yang melanda wilayah Jateng dan Jatim. Luapan air Bengawan Solo yang makin menyebar, membuat jasa transportasi antar kota terganggu. Setelah cari info sana-sini, akhirnya tak tekati mabur dari Jogja ke Surabaya.

Senin jam 13.15 waktu Surabaya. Angin sejuk menerpa, sedikit mendung membuat suasana kota Surabaya terasa nyaman. Nggak seperti biasanya.. puanass. Aku nelpon Dr. Sevi dan Cak Ariek untuk melaporkan kehadiranku di Jawa Timur setelah hampir 2 tahun meninggalkannya. Tepat jam 2 siang, Bis Patas TJIPTO mengantarkan aku dan istri melalui kota “setengah mati” PORONG.

» Read more: Jember Trip 2008

Popularity: 35% [?]

Mau tinggal di mana kita?

January 5th, 2008

Dalam perjalanan menuju Dinkes dengan seorang kolega kemarin pagi, di tengah angin kencang dan hujan deras yang mengguyur Sidoarjo, kami sempat terlibat pembicaraan ringan tentang bencana alam yang terjadi di negeri ini, terutama di Jawa Timur. Sekarang ini, dimanapun kita tinggal rasanya semua punya potensi untuk terkena bencana alam.

Dulu, kupikir tinggal di daerah dataran tinggi, semisal Malang akan menyenangkan sekali. Sudah hawanya sejuk, panorama alam indah, tanaman mudah tumbuh dan air yang selalu segar. Tapi tampaknya keadaan tsb. tidak selalu demikian adanya. Sekarang ini, tinggal di daerah tinggi, justru ancaman tanah longsor mengintai sewaktu-waktu, terutama saat musim hujan tiba.

Di daerah pesisirpun, sebenarnya menyenangkan juga. Sekalipun hawanya relatif lebih panas. Tetapi kita bisa dekat dengan laut, bisa melihat cakrawala luas, melihat matahari tenggelam atau terbit, asik juga. Tapi, kalau mengingat bahwa tiap saat tsunami bisa datang dengan tiba-tiba, banjir pasang air laut dan badai yang memporak porandakan semua yang ada di pesisir, tentu ada perasaan takut juga. Sangat manusiawi.

Bagaimana dengan di perkotaan? Wah, tentu saja enak sekali. Secara fasilitas, semua ada dan lengkap, tinggal pilih saja yang penting ada uang. Tapi, karena biasanya penduduk lebih padat, tentu saja kawasan pemukiman jadi lebih rapat, daerah resapan air berkurang karena banyaknya bangunan2, belum lagi perilaku masyarakat yang tidak disiplin menjaga kebersihan, sistem drainase yang asal saja, perencanaan tata ruang kota yang tidak holistik. Membuat permasalahan di kota lebih kompleks. Akibatnya, ketika musim kemarau, air susah didapat dan kadang berbau serta kotor. Sedangkan saat musim hujan, air cepat sekali meluap sekalipun hanya diguyur hujan deras 1-2 jam saja.

Bagaimana jika tinggal di daerah sekitar aliran sungai? Kalau melihat betapa hebatnya sungai Bengawan Solo menenggelamkan kota2 di sepanjang alirannya dan menghancurkan semuanya, aku ngeri juga membayangkan. Padahal di Jember saat kecil dulu, keluargaku tinggal di pinggir sungai Bedadung. Sampai kelas 4 SD, rumahku di daerah Tembaan (d/h jl. Untung Suropati), masuk gang, dan rumahnya berjarak 50 meter dari tepi sungai. Ketika musim panas menyenangkan sekali bermain di sungai. Berenang, cari ikan, atau sekedar duduk2 di bebatuan yang besar sambil menikmati sensasi kaki yang digigiti ikan kecil-kecil. Airnya masih jernih kala itu, ikan-ikan yang berenang tampak jelas, wah asik dah! Tapi jangan tanya kalau pas musim hujan. Air sungai Bedadung yang tadinya jernih, bisa berubah jadi coklat, lebar sungai jadi 2 kali lipat, permukaan air meninggi, belum lagi suaranya yang gemuruh. Serem! Hanya karena posisi sungainya yang dalam, kekhawatiran karena banjir tidak pernah ada. Entah sekarang, bagaimana kabar si Bedadung?

Lantas, dimana sebaiknya kita tinggal? Yah…, dimanapun kita tinggal kini, apapun dan bagaimanapun keadaannya, itulah tempat kita yang terbaik. Asal kita bisa menjaga, merawat dan mencintai lingkungan sekitar dan rumah kita, tentu akan menjadi tempat yang sehat, indah, nyaman dan menjadi tempat yang paling dirindukan saat kita pergi.

Tak terasa, percakapan pagi itu harus diakhiri karena sudah sampai di tujuan. Hujan masih deras, angin sudah berkurang kecepatannya, jalan raya Porong hari itu ditutup total karena tanggul jebol dan membanjiri jalan raya sampai setinggi dada. Benar-benar pagi yang suram, tapi banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dan renungan.

Aku jadi ingat pertanyaan yang dilontarkan anak sulungku kepada ayahnya. “Pa, orang Amerika sekarang sudah merencanakan untuk tinggal di bulan, jika tanah di bumi sudah habis. Lalu kita orang Indonesia mau tinggal di mana?” Apakah kecemasan dan kekhawatiran yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kita? Kuharap tentu tidak.

Popularity: 13% [?]