Politik anak SMA…Anak SMA berpolitik

November 3rd, 2007 by ekoz_guevara Leave a reply »

Demonstrasi pelajar SMA Lincoln -East LA Jum’at siang kemarin 1 November 2007, seribu lebih anak SMA se Jabodetabek menyerbu Kantor Depdiknas melakukan demonstrasi menolak ujian nasional 6 mata pelajaran, mereka menuntut Depdiknas untuk menggembalikan kebijakan UNAS hanya untuk 3 mata pelajaran saja. Demo serupa secara paralel terjadi di Surabaya dan Medan. Menurut wartawan Kompas Cyber Media..ada satu pelajar ditangkap karena memaki polisi…dan dari pengakuan para siswa mereka berkumpul tanpa pemimpin dan hanya disatukan oleh perasaan senasib yang ditularkan dari sms antar pelajar yang telah beberapa hari beredar di kalangan mereka. Terlepas dari pro kontra yang terjadi seputar isu yang diangkat ( bahkan salah satu penelopon Metro TV..mengatakan bahwa demonstrasi itu adalah bukti ketidak percayaan diri dan kemalasan di kalangan pelajar..sama UNAS aja takut…padahal passing gradenya sangat rendah 5,6 saja)…yang patut dicermati adalah….para pelajar saat ini sangat paham sekali akan hakikat sebuah media/event untuk mengangkat dan mewacanakan sebuah isu melalui demonstrasi yang diliput luas oleh media….namun demo kemarin itu sekaligus menunjukkan bahwa pengkaderan pemimpin sejak dini /SMA tidak berhasil ..karena tidak ada satu orang atau pihakpun yang berani menjadi pemimpin atas ribuan siswa itu…sehingga demopun berjalan tanpa arah dan target pencapaiannnya hanya sekedar untuk melontarkan wacana penolakan itu…..enough….padahal dalam memperjuangkan sebuah ide selain dilontarkan dalam bentuk wacana juga perlu diingat bahwa mengawal ide-ide itu agar tak mati dikalangan pelajar dan juga para pengambil keputusan adalah yang terberat, sampai tuntutan untuk mengembalikan UAN hanya untuk 3 mata kuliah saja tercapai….. Yang terjadi di Demo kemaren itu ya berhenti pada wacana saja…dari sisi itu nampaknya mereka perlu banyak belajar …bagaimana memainkan peran politiknya sehingga menjadi kekuatan yang diperhitungkan…Padahal saat mereka bisa mengumpulkan seribu pelajar untuk turun berdemonstrasi menunjukkan kemampuan yang luarbiasa untuk menggerakkan rekan-rekan satu ide…sayang sekali momentum itu terlepas begitu saja….

Sekarang coba kita bandingkan dengan yang terjadi ditahun 1968..di East Los Angeles terjadi demonstrasi besar-besaran (20.000) para pelajar SMA yang berasal dari etnis Latino atau dikenal sebagai Chicano (keturunan Mexico,Kuba,Dominika,Philipina dll) atau para pelajar yang bahasa ibunya Spanyol…Mereka melakukan protes setelah didiskriminasi oleh Dinas Pendidikan Los Angeles antara lain..tidak boleh berbahasa spanyol di lingkungan sekolah…dilarang memakai WC saat jam istrirahat….demonstrasi ini berhasil menghapus diskriminasi bagi para pelajar Chicano….keberhasilan itu sendiri terjadi karena para pelajar itu ada yang memimpin yaitu para formal dan informal leader SMA yang mayoritasnya Chicano…..cerita ini telah difilmkan oleh HBO dengan judul Walk Out…….

Perbandingan ini ditunjukkan betapa kita sangat ketinggalan dalam menumbuhkan semangat untuk selalu membela kebenaran dan melawan ketidakadilan yang dirasakan oleh pelajar..atau bahasa singkatnya…pelajar Indonesia kalah jauh dibandingkan rekan sebayanya di US dalam menyadari dan memperjuangka hak-hak politiknya…walaupun dibandingkan jaman kita dulu..apa yang dicapai pelajar SMA saat ini jauh lebih baik dalam hal kesadaran akan hak-hak politisnya maupun cara implementasi hak itu pada saat kepentingannya dilanggar siapapun…..Tapi tetap aja tak ada pemimpin pelajar yang lahir demonstrasi itu…

Harus diakui bahwa Rezim Orde Baru telah begitu berhasil menanamkan doktrin dahsyat dalam membendung hasrat azasi pelajar untuk mengenal politik…..berbagai gaya indokstrinasi seperti Penataran P4 yang simultan (SMP,SMA,PT dan saat mo kerja),harus hapal 36 butir-butir pancasila, sampai pelajaran PSPB lalu PMP masih ditambah hormat bendera sebelum pelajaran…pokoknya semua diarahkan meningkatkan jiwa”Nasionalisme” dan rasa cinta tanah air ….dan nasionalisme itu sendiri kemudian melebar menjadi….dokrin bahwa “Politik itu kotor”..”menentang Orde Baru berarti aNasionalis dan a pancasialis”..”Ikut organisasi pelajar diluar yang disediakan pemerintah adalah a nasionalis” saat itu organisasi yang direstui pemerintah adalah OSIS, Pramuka (yang baik hati dan tidak sombong itu), PMR, dan PA …semuanya itu akhirnya berhasil membentuk generasi yan apolitis dan anti aktivitas politik..kalopun ada yang begerak di OSIS tidaklah bener-bener sadar bagaimana membuat OSIS sebagai kendaraan aspirasi siswa…OSIS saat itu adalah sebuah Panitia Besar dengan masa tugas satu tahun….karena para pengurusnya akhirnya terjebak pada kepanitian peringatan agama, panitia upacara bendera,panitia lomba-lomba olahraga antar kelas,panitia persiapan Gerakjalan,panitia persiapan lomba PBB dsb coba kita lihat nama-nama departemen/seksi dalam osis kala itu….ada Seksi Penanaman rasa Kebangsaan dan Cinta tanah air (dibaca seksi PBB dan Upacara bendera)..ada Seksi Budi pekerti luhur ( dibaca Seksi Kerohanian dll) Seksi Pembentukan Jiwa dan Jasmani Luhur (ato seksi Olahraga dan Seni) …nama-nama aneh yang sangat ORDE BARU..dan kita gak bisa apa-apa lha wong saat kita SMA adalah saat jaya-jayanya ORBA (penganugerahan Bapak Pembangunan dll) maka semuanya ditelan aja….akhirnya jarang sekali dari kita dapat mengingat apa saja yang asyik dari OSIS kita ato sebutkan 10 orang pengurusnya aja mungkin gak apal…paling yang diingat ketua OSISnya Yanar wakilnya Firman Kurniawan…saat itu betul-betul deh kita itu….

Tapi bukan berarti gak ada riaknya lho kehidupan SMA kita…satu peristiwa yang paling aku ingat…saat aku kelas 1..ada kakak kelas 3 yang tidak mau melakukan hormat bendera baik saat di kelas sampai saat upacara…kalo gak salah namanya Gani ( adiknya namanya Gaston-1987 dan adiknya lagi Geigy-1990) anaknya seorang dokter terkenal di Tegalboto…wah pihak sekolah saat itu seperti kebakaran jenggot dan bertindak reaksioner untuk mencegah aksi politik yang termasuk berani untuk ukuran anak SMA tidak diikuti oleh murid lainnya..keberanian kakak kelas kita itu konon sebagai dampak munculnya kesadaran politik setelah bergabung dengan sebuah organisasi pelajar extra sekolah…malah denger-denger mas Gani dan ortunya sampe dipanggil oleh POLISI dan Intel Kodim….tapi ya itu tadi akibat doktrin yang kuat dan sikap totaliter pihak sekolah akhirnya aksi itu hanya dicatat sebagai bentuk “kegenitan” anak SMA aja……selain itu gak ada lagi aksi politik yang sejenak membuat kita menyadari ada yang salah dalam kehidupan masa sekolah kita itu…

Hal ini bukan berati gak ada sama sekali murid SMA 1 yang tertarik sama kehidupan politik dan organisasi lho.. saat SMA itu aku tau bahwa beberapa teman kita sebenarnya telah mempunyai basis pengetahuan politik dan organisasi yang lumayan…banyak teman-teman kita yang telah menjadi anggota dan aktif diberbagai organisasi pelajar extra sekolah seperti IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putra Putri nahdatul Ulama) tapi aku lupa orang-orangnya …maklum mereka bergerak secara klandestin (diam-diam) dan tidak melakukan perekrutan dan pengkaderan anggota secara terbuka di sekolah kita…. entah alasannya apa…mungkin takut dibilang anti pancasila….atau anasionalis….sehingga dampak ikutnya mereka dalam organisasi extra itu dalam memberdayakan OSIS kita gak terasa…

secara umum Rezim ORBA telah berhasil menciptakan kader-kader yang betul-betul apolitis..dan dampaknya sampai sekarang lho..he..he..he…banyak teman-temanku alergi jika saat kongkow-kongkow mulai membahas isu-isu politis….baik yang ditingkat lokal perusahaan…apalagi daerah dan Nasional…gak aja deh kata mereka….

Kekurangan pengalaman organisasi dan politik ini saat kentara saat aku bergaul dengan kawan-kawan mahasiswa di UGM…banyak dari mereka yang langsung tune in dalam berbagai aktivitas mahasiswa dan aktivitas politik mahasiswa tanpa canggung…sedang aku pada awalnya selalu ragu bergerak…gak ada inisiatip kata mereka….ternyata memang sebagian besar telah mendapatkan bekal yang cukup kala mereka SMA baik dari OSIS yang cukup terbuka dan organisasi extra sekolah yang agresif dalam melakukan pengkaderan…

Jadi apa yang dilakukan rekan-rekan Pelajar Jabodetabek kemaren..terlepas dari isu yang prematur..namun keberanian seribuan orang pelajar untuk menggunakan hak politisnya secara terbuka patut diacungin jempol…”keberanian bergerak”…adalah salah satu keberhasilan pembelajaran politik pada zaman reformasi….tinggal saja dilakukan pendampingan yang baik dari para guru saya yakin energi hak politik mereka akan bisa disalurkan untuk menghasilkan karya-karya yang berguna bagi pendewasaan sikap dan penumbuhan semangat Leadership….. semoga saat anak kita beranjak SMA..gak ada lagi model indoktrinasi kayak ORDEBARU..biarkan saja mereka mempelajari kehidupan organisasi dan aktivitas politik ala SMA namun tentu saja kalo kita gak kepengen ada apa-apa kita harus selalu ada saat mereka bertanya ato meminta saran atas kegelisahan tertindasnya hak-hak politik mereka di sekolah…..Karena kebebasan demokrasi adalah prasyarat utama lahirnya generasi pemimpin bangsa ini…dan semoga mereka itu adalah anak-anak kita…

Jadi seberapa asyik Politik SMA kalian saat itu?….kalo aku hanya bisa nyesel karena hanya menjadi bagian dari pelajar yang terindoktrinasi menjadi insan apolitis sejati……pelajar yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan dasar kepemimpinan sejak dini…..

Popularity: 16% [?]

Advertisement

Leave a Reply