2 hari terakhir berita Jember Fashion Carnaval (JFC) banyak ditayangkan di Tivi, disamping di koran. Tahun lalu, Cak Amal dan Cak Firman pernah berkomentar agak panjang dan serius tentang JFC ini dari sudut pandang beliau berdua ( lupa, posting nomer berapa, Cak ? )
Dalam tiap bulan Agustus, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, kita selalu disibukkan oleh berbagai kegiatan, baik di sekolah atau pun di kampung tempat kita tinggal. Mulai dari berbagai lomba tingkat anak seperti lari kelereng, mengenakan baju hingga yang antar kampung tingkat dewasa berupa tanding voli atau sepak bola.
Sementara di sekolah pun kita tidak lepas dari kegiatan senada, baik yang berskala antar kelas atau antar sekolah, berupa gerak jalan lingkot 5 - 7 km, karnaval tingkat TK, SD sampai SLTA. Sedangkan untuk umum kita kenal karnaval umum dan “gong”-nya peringatan 17-an yaitu “Tajem”..
Semua ini adalah upaya untuk memeriahkan peringatan 17- Agustusan.
Barangkali JFC merupakan satu bentuk penyegaran, lepas dari semua kontroversinya, dari beragam bentuk pawai yang pernah ada di kota Jember. Kalau saat ini JFC bisa menarik antusiasme dan kreativitas masyarakat kota Jember, layaklah hal itu menjadi berita.. Jember adalah kota “kecil”, tapi menyimpan potensi besar. Inilah potensi terselubung yang perlahan tapi pasti menjadi sesuatu yang patut diperhitungkan..
JFC bisa dipandang sebagai bentuk “kegerahan” sebagian kalangan komunitas di Jember, yang sudah bosan dengan menu yang “itu-itu” saja menjelang Agustus. Mungkin, mereka berpikir bahwa di era yang lebih bebas dan demokratis (?) ini, perlu perwujudan ide yang lebih bebas ( tapi bertanggung jawab, kan ) dalam berkreasi. Perlu warna baru untuk mengisi kemerdekaan… Akhirnya JFC tercetus dan terwujud hingga kini telah mencapai tahun ke-6 pelaksanaannya.
Acung jempol untuk kerja keras segenap panitia, semoga tahun-tahun mendatang selalu ada ide segar dan tidak terjebak dalam rutinitas belaka dalam mewujudkan JFC tersebut.
Popularity: 12% [?]


Kalo membaca secara sosiologis…sebenarnya ini adalah bentuk perlawanan Komunitas Fashion Designer terhadap “kekurangberuntungan Geografis” yang mesti diterima Jember dan mesti rela berada dibawah bayang-bayang kota besar seperti Jakarta+Bandung+Jogja+Surabaya+Bali….dalam hal sebagai pencetus trend fashion dalam wujudnya sebagai bagian dari Arts…ketidak beruntungan Jember diperparah dengan tidak mampunya para Birokrat dan Top Leader yang memimpin Jember sejak jaman daholoe sampai jaman kiwari untuk membuka isolasi geografis terhadap Jember ….dari alih-alih punya bandara…yang bisa mereka lakukan sebatas menambah jumlah perjalanan KA dengan melauncing CANTIK…..ya sudah Jember akan terus begitu tanpa keterbukaan isolasi via udara…
tapi “pesan” perlawanan itu dah diterima kok….itulah bentuk ijtihad mereka untuk bisa exist dan membuka Jember dikenal di dunia….sekontroversi apapun kayaknya masih bisa masuk frame Budaya Timur….melihat JFC ingat satu episode dalam Novel semi dokumenter spektakuler karya Andrea Hirata “Laskar Pelangi”..ini novel bagus sekaleeee..kowe-kowe orang harus pada baca ne…tentang perlawanan anak-anak SMP Muhamaddiyah Belitong terhadap dominasi anak-anak kaum elite di SMP Nasional Belitong …melalui sebuah performing act nan dahsyat di Acara Karnaval 17 agustusan …dengan tekad yang sama PERLAWANAN SOSIOLOGIS terhadap hegemoni pihak yang berkuasa melalui seni karnaval….
jfc?? he he he mimpi kali?? pak bupati jalal buat proyek pasar di desa kalisat gak mari mari? ganggu fasilitas umum dan ibadah lagi