Archive for October 7th, 2007

Antara meminta dan memberi

October 7th, 2007

Lebaran tinggal menghitung hari. Seperti sudah lazim dan menjadi budaya (sejak kapan ya?), kebiasaan mengirim parcel dan bingkisan lebaran tampak marak di mana-mana. Larangan pemerintah untuk mengirim parcel kepada para pejabat, tampaknya hanya membuat tiarap sesaat saja, karena banyak pihak yang berkepentingan dengan berkirim parcel. Mulai dari pengusaha parcel, produsen mamin dan pernak-pernik parcel, para pejabat, pengusaha dan jaringannya yang memiliki banyak kepentingan.

Saya tidak mengerti dan sering bertanya sendiri, apakah dengan berkirim parcel menunjukkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang mempunyai budaya untuk saling memberi atau budaya untuk meminta atau budaya tidak punya malu?

5 hari yang lalu, klinik tempat saya bekerja mendapat surat resmi dari kelurahan dan koramil setempat (kebetulan lokasinya persis di depan klinik saya), yang meminta secara terus terang untuk mengirim bingkisan lebaran buat kepala desa dan perangkatnya. Bingkisan harus sudah diserahkan paling lambat tgl 5 oktober di kelurahan. Tentu saja permintaan tsb. ditolak mentah2 oleh bos saya. Begitu juga surat dari koramil, beberapa hari setelah surat dikirim, seorang anggota koramil datang ke tempat saya untuk menanyakan respon surat. Respon dari bos saya idem.

Hal serupa juga dialami oleh perusahaan tempat suami saya bekerja (dan mungkin juga banyak perusahaan lain). Adalah hal yang rutin, jika setiap tahun perusahaan2 selalu diminta oleh kelurahan, kecamatan, polsek, koramil setempat (dengan dalih untuk keamanan lebaran) untuk mengirim bingkisan bagi komandan dan aparatnya serta lurah, camat dan perangkatnya. Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan berlaku sampai sekarang.

Kalimat apa yang tepat untuk kasus di atas?

Bukan saya hendak mendiskreditkan pihak2 tertentu dengan menuliskan nama instansi di atas. Tapi suka tak suka, mau tak mau itulah yang terjadi di tengah-tengah kita. Jadi tidak perlu ada yang marah atau kebakaran jenggot. Sekedar untuk tahu dan menjadi renungan saja. Pun juga tidak perlu kita menggeneralisasi kondisi itu, karena saya yakin selalu ada perkecualian di dunia ini.

Buat yang memang ingin berbagi rejeki atas nikmat yang sudah diberikan Allah, mungkin berbagi dengan orang-orang yang dekat dan ada di sekitar kita lebih terasa nikmatnya. Mungkin kepada bapak pengangkut sampah yang sudah bekerja menjaga kebersihan sekitar rumah, penjaga keamanan yang ada di lingkungan rumah, OB di tempat kerja yang dengan berpeluh-peluh membuat ruangan kerja kita jadi bersih dan wangi, penjual sayur keliling, atau abang becak yang mengantar jemput sekolah anak2.

Jadi, kalau parcel diidentikkan dengan saling memberi dan berbagi, yang hanya diberikan saat lebaran. Ada hal lain yang lebih bernilai dan lebih langgeng dengan berbagi yang bisa kita berikan setiap saat tanpa perlu menunggu lebaran tiba. Bukankan senyum, sapaan ramah dan tulus, sekedar berbincang sejenak dengan orang-orang yang dekat dan ada di sekitar kita adalah hal indah yang bisa kita lakukan sehari-hari?

Selamat bersiap-siap mudik, jaga kesehatan buat semuanya, maaf kalau ada kata yang tak berkenan. Selamat lebaran.

Popularity: 6% [?]