Hari Pahlawan, Pahlawan-Pahlawan Lokal Jember

November 9th, 2007 by Rizal Leave a reply »

Rasanya semakin hari kita (tepatnya aku.. he..he..) semakin lupa kalo tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan (soalnya gak tanggal merah). Kalo dulu pas jaman sekolah, kita dipaksa inget karena dipaksa upacara. Yang terbayang saat mempringati Hari Pahlawan adalah semangat perjuangan Arek-Arek Suroboyo yang heroik, tapi mosok cuma arek-arek Suroboyo aja sing heroik. Di tulisan ini aku pengen sedikit sharing tentang Arek-Arek Jember gak kalah heroik, banyak peristiwa kepahlawanan lokal yang sebenarnya bisa menjadi kebanggan kita sebagai Arek Jember. Mohon kalo ada yang punya informasi lebih, bisa dibagi di blog ini.

  1. Moehamad Seroedji — Kalo ke Patrang dari arah kota, pasti lewat jalan yang namanya Jl Muhamad Seruji. Nama ini diambil dari nama Letkol Muhamad Seruji, pimpinan perjuangan di jaman perang kemerdekaan. Aku gak punya lengkap tentang beliau, tapi setahuku minimal ada 5 tempat yang berkaitan dengan beliau.

    • Jalan Muhamad Seruji, di Patrang;
    • Patung Muhamad Seruji, di depan kantor PEMDA Jember, Jl. Sudarman no 1, depan alun-alun;
    • Makam Muhamad Seruji, Pemakaman Umum Kreyongan, bisa dicapai dari jalan Jambu (Tepbek) atau masuk dari jalan Belimbing (dr Jl Sudirman). Makamnya di atas bukit dan ada bangunan yang cukup menonjol di sana;
    • Patung Pahlawan di Kaliwates (ujung double way), di prasasti yang tercantum ditulis bahwa Letkol M Seruji meninggal di desa Karang Kedawung, Mumbulsari;
    • Monumen di desa Karang Kedawung, Mumbul Sari, monumen ini relatif kecil dan letaknya di pinggir jalan desa dekat kebun tebu. Konon beliau gugur setelah berhari-hari dikejar pasukan Belanda, route gerilya beliau biasanya tiap tahun dinapaktilasi oleh Pramuka UNEJ dengan nama kegiatan NALASUD (Napak Tilas Muhamad Seroedji), acaranya biasa dilakukan pada awal bulan Agustus, diawali dengan ziarah ke makam beliau di Kreyongan, dilanjutkan dengan long march dari Desa Manggisan (Tanggul), menyusuri lereng barat Argorpuro, ke Sukorejo (Bangsal), sampai Sumber Rejo (Ambulu), Tempurejo terakhir di Karang Kedawung (Mumbul Sari) selama 3 hari 3 malam. Aku gak tahu apakah kegiatan ini masih ada apa gak, soalnya dulu waktu SMA kelas 2 (tahun ‘93) sempat ikutan acara itu (lumayan.. bolos 3 hari, pokok heroik banget deh..maksud’e heroik mbolose).
  2. dr Soebandi — Nama beliau ini menjadi nama jalan dimana Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soebandi terletak. Aku gak tahu bagaimana kiprah beliau di jaman perjuangan, tapi setahuku beliau sejaman dengan Muhamad Seruji. Makamnya di TMP jln Slamet Riyadi (Baratan), urutannya termasuk paling depan (nomer 2 atau 3). Sayang tidak ada informasi tentang perjuangan beliau, tidak seperti dr Karyadi (namanya diabadikan sebagai nama RS di Semarang) yang terlibat dalam peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang.

  3. R. Sudarman-Notohadinegoro — Nama R. Sudarman diabadikan sebagai nama jalan dimana kantor PEMKAB Jember yang dihiasi patung Letkol Muhamad Seruji. Awalnya aku gak tahu siapa beliau ini, kok namanya bisa dijadikan menjadi nama jalan yang sangat penting di Jember. Ternyata beliau adalah bupati Jember ketiga yang memerintah tahun 1943-1947. Sedangkan Notohadinegoro, yang namanya diabadikan menjadi nama stadion kebanggan warga Jember, (markasnya PERSID Jember, si Macan Sangar..) adalah bupati pertama Jember 1929-1942 (http://pemkabjember.go.id/v2/selayangpandang/kepala_daerah.php). Sayangnya lagi tidak ada juga informasi yang cukup tentang beliau berdua. Tapi yang pasti beliau adalah pahlawan-pahlawan buat masyarakat Jember.

  4. Palagan Djoemerto — Kalo di Ambarawa terkenal dengan Palagan Ambarawa, nah Jember punya cerita heroik dengan nama Palagan Jumerto. Desa Jumerto masuk ke wilayah Kecamatan Patrang, bisa dijangkau dari perempatan Gebang Poreng lurus ke arah Jumerto (binung aku, utara apa selatan), bisa juga dari Cangkring deket Stadion (sebelum Gudang Garam). Disini terjadi pertempuran antara pasukan Brimob dari Kepolisian (jaman itu polisi kan ikut perang juga) yang sedang dari perjalanan dari Kediri (atau Blitar?) menuju Bondowoso. Di Jumerto ini, pasukan ini dilindungi oleh warga sekitar dari kejaran pasukan Kumpeni. Hasilnya beberapa puluh warga dan beberapa pejuang gugur. Nama-nama mereka tercantung dalam monumen yang letaknya tidak jauh dari kantor kepala desa Jumerto. Di dekat monumen ada makam dan masjid Assyhuhada. Gak tahu apakah mereka yang gugur dimakamkan di makam di belakang monumen. Sayang lebaran kemarin gak sempat photo tempat itu.

  5. Sogol — Sogol ini mirip Sakera-nya Bangil. Jadi mungkin sedikit kayak mitos, aku juga tahunya dari sebuah majalah terbitan Surabaya (Liberty) yang sempat tak konfirmasi ke Mbah-mbahku yang kebetulan aslinya di daerah Desa Kasiyan, Puger. Sogol ini beroperasinya di daerah Grenden, Puger dan daerah sekitarnya. Gak tahu bentuk perjuangannya seperti apa, tapi yang jelas biasalah pendekar jaman dulu, single fighter. Meniggalnya di Kali Mayang yang bermuara di Puger (opo bener ya), makamnya di belakang Panti Wreda di desa Kasiyan (dekat pertigaan Puger-Gumuk Mas). Katanya dulu Panti Wreda itu dulunya penjara (soalnya bapaknya Mbah Buyutku, berarti Canggah ya, itu pegawai penjara). Salah satu peninggalan Sogol ini sumur gumuling, di pinggir jalan Ambulu menuju Watu Ulo. Cuma memang kalo cerita kayak gini nyampur dengan legenda.

Mestinya masih banyak pahlawan Jember yang lain, kalo mo nyari lagi, coba cari nama jalan yang pake nama orang tetapi bukan pahlawan nasional. Mestinya beliau punya jasa besar sehingga namanya dijadikan nama jalan. Aku pribadi sik penasaran karo nama Imam Syafi’i. Nama ini pernah dijadikan nama jalan yang sekarang jadi jalan Diponegoro (almarhum Bioskop Sampurna), mestinya beliau juga pnya jasa besar (bukan mentang-mentang nama Bapakku Syafii juga. Atau nama Pasar Johar (sebelum jadi Matahari Johar Plasa), nama Johar ini dari nama pohon Johar atau nama orang. Kalo gedung Sutarjo, itu nama rektor Unej (1968 – 1978) kebetulan tonggoku ning Patrang (meninggal tahun 78, so aku gak sempat kenal beliau). Nah ada cerita yang lain soal pahlawan Jember?

Advertisement

30 comments

  1. Faiz Sahly says:

    Biasanya, nama seseorang diabadikan setelah yang bersangkutan wafat. Sepertinya hanya satu tokoh Jember, yang namanya diabadikan saat beliau masih hidup, sehat bergas waras.. Ayoo, sopo sing elingg..? ( Nek aku jelas, eling.., makane tak bedhek-i..)

  2. Rizal says:

    Kalo boleh mbedhek, Almarhum KH Ahmad Siddiq Jalan di Talangsari dinamakan dengan nama beliau pas beliau masih sugeng khan? Lagian pesantren Beliau juga di jalan itu. Ohya kok aku agk masukin nama beliau ke daftarku yo.. Astaghfirullah… :)

    Apa munngkin tar ada jalan Yusuf Muhammad di Jember? (Gus Yus, yang meninggal pas kecelakaan Lion Air di Solo)

  3. Ivan says:

    KH Shiddiq yo Iz?.. bener nggak? Yo jelas ae awakmu ngerti Iz, wong saben dino lewat omahe.. wong nek beliau wahing ae krungu soko omahmu..he..he

    Sik onok maneh sich beberapa pahlawan sing gak terkenal.. saking gak terkenale sampe awak-awak yo gak weruh sopo iku..he..he..

    Menurut pendapatku nek pahlawan iku gak kudu berjuang ndik medan perang ae.. tanpa mengurangi rasa hormat pada yang gugur membawa senjata, sakjane wong-wong sing sejak awal kebangkitan nasional aktif dalam pergerakan2 (organisasi2) politik yang menyadarkan bahwa kita ini adalah bangsa Indonesia dan berhak untuk setara dengan bangsa-bangsa lain.. atau orang2 yang selalu membela yang lemah, misale nek saiki: Munir SH.. itu juga berhak utk disebut pahlawan..banyak lagi kategori2 lain yang bisa dijabarkan.. dan nek jareku pahlawan tidak selalu identik dengan tanda jasa..

  4. ekoz-guevara says:

    Usul cak Amal….pahlawan Cyber from SMAN 1 Jember…yang ndirikan milis dan blog ini….wkkkk..wkkk…wkkk…

    just kidding Brotha…………………..

  5. Faiz Sahly says:

    Yang sering jadi uneg-2 di hatiku adalah " Mengapa yang dikebumikan di Taman Makam Pahlawan adalah yang dari Militer ? ". Maaf untuk yang teman-2 yang berlatar belakang keluarga militer. Bukan bermaksud menggugat. Tapi terkait dengan obrolan menjelang Hari Pahlawan dan sudah disinggung oleh Ivan : " Menurut pendapatku nek pahlawan iku gak kudu berjuang ndik medan perang ae.. tanpa mengurangi rasa hormat pada yang gugur membawa senjata, sakjane wong-wong sing sejak awal kebangkitan nasional aktif dalam pergerakan2 (organisasi2) politik yang menyadarkan bahwa kita ini adalah bangsa Indonesia dan berhak untuk setara dengan bangsa-bangsa lain.. atau orang2 yang selalu membela yang lemah, misale nek saiki: Munir SH.. itu juga berhak utk disebut pahlawan..banyak lagi kategori2 lain yang bisa dijabarkan.. dan nek jareku pahlawan tidak selalu identik dengan tanda jasa..

    Andaikata benar yang jadi dugaanku, rasanya perlu diperluas segmen orang yang boleh dan mendapat kehormatan untuk beristirahat dengan tenang di akhir hidupnya di TMP sana. Ada yang pernah tanya atau nge-cek tingkat kepahlawanan beliau-2 yang dimakamkan di TMP tersebut ?

  6. ekoz-guevara says:

    Siip ini bahasan yang menarik…………

    Para pahlawan jember yang tak kenal kayak Letkol Moch Sroedji dan Dr.Soebandi ..pernah berusaha tak googling…gak pernah ada laman ato artikel dam penjelasan yang memuaskan tentang kiprah beliau-beliau…mungkin postingan dari Rizal malah yang paling lengkap saat ini di dunia maya ini…

    Pakdeku Namanya Kamat pangkat terakhir Sersan Kepala..pernah cerita begini….(th 1990an)..

    Di Jember dulu yang menguasai adalah pasukan marinir (TKR/BKR Laut) yang dikenal dengan nama Batalion Singa Laut beroperasi di Karesidenan Besuki dan sekitarnya …. Pakdeku adalah Brengunmen..orang yang membawa Mini mitraliur (Minimi) ato dikenal Brengunn berupa senapan mesin yang ada doublepod untuk stand senapan….kalo di dalam Regu (± 20 orang) ada satu orang yang khusus bawa ini senapan… beliau ikut pertempuran 10 Nopember …sebagai bagian bantuan TKR/BKR Besuki untuk membendung NICA/Inggris dari sisi timur..pertempuran paling dahsyat terjadi di depan Mesjid Bangil..disini batalion singalaut kocar karit…terus mundur (doorstood) ke arah Pasuruan..dan dikejar terus…pasukan melingkar ke Malang terus ke Lumajang…disini terlibat beberapa pertempuran kecil…pasukan terus digencet ….mundur sampai di daerah Kentjong…regu pakdeku disergap NICA dan pakdeku ditangkap…dipenjara 1 tahun di LP Lumajang,,sampe dibebaskan pasca perjanjian meja bundar (1949)…pakdeku sempat berkarir di tentara…pada saat rasionalisasi laskar-laskar TKR/BKR…sebagian Batalion Singa Laut dilokir ke Makassar untuk membantu naklukin Kahar Muzakkar…pada saat itu beliau gak dapet ijin Ortunya sehingga keluar dari TNI…..dan berkarir sebagai Sipir LP Jember yang dekat SMP 2 itu sampek pensiun…sayang saat ini beliau kena stroke…sehingga niatku untuk sekadar mencatatkan perjuangan beliau yang akan diceritakan kepada anak cucunya karna perjuangan beliau menjadi salah satu kebanggan keluarga kami gak kesampaian…. Jadi emang problem kota kita ini..adalah..tidak menempatkan sejarah ato penghormatan kepada pahlawan sebagai bagian penting pengembangan jatidiri arek-arek jember….sehingga gak banyak orang tahu seberapa heroik perjuangan sroedji,Soebandi,Sogol dll….cobak ada gak museum tentang kota jember dan milestonenya yang komprehensif?…mangkanya aku sangat pengen ada alumni SMAN 1 Jember jadi Bupati dan mau memperhatikan masalah ini secara sirius..untuk pembentukan Character anak bangsa ..ya gak… sebenarnya lambat laun banyak juga orang Jember yang cukup diperhitungkan di tingkat Nasional…scope kecil aja…di BNI telah ada Direktur asal Kreyongan alumni UNEJ…hebat bukan…Pemimpin Divisi asal depan SMP 2….maybe next banyak lagi yang akan tampil secara nasional….lha wong Adam Badra (SMA1-2005) bisa juara Fisika dunia kok….siapa tau si Rizal akan melejit jadi pakar/pahlawan telekomunikasi…Faiz menjadi penemu persilangan Iwak nila dengan Iwak berkong..yang bisa jadi selegendaris Pak Mujaer…ato si Ivan..dadi direktur PT.GASI yang akan mengakuisisi IBM ato Hewlet Packard….lha kowe ko dadi opo Kos?…aku dadi pegawai BUMN aja deh..wkkk..wkk..wkkk… Nice topic Zal…nanti tak comment lagi kalo ada bahan bagus..aku tetep Googling pahlawan van Jember…

    FYI…lebih banyak laman yang muncul saat gogling Ikhlasul ASmal daripada Moch.sroedji atao dr.Soebandi lho…cobak aja…wkkk…wkkk..wkkk…(diprovokasi ae..supoyo cak moderator turun gunung dan mau sowan blog…wkkkkk…wkkk…wkkkkkk)

  7. adib says:

    Mungkin ini bisa ditambahkan… P. Dayatuk, konon dia salah satu korban yang selamat dari peristiwa gerbong maut, yang saat ini gerbongnya dipajang di alun-alun mBondowoso.

    Setahuku dulu, dia "aktivis" pramuka sejati, soalnya disisa usianya dengan seragam pramukanya dia ikut mengatur lalu lintas didepan SD Pagah, membantu menyeberangkan siswa siswi SD.

    Kemudian tokoh yang termasuk legendaris di Jember ( tapi apa termasuk pahlawan ya..??) adalah Abdul Hadi salah satu Bupati yang paling legendaris. Peninggalannya kalau ga salah adalah Masjid Al Baitul Amin, Jalan Double Way ( Gajah Mada Kaliwates ).

    Kalau Mbah Kh. Siddiq, Faiz wajib tahu, disamping rumahnya didaerah Talangsari, cak Faiz salah satu dari bani Siddiq kan…

  8. ekoz-guevara says:

    dib….faiz emang Bani shiddiq…punya kemampuan organisasi bagus….jagoan orasi..nulis oke..kon dadi calon bupati 10 tahun lagi gak gelem…padahal via nama besar bapa dan Ibundanyya dia bisa masuk PKB tuh…iki..malah ..nyasar ndek Kebumen…wkkkkk..wkkkkk…

    lho awakmu kenal ndayatuk juga to…beliau ini adalah salah satu icon gerakan Pramuka di Jember..maybe sampek saat ini gak ada yang selegendaris beliau dalam mengabdi sama Pramuka…luar Biasa… Kalo beliau sih verified sebagai salah satu yang hidup saat dikirim dalam gerbong tertutup sokok Bondowoso sampek suroboyo…dulu pernah ditulis ndek Koran "Derap Pembangunan"..iki koran legendaris asli Jember…

    Kalo Abdul Hadi emang bupati yang paling legendaris kayaknya….sampek orang bilang…bupati jember saat ini adalah Abdul Hadi…lainnya adalah penggantinya belaka….

  9. Faiz Sahly says:

    Lhah, Nek " SUTRISNO ??? " bisa masuk kategori opo, Cak ? Termasuk tokoh legendaris korban revolusi ya ?

    Bukan gak mungkin, apa yang dirintis Cak Amal setapak demi setapak atau se-kilobyte demi se-kilobyte, kelak akan menempatkan beliau dalam salah satu tokoh yang patut dibanggakan oleh bangsa ini, nggak cuma alumnus SMA 1 atau orang Jember thok.. Yakinlah, Cak Amal. Kami semua mendukungmu. Nek gak mendukung, opo mungkin blog iki dadi rame..

  10. ekoz-guevara says:

    Sutrisno?…iki opone try sutrisno…his ancestor?..pls need another information…

    opo Pak Tris Fisika…kualat kowe is…isok dadi berkong awakmu nlho..wkk..wkk…

    mumpun weekend…ayo bloging sampek isuk…wkkkk..wkkk… ngancani sing lagek Bulok..hiks..hiks..hiks..

    iz..ibukmu kan Nyi Lilik yang ustadzah kan?…ayo jawab…terus nopo gak mlebu PKB…opo meh melu PAN…"..awas be'en mon norok Mu'diyeh…"..wkkkkk..wkkk…

    Sorry Zal…OOT…(Out Of Topic)..

  11. Faiz Sahly says:

    Wah, "Sutrisno ???" itu salah satu ikon Jember tahun 80-an. Namanya sering tertulis di tembok-2 toko, Buk-2 kampung atau di trotoar jalan. Sosok seseorang yang terobsesi untuk berseragam prajurit, mengenakan baret, membawa bambu runcing dengan bendera merah putih..

    Sayang, karena tidak terpenuhi obsesinya, maka "jejak-jejak" perjuangannnya ditorehkan dalam bentuk coretan namanya sendiri, sebagai bukti bahwa dia sudah sampai kemana-mana dan pernah ada dimana-mana di sudut-sudut kota Jember.. Di daerah ngGebang, banyak juga kok "prasasti"nya. Sudah "ngeh" atau masih "haho", Koz ?

    Tak akoni bahwa aku terlahir dari orang tua yang cukup punya nama untuk ukuran kota Jember. Beliau berdua dikenal di kalangan dunia Pendidikan. Yang kuliah di IAIN atau STAIN Jember atau di FH-UJ, pasti kenal siapa beliau.

    Tapi boleh dong, anak-anaknya bikin sejarah sendiri. Faiz nglanglang jagad maring Kebumen, sapa ngerti ngesuk malah bisa dadi Bupati nang Kebumen.. Nek soal berkiprah, aku lebih ingin bisa "kemana-mana" dan "ada dimana-mana"..

    Kos, Bine'na sengko' oreng Mu'diyeh, Pemilu 2004 menaruh harapan pada caleg PKS juga PAN serta PKB. Yang penting : Siapa yang bisa berbuat yang terbaik untuk negeri ini, akan aku dukung. Barangkali, kalimat terakhir itu yang sering dilupakan oleh Caleg, Pejabat atau Politisi di negeri ini. Untuk apa dan siapa perjuangan mereka ini sebenarnya ? Untuk bangsa Indonesia kan ? (mestinya.. tapi Indonesia bukan negeri biasa.. )

    Semoga apa yang sudah diperbuat oleh mereka yang mengatur negeri, tidak membuat air mata menitik dari sudut mata mereka yang gugur dalam memerdekakan negeri ini.. Sedih memandang negeri tercabik-cabik oleh keserakahan generasi penerusnya..

    Barokalloh..

  12. adib says:

    Saya tahu ttg Ayahanda Faiz, paling tidak sejak SD. Beliau ( Bp. Sahilun ) salah seorang "Imam Besar" masjid Al Huda. Anak2 condro dam patimura saya pastikan tidak asing dg nama beliau.

    Ttg bine'na Ca Faiz, saya paham sekali ttg kultur pesantren di talangsari, kala seorang bapak menasehati anaknya :….. " cong… klo kamu mau nyari istri, pastikan dia orang Islam…. atau kalo gak minimal Muhammadiyah..!!!" …

    Guyon lo Gus….

  13. Faiz Sahly says:

    Zal, Sorii buangett, tambah OoT.. anggota blog-e mulai ngacoooo..

    Piye iki ditantang nge-blog sampai esuk karo Ekos ? Wani ra ? Aku ora wani pulsane.. he..he..he..he.. Ekos ngono nge-blog ABiDin alias Atas Biaya Dinas.. wkk..wkk..wkk…

  14. sevi says:

    Disebut nama Ndayatuk, aku jadi eling jaman2 SD biyen. Masiyo wis sepuh ngono, lek wayah pramuka sing disenengi dan diperhatikno mesti sing ayu2, antarane Yunik (saiki ojobe Yudi Set), ono maneh Yayuk (koncoku SD). Lek aku yo gak direwes blas alias gak mlebu itungan…hiks, hiks…melas rek

  15. ekoz-guevara says:

    Sutrisno!!!!!!!!!!!!!!!! aha…ikon bohemian dan seniman jalanan…. sebelum munculnya para seniman jalanan…kayak para Pantomimer di jalanan Jogja…. ternyata kita dah punya ikon ..yang dikenal seantero kota Jember……. saya curiga sebenarnya Kosa kata Stress…itu diambil dari nama beliau itu..sutris….saya betul-betul curiga nih…..

    Kembali ke Pahlawan……… apa ya…(eh…sorry belum ada bahan…wekkkk..wkkkkk….)…. tak googling lagi ah….

  16. ekoz-guevara says:

    Balikpapan..10 November 2007 BNI SKM Balikpapan …08.15 WITA

    Untuk mengenang dan menghargai cucuran keringat dan darah para pendahulu kita yang telah membentuk Republik ini

    …sejak Adipati Unus sampai era Munir…dari Soekarno sampai Sroedji…dari Nyi Ageng Serang sampai Susi Susanti… dari Aceh sampai Merauke….dari Nunukan di utara Borneo…sampai Pulau komodo di selatan NTT… para pahlawan perang, pahlawan kemanusiaan,pahlawan olahraga,pahlawan budaya, pahlawan lingkungan,pahalawan dengan tanda jasa, atau pahlawan yang zonder tanda jasa…yang hembus napas terakhirnya adalah untuk republik dan kesejahteraan anak bangsanya….

    semoga Allah SWT memberikan pahala yang terbaik bagi mereka….. Semoga republik ini terus berdiri…dan menghasilkan pahlawan pahlawan yang lain…sehingga kelak hanya keadilan dan kemanusiaan dalam lindungan Allah SWT saja yang tercium di Republik ini

    Mengheningkan cipta MULAIIIIII…. (,,diiringi..lagu mengheningkan cipta nang syahdu….)

    Balikpapan 08.16 WITA….

    SELESAI…………….

    Terima kasih… Adipati Unus,Hassanuddin,Martha Christina Tyohahu,Teuku Umar,Letkol Sroedji,Dr.Soebandi,Sogol,Sarip Tambak Oso, pakde Kamat,Batalion Singa Laut, Silas Pappare,Soekarno,Hatta, Tan Malaka, Rudy Hartono,Susi Susanti….yang lain yang tak sempat kutulis…

    Terima kasih,,terima kasih…

  17. faiz_sahly says:

    satu lagi LOG ZHELEBOUR, eh masuk pahlawan musik nggak ?

  18. ekoz-guevara says:

    Kalo bagiku iya…..tanpa dia gak ada keriangan dalam bermusik…gak ada Power Metal…gak ada Roxx..gak ada God Bless..gak ada Yngwie Malmsteen di tambaksari…

  19. Rizal says:

    Weleh-weleh… dadi rame komentare, wah bakalan kebak inbox emailku… Tapi, ternyata bener tulisanke ning awal, mau isuk aku lali gak mengheningkan cipta, padahal wingi sore sempet nonoton iklane Pakde Bactiar Chamsah nig TV.. :( Dayatuk… tas mau isuk aku eling tentang beliau, tiap pagi sampe siang nyebrangno murid-musid SDN Jember Lor I, II dan IV (SD PAgah), ngarep kantor Jiwasraya Jl Sudirman. Kebetulan aku alumni Jember Lor II. Bu dokter alumni SD sana juga? Aku sempet baca Majalah Vidya Yudha tahun 1969 (punya Bapakku), cerita tentang gerbong maut memang sadis bgt, banyak yang bertahan hidup dengan minum ('maap) air seni sendiri. Kalo soal Pramuka di Jember selain Dayatuk, ada Kak Mujadi (jadi pembina Saka Bayangkara di Jember) yang menurutku layak jadi ikon pramuka jember. (Beliau berdua masih hidup gak ya?..)

    Tiap orang sebenarnya adalah pahlawan buat orang lain, contohnya bapakku dan ibuku, juga guru-guruku adalah pahlawan-pahlawan buatku. Cak Eko adalah pahlawan buat Icha, selalu setia meyediakan enfapro tanpa harap imbalan jasa..:) Aku juga mungkin pahlawa buat anakku (meskipun kalo ada bundanya, bisanya anakku selalu bilang Ayah pergi… he..he..)

    tiap makam sebenarnya makam pahlawan bagi tiap-tiap orang..he..he.. (nek ngomonge rodo serius anggep wae Rizal lagi rodo anget awake..)

  20. Rizal says:

    Akhirnya, ketemu info yang tak cari tentang Letkol Muh Seruji dan dr Soebandi di http://www.tniad.mil.id/operasi/wingate.php dan di http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&amp… , cuma memang infonya cuma secuil. Beliau berdua gugur tanggal 8 Februari 1949. Letkol Muh Seruji (ditulisnya Suruji) adalah komandan Brigade III, dan dr Soebandi adalah dokter brigade. Tidak disebutkan lokasi gugurnya beliau di web itu. Ternyata perjuangan beliau berdua tercatat di sejarah nasional juga ya… Opo gak bangga rek dari arek Jember :)

  21. egah says:

    saya sempat nemuin tugu kecil di daerah perkebunan blatter tempurejo pas mau ke rowo cangak awal 2008 kemaren di tugu itu ditulis untuk para pahlawan yang gugur dalam perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1947 apa mungkin ini tugu yang mas rizal temui???

  22. pam gunawan says:

    ayo ayo.. terus sebagai wong jember awake dewe trus nggoleki jane piye lan opo ae sing kaetane karo sejarah jember. sejarah jember pancen luweh akeh sing lisan daripada yang tertulis, tapi sejarah yang tertulis pun kadangkala tergantung sapa yg berkuasa. jadi kita ya sering-sering aja kase info meski sethitik. alangkah baiknya kalo pemkab bikin banyak dokumenter ttg jember : Moch.Seroedji, dr.soebandi, dayatuk, seni budaya dll.

  23. yopi says:

    Akan terbit "Sejarah Masyarakat Kencong"

  24. faiz says:

    Wah.. sip tuh, Mas Yopi. Boleh deh di posting ke sini. Makin banyak kontribusi cerita/catatan sejarah tentang kota Jember, akan menambah wawasan kita tentang Jember tercinta.. :)

  25. Yopi says:

    Insya Allah Agustus ini terbit. Idea awalnya ketika aku menemukan makam wanita Londo perawan yang dibatu nisannya tertulis dead-nya tahun 1925 (makamnya di komplek Makam Sentono Kencong), artinya adanya Kentjong sebelum hari ulang tahun Jember yang diperingati setiap tahunnya. Data yang aku temukan ternyata menunjukkan Kencong telah ada sebelum tahun 1900. Aku bisa dihubungi di 081559560628. Makasih komentarnya….lanjut terus!!!

  26. riend says:

    yg dbhas koq cuman daerahjember ajah?yg laen dunkz…..kencong misalna?kn asyik toew??

  27. supali says:

    yo q'arekk kencong tok rek,arek jombang yo.

  28. Yuslifar Yunus says:

    Sebetulnya sdr Menak Jinggo ato Bhre Wirabhumi adalah pahlawan dari Jember juga.Cuma selama ini lebih banyak di exploitasi di Banyuwangi,sehingga sepertinya hanya berasal dari daerah tsb. Jangan salah lho . . . beliau ini adalah pahlawan Otonomi daerah. Beliau ini memperjuangkan wilayah Jember dan sekitarnya , yaitu daerah " Mandala " yang meliputi Jember sebagai pusat ( Wirabhumi ; Wirowongso , Wirolegi , Glagah Wiro ), Sadeng disebelah selatan ( sekarang Gunung Sadeng di Kec.Puger ),Kheta disebelah utara ( sekarang Tanjung Ketah di Kec.Besuki Situbondo ) , Lamajang di sebelah barat dan ,Blambangan di sebelah timur untuk menjadi daerah yang merdeka dari cengkraman pihak luar ( Majapahit ). Hanya saja,sejarah selama ini hanya bicara atau melihat dari sudut pandang Majapahit saja , tidak dari sebaliknya .

Leave a Reply