TELEVISI
Mohon maaf atas kalau mengganggu..
Walau jarang nonton karena waktu habis untuk bekerja dan bermacet ria di kota jakarta, selintas tayangan nya sudah membuat kami para orang tua resah. Rasa khawatir selalu membayangi, ketika kekerasan fisik dan mental, sinetron percintaan anak2 kecil berseragam secara vulgar tampil dilayar kaca, cerita mistik yang membuat syirik. Sungguh tayangan-tayangan tidak bermutu dan tidak menididik, bahkan membodohi. Memang ada TV yang berusaha untuk membuat yang tayangan yang baik…seperti Metro dengan Eagle award..dll, atau acara semacam cerdas cermat jaman dulu…
Tidak bisa dipungkiri bahwa menyuburnya kekerasan yang terjadi saat ini juga akibat pengaruh tayangan Televisi. Penetrasinya sungguh luar biasa
Orang “bijak..?” berkata:Ya…masyarakat kita kan sudah dewasa…sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang harus dihindari. Hmm masih saja berkilah…
Satu cuplikan berita Suara karya (4/1007);Menanggapi sorotan tajam Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terhadap tayangan sinetron di TV swasta, Ketua Umum Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) KAMI ILYAS balik menuding KPI belum maksimal pengontrolan terhadap tayangan-tayangan Televisi. Dari 10 TV swasta hanya 3 yang keuangannya mapan, 7 diantaranya payah, bahkan diambang kebangkrutan. Untuk 7 TV tersebut pasti lebih memilih acara yang “diminati” masyarakat yang memiliki rating tinggi.
Untuk orang tua macam saya dan istri yang harus mengayuh sampan berdua, kegelisahan makin menjadi ketika saat tertentu terdengar kata2 “aneh” dengan nada tinggi keluar dari si kecil. Setelah ditanya dari mana asal kata “aneh” tersebut, jawabnya televisi.
Kita semua adalah korban, apakah kita hanya bisa mengeluh seperti tulisan ini, atau kah kita bisa berbuat lebih….KPI hanya bisa menghibau, MUI begitu, bahkan Presiden sekalipun….
Kekuatan sebenarnya ada ditangan kita semua….Apakah perlu hari tanpa telivisi…bayangkan kekuatannya….berapa puluh bahkan ratus juta kerugian TV swasta….kita bisa menekan mereka….kita bisa membuat mereka membuat tayangan yang lebih baik….untuk anak kita, untuk masyarakat kita.. Ekos dan temen2 ..pls…kalian pasti punya ide yang lebih cemerlang..
Aku ingin membeli tv 72 inchi…Untuk bisa aku nikmati….Bersama sanak famili….Menyenangkan punya televisi…Lihat dunia yang berwarna-warni…Asal jangan acaranya basi….Cuma bikin keqi…Aku ingin muncul di tv…Buat acara sendiri…Bukan gossipnya selebriti…Harus yang lebih berisi (TELEVISI by NAIF)
Popularity: 8% [?]

Jamane berubah, norma2 juga berubah, kita2 yang sekarang sdh jadi orang tua geragapan harus bagaimana? Podo bingunge…. Pernah salah satu pembantu di rumah, sukanya nonton film India. Jadilah anakku yang saat itu belum sekolah jadi hapal bener dg Sakhrukan, Ranee Muhreje, Karina Kapoor. Waktu kutanya ganteng siapa dik, Papa atau Sakhrukan? Dengan jujurnya adik menjawab,” ganteng Sakhrukan dong…” Benar2 jawaban yang jujur.
Kamu gak sendirian Bro….banyak orangtua yang “waras” yang sangat-sangat khawatir dengan model sinetron-sinetron yang luarbiasa jahatnya itu…aku bilang”waras” karena gak dipungkiri untuk sebagian orangtua lagi sudah banyak yang kecanduan dengan sinetron yang gak ketahuan juntrungan ceritanya…sehingga saat anaknya ikutan nonton sinetron jahat itu dia cuek aja… kekuatan sinetron jahat ini sangat luar biasa..bayangkan ada sinetron yang sampe 8 tahun tayang (yang maen antagonisnya Leli Sagita) yang isinya sumpah serapah melulu,penganiayaan,peracunan,selingkuh,fitnah dan segala macam kejahatan luar biasa lainnya…atau ada ibu yang memisahkan anak kembarnya karena yang satu sehat dan yang satu sakit (pemainnya Meriam Bellina) gileee apa ya ada ibu kayak gitu……lho kok tau…lha habis iklan /trailer sinetronnya bersliweran terus….terpaksa ketelan juga tuh
Emang dah banyak himbauan dari MUI atau presiden sekalipun…namun ssungguhnya yang punya power dalam regulasi itu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk merekomendasikan pelarangan penayangan suatu acara TV..kenapa…karena orang-orang di KPI sendiri terpecah belah oleh berbagai kepentingan…ambil contoh… salah satu anggota KPI adalah Bimo A Sekundatmo..ini alumni FE UGM…dan banyak bergerak dibidang jurnalistik..pendiri Aliansi Jurnalis Independen dan dedengkotnya PRD…yang galaknya bukan maen saat masa ORBA dalam menyerang kebijakan pemerintah…ketika dia diangkat jadi anggota KPI…aku banyak berharap untuk bisa galak dalam membendung arus hedonisme dan pembodohan yang secara sustainable dikembangkan para pemilik TV..nyatanya apa…sampe sekarang dia menjadi Kancil Pilek..artinya dia tahu tayangan itu harusnya dilarang tapi alih-alih memprotes dengan galak seperti saat dia masih di AJi ato PRD dia malah pura-pura gak liat dan berlagak kayak Kancil Pilek yang gak mau mengungkapkan kebenaran dengan alasan sedang pilek…kenapa dia begitu?…karena dia selalu mengangungkan korps Wartawan…dan asal tau saja Karni Ilyas (Ketua asosiasi TV Swasta Indonesia) adalah dedengkotnya wartawan..dia lama malang melintang di TEMPO…so saat orangt-orang kayak Karni Ilyas ini defensive ketika diserang oleh publik yang tidak menyukai tayangan Pembodohan via Sinetron ato gossip…dia jadi kaku mulut…gak berani..ya karena dia “sungkan” entah karena kenal dengan orang-orang ATVSI ato telah “dijinakkan” oleh mereka..tapi yang jelas orang sekaliber Bimo Sekundatmo yang konon tak punya urat takut saat mengkritik kebijakan rezim Soeharto…tiba-tiba menjadi melempem persis Harmoko…apalagi anggota KPI lainnya…. Kalo ditanya kok diem aja..dia dan konco-konconya di KPI akan berkilah…mereka harus hati-hati dalam memberikan vonis penghentian sinetron ato acara jahat lainnya karena jangan sampe dituduh “mengekang kebebasab berekspresi”…sebuah apologi standar para pemuja kebebasan yang tak terbatas…
cara yang dilakukan gak akan pernah ada yang mudah Bro…Demonstrasi di DPR gak lagi manjur…menggalang opini publik lewat petisi di media massa sekarang dah gak ada tajinya…ya satu-satunya jalan adalah self defense….
Kita mesti tegaskan kepada Pembantu yang dirumah..tontonan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh untuk anak kita..kalo dilanggar pembantu bisa dilakukan punishment yang tegas..entah pemotongan gaji (kejem ya) ato dikeluarin (walo gak gampang cari pembantu) kalo tiba-tiba semua channel kompak menyiarkan pembodohan gimana?…apaboleh buat siapkan DVD kartun ato bisa gak ya TV channelnya di Lock pada saluran kartun aja?
kalo temen saya punya kiat juga…pembantu diberi TV sendiri dikamarnya…kalo dia mo liat gossip,sinetron pembodohan,ato pilem India harus dikamarnya….gimana kalo dia kecanduan nonton dan kerjaan gak beres…ya lagi-lagi reward and punishment jalan terus.. dia boleh nonton TV..tapi kalo kerjaan fak beres ya di punish…aku yakin masih banyak pembantu yang Waras dan gak berani menukar kenikmatan nonton sinetronnya yang cuman sesaat itu dengan konsekwensi resiko dipecat oleh majikan yang luar biasa baek kayak kalian berdua ya gak….
selebihnya..kita mesti pilih anggota parlemen yang waras-waras…sehingga perduli dengan bahaya laten sinetron jahat di TV kita itu…seandainya saja temen-temen kita ada yang diparlemen kayak Iwan Setiawan (PKS) ato yang lainnya mungkin saluran opini kita bisa cepet ya….ada yang nyalon untuk 2009?…tak dukung wes….
Saya bersyukur masih punya teman2 spt kalian yang masih berfikir untuk kebaikan generasi kita, saya juga yakin masih banyak diluar sana yang sepaham, tapi saya juga yakin kalo hanya self defense rasanya sulit. Saya takut nantinya kita seperti ada di sarang penyamun, atau bahkan seperti saat ini, dimana kita semua org baik2 hidup dalam teralis besi (dirumah), sedangkan mereka yang jahat berkeliaran.
Saya tidak tahu apakah ada sindikat penghancur generasi Indonesia, yang berdalih kebebasan, demokrasi, kemajuan teknologi, trend atau apa sajalah. Mereka sepertinya memang sedang memerangi kita. Para macan di masa lalu sudah jadi macan ompong, bahkan kucing rumahan, jadi apa lagi yg bisa diharapkan. Btw, Cos, apakah sebegitu kuatnya kebebasan, sehingga Presiden sj hanya bisa menghimbau, bukan memerintah jajaran terkait untuk segera action. Apakah beliau tidak pernah mendengar keresahan anak, saudara beliau, tetangga….atau terlalu sibuk….
Ancaman Hari tanpa TV…(seperti hari tanpa tembakau/tanpa kendaraan)? sebarkan melalui Mailist..frendster…communty group…?
Setuju banget sama kamu Lud..mungkin harus ada upaya dari yang berwenang untuk mengerem acara-acara yang mengumbar “kebuasan” anak-anak, remaja-remaja, orang-orang Indonesia. Kalau dulu kita terkenal sebagai bangsa yang ramah tamah (katanya TVRI..) kali ini tidak tercerminkan dalam sinetron-sinetron kita. Saya sendiri jarang sekali nonton sinetron, tapi anak saya sudah mulai kecanduan si Entong dan Eneng.. apalagi dalam satu hari bisa beberapa kali tayang. Saya cukup senang sewaktu di Jember karena TVnya bapakku gak bisa utk menonton sinetron ini.. Mungkin dalam beberapa hari ke depan saya akan terpaksa mengunci beberapa saluran TV favorit anakku sebagai bentuk pertahanan keluarga dalam menghadapi bombardir sinetron.
quote “Ketua Umum Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) KAMI ILYAS” Yang bener namanya Karni Ilyas
Kesalahan nama di dunia jurnalistik fatal akibatnya
Thanks, atas koreksinya. Mohon maaf atas kesalahan.
saya juga sudah mengadu beberapa kali ke KPI, tapi jawabnya ketus : yang ngadu bukan anda aja yang lain banyak. ya kalo banyak kan harusnya ditindaklanjuti bukan pengaduan baru malah diabaikan.
http://www.aiki.tk akan bergabung pada penyelamatan anak indonesia bersama anda.
Bagaimana kalau kita STOP NONTON TV DARI MAGHRIB – JAM 09 MALAM